Gadis Kecil

Langit seketika runtuh. Duniaku gelap, redup tanpa cahaya. Sepulang sekolah ku bulatkan tekad untuk mengurung diri. Tak peduli sekeras apapun teriakan Ibu memanggil dan menggedor-gedor pintu kamarku. Dengan nada khawatir ia terus memintaku untuk membukakan pintu. Sungguh, aku ingin mati!

Bagaimana tidak? Sejak balita, seingatku tak pernah aku merasakan hidup sehat. Tubuhku tak pernah merasakan bagaimana nikmatnya segar-bugar. Tak pernah aku bisa berlarian hingga puas seperti teman-teman seusiaku, aku tak pernah terlibat dalam permainan petak umpet dengan mereka karena tubuh keparat ini telah membatasi ruang gerakku untuk bermain dalam permainan yang membutuhkan banyak tenaga seperti petak umpet. Tak pernah kurasakan bahagia.

Pernah suatu kali kupaksakan untuk ikut bermain tak peduli selemah apapun tubuhku, tapi hasil yang buruk malah kudapat. Di tempat persembunyian ketika dalam suatu permainan petak umpet, aku merasakan tubuhku lemah, napas berat dan sesak, kepalaku terasa nyeri bukan main. Aku tak berdaya namun terus berusaha untuk tetap bertahan di balik karung-karung besi rongsokan milik tetangga rumahku agar tak tertebak oleh temanku yang sedang jaga. Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Ketika kubuka kedua mata, kulihat sebuah langit-langit putih pucat. Ternyata aku sedang berada di sebuah kamar. Kamar rumah sakit. Kudapati tubuhku yang sudah diselimuti kain hijau muda, dan baru kusadari ketika itu aku berada di ruang I.C.U. Ya Tuhan, sejahat itukah Kau ciptakan aku yang hanya untuk merasakan hal sesakit ini? Apa yang Kau lakukan padaku? Mengapa aku tak diberi kesempatan untuk bisa bermain bersama teman-teman sebayaku? Bagaimana caranya bisa berlari sedemikian kencang seperti Luna si jago petak umpet? Atau melompat indah selincah Emily si ratu loncat tali karet? Dan mengapa aku tak pernah sehebat Dave yang mampu memanjat pohon cherry di halaman rumahku. Tuhan, Kau tak adil! Mengapa harus aku yang seperti ini?

Waktu itu, berkali-kali aku menggugat Tuhan, tapi apa? Pikiran ini seolah penat dengan hujatan. Tak ada hasil. Nihil. Aku tak pernah mendapat jawaban Tuhan atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku kecewa.
Sepanjang hari kulewati dengan lemah, bahkan kadang-kadang hingga jatuh pingsan. Aku sakit. Sungguh sangat tersiksa hidup dengan tubuhku yang penuh penyakit ini.

“ Tok-tok tokk! Lily, biarkan ibu masuk. Ada apa dengan mu.? Buka pintunya..”,
Terdengar ibu masih dengan gigih membujukku agar keluar kamar. Sesekali kudengar ia terisak. Tapi aku tak bergeming.

“Kalaupun kau tak mau keluar, setidaknya bicaralah! Ibu ingin memastikan kau tak apa-apa? Ku harap kau tak pingsan dan baik-baik saja”, teriak Ibu dengan nada yang sangat khawatir.

Aku masih di sudut kamar, tepatnya di sisi jendela. Ku genggam erat tirai merah muda dengan tatapan kosong. Melihat pemandangan di luar rumah dengan hampa. Senja mulai turun, langit mulai menutup tirainya diam-diam. Matahari di ufuk barat pelan-pelan mulai mengundurkan diri seperti pencuri, memulai hari di muka bumi yang lain. Angkasa sore tampak sendu, memerah merona dengan lembayung hitam yang siap mengakhiri jingga. Terlihat burung-burung kembali pulang dengan sayap lemah. Awan-awan kelabu berbentuk gulali bergerak dan berarak dipermainkan angin. Wangi udara yang membawa aroma rumput di senja hari tercium semerbak diiringi lantunan adzan maghrib yang bergema dari puluhan menara masjid yang tersebar seantero kota Jakarta.

Diary, satu-satunya teman bisuku saat ini. Kucoba tuk menuliskan apa yang kurasa dengan berurai air mata. Menggoreskan kata demi kata lewat pena yang ku genggam kurasa lebih baik daripada aku mematung meratapi nasib di muka jendela.

Ibu, taukah kau bagaimana perasaanku saat ini setelah kutahu penyakit apa yang ku derita selama ini? Mengapa kalian, seisi rumah ini merahasiakan ini dariku? Apakah aku tak pantas tahu penyakit biadab ini, padahal jelas-jelas ini penyakitku sendiri? Mengapa kalian begitu tega membiarkanku tersiksa dengan HIV yang ku bawa semenjak bayi. Hampir sebelas tahun sudah aku membawa penyakit ini dengan susah payah! Teganya kalian membuatku sangat tersiksa. Melihatku tanpa belas kasihan. Mengapa kalian tak bunuh saja aku sebelum aku beranjak dewasa? Sehingga Ibu tak pernah melihatku kesakitan seperti ini setiap waktu! Sejak aku tahu penyakitku ini, rasanya percuma aku hidup. Aku sudah tak punya apa-apa. Teman-teman, sahabat, impian dan cita-cita, semuanya musnah!!! Jika memang mati lebih baik bagiku, apa lagi yang kalian tunggu? Apa yang akan kalian harapkan dari anak tak berguna sepertiku? Kalau pada akhirnya aku akan mati mengenaskan teraniaya HIV, yang mungkin kini sudah menjadi AIDS.
Ku tutup cover buku diary-ku dengan murka. Terlintas sejenak dalam benakku keindahan-keindahan surga, mungkin aku dapat menghuninya dalam waktu dekat ini. Aku bisa bermain sepanjang hari tanpa lelah, bisa menjalani hari-hariku dengan sempurna serta memiliki banyak teman dan sahabat yang cantik seperti bidadari. Dan yang terpenting, kupikir di surga tidak ada HIV.

***

Aku membuka mata. Tercium aroma angin pagi yang berhembus dari jendela. Dingin. Tubuhku terasa lemah. Sangat lemah. Semalaman aku belum makan, perutku terasa sakit seperti tertusuk serpihan cangkang-cangkang siput. Tulang-tulangku gemeretak, karena aku terlelap dalam posisi duduk, tertelungkup di meja belajar. Ku lirik jam analog di sudut meja dengan mata berat dan perih, pandanganku kabur tapi tetap bisa kulihat walau samar, saat ini pukul 07.03.

Ya Tuhan, kupikir Kau mengabulkan harapanku semalam, kuingin secepatnya menjadi penghuni surga. Ternyata aku masih bersemayam dalam raga rusak ini. Raga tak berguna, yang selalu membuatku sakit. Kusadari kepalaku terasa berat, seperti terbentur aspal setelah jatuh dari bianglala yang sedang berada di putaran paling atas. Tulang-tulang ini terasa remuk luluh lantak. Aku tak berdaya. Ku lihat segelas air disudut kamar. Diatas meja sudut dekat pintu itu, telah berdiri lampu kamar yang di sisi kirinya terdapat gelas putih bergambar monokorobo yang selalu disiapkan ibu bersama buntalan-buntalan obat yang setiap hari harus rutin ku minum. Air itu menggodaku untuk meneguknya, agar aku bisa menyiram kobaran api dalam tenggorkan ini.

Dalam keterbatasanku, kucoba bangkit. Tubuh yang ringkih ini, meski beratnya hanya beberapa kilo tapi terasa sukar ku tegakkan. Tenagaku seperti habis terkuras bagai seorang atlet lomba lari yang baru memenangkan marathon sepanjang ratusan kilometer. Ingin rasanya ku teguk beberapa gelas air, pahit rasanya mulut ini. Tenggorokan yang kering terasa seperti terdapat duri-duri bersarang di kerongkonganku. Dengan susah payah aku bangkit, akhirnya berhasil berdiri dengan tumpuan kedua tanganku pada salah satu sisi meja. Kedua kakiku bergetar, lemas tak dapat menahan tubuhku. Kamarku seolah berputas-putar, pendanganku terang redup, berkunang-kunang. Akhirnya kurasakan tubuhku terhempas dan terbanting ke lantai dengan kasar, kurasakan linu tulang pinggangku yang membentur lantai keramik cokelat kamarku. Sakit tak tertahan, aku mengerang.

Siapapun!

Kumohon tolong aku!!!!!

***

Aku kembali tersadar, pada sebuah kamar yang tak asing. Aroma berbagai macam obat menyengat hidungku. Selimut hijau ini lagi, langit-langit putih itu lagi, dan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan ini seakan menjadi saksi penderitaanku. Entah sejak kapan aku berada di rumah sakit, aku tak ingat. Namun masih teringat ketidakberdayaanku di suatu pagi. Sepertinya ada seseorang yang mendobrak pintu kamarku kala aku tak sadarkan diri kemudian membawaku ke rumah sakit. Pasti Ibu, ya pasti. Ibu selalu menggagalkanku untuk bermigrasi ke surga. Ada sedikit rasa sesal mengapa mata ini masih bisa terbuka, padahal aku menginginkan sebaliknya; tertutup rapat selama-lamanya.

Sejak kutahu penyakit apa yang menjangkiti tubuhku ini rasanya selera hidupku tak ada lagi, sungguh. Kuingat sejak dulu aku menganggap bahwa aku sama seperti teman-teman sesusiaku yang kutemui di sekolah, taman-taman kota, ataupun dengan Emily sepupuku sendiri. Tapi, rasa ingin tahuku mencuat begitu saja setelah aku mulai beranjak dewasa, tepatnya belum dewasa. Bulan Juli tahun ini aku baru genap berusia 11 tahun. Kecurigaanku pada diriku sendiri bertambah parah saat aku lebih sering pingsan ataupun tak terhitung telah berapa kali mengalami demam yang luar biasa hebat. Aku memang berbeda, setiap hari beberapa butir obat harus kuhabiskan. Beberapa kali dalam seminggu, ibu rutin mengantarku ke rumah sakit. Bahkan rumah sakit lebih sering kukunjungi daripada sekolah. Saat kutelpon Emily dan kutanya sedang apakah ia ketika aku berada di rumah sakit, dengan nada gembira ia menjawab sedang berlatih di tempat les tari baletnya untuk pementasan berikutnya. Dan saat kutanya Ibu tentang Dave, Ibu bilang ia sedang bermain sepeda mengelilingi komplek perumahan bersama ayahnya.

Keparat! Aku tak terima semua ini.

Maka dari itu, ketidakterimaan akan hidupku inilah yang menguatkanku untuk mencari sendiri tentang apa sebenarnya yang terjadi padaku. Percuma rasanya bila aku bertanya pada Ibu, ia malah mengalihkan pembicaraan dan terus meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Bu asal kau tahu, aku ini bukan anak kecil lagi yang terus menerus kau bodohi. Aku juga perlu tahu penyakitku sendiri sehingga aku dapat menyiapkan segalanya di hari terakhirku nanti.

Kemarin lusa, tepatnya di hari minggu siang itu adalah awal mula terpuruknya aku dengan kenyataan pahit yang baru ku ketahui. Awalnya aku percaya pada Ibu bahwa aku akan baik-baik saja, tapi rasanya hati ini berkata lain. Pasti ada yang Ibu sembunyikan dariku. Terlalu naif dan tak masuk akal bila ibu terus meyakinkanku untuk tatap tenang namun keadaan tubuhku semakin memburuk. Wajahku nampak tua, tubuhku kurus, habis tak tersisa bagai tulang diliputi kulit. Belum lagi kondisi kesehatanku yang semakin parah ditandai dengan seringnya aku tak sadarkan diri. Serta tak mengerti pula aku pada luka lecet di lutut kananku akibat terjatuh ketika berlarian di taman semenjak dua pekan lalu, mengapa belum sembuh? Apa proses penyembuhan luka selama itu? Sementara Dave saja yang terjatuh dari pohon cherry dan terluka di bagian yang sama, dalam waktu dua hari lukanya sudah mulai mengering.

Lalu ada apa pada diriku? Mengapa seperti ini? Dan jawaban itu segera ku ketahui setelah aku membuka lembaran-lembaran dari rumah sakit yang di simpan Ibu pada lemari pakaiannya. Kuberanikan diri mengeledah kamarnya dan berharap mendapatkan petunjuk akan penyakitku. Ketika itu Ibu sedang pergi ke pasar. Aku menemukan dokumen-dokumen yang dikumpulkan Ibu tentang penyakitku.

Betapa terkejutnya aku membaca lembar demi lembar yang menjelaskan bahwa aku mengidap HIV! Beberapa brosur dan pamflet mengenai rumah sakit khusus rehabilitasi HIV/AIDS pun sempat ku temukan di antara berkas-berkas itu. Ya Tuhan, benarkah yang terjadi pada diriku? Apa benar ada virus HIV dalam tubuhku yang semakin hari semakin bertambah banyak dan menggerogoti tubuh ini? Aku berusaha berpikir positif namun tak mampu, karena mustahil berkas-berkas itu tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Aku tak berhenti sampai disitu, seketika aku berlari ke kamar dan memeriksa obat-obatku yang harus kuminum rutin setiap hari. ARV. Kapsul-kapsul besar itu ternyata adalah obat untuk mengurangi pertumbuhan virus HIV. Bukan mengobati!! Itu artinya percuma aku mengkonsumsi obat dengan rutin sedangkan mustahil bagiku untuk sembuh!

Aku kecewa dan menangis sejadi-jadinya.

Ketika Ibu pulang aku dengan cepat membereskan semuanya. Berpura-pura tidak ada sesuatu hal besar yang telah terjadi. Aku diam saja, namun perasaanku sangatlah kacau. Seketika semua impianku hancur lebur tak tersisa. Namun dalam kegalauanku, satu-satunya raut wajah yang datang dalam benakku adalah Emily. Ya, Emily sepupu sekaligus sahabatku. Aku akan ceritakan berita besar mengenai penyakitku ini padanya di sekolah esok hari. Emily, taukah kau? Aku butuh pelukanmu. Kau sahabat terbaikku. Sepanjang malam aku tak dapat memejamkan mata. Tak sabar memeluk Emily dalam tangis, aku tak mampu memendam kesedihan ini sendirian. Bisa saja sebenarnya aku langsung bertanya pada Ibu. Tapi, rasanya itu tak mungkin karena Ibu pasti akan menanyakan darimana aku mendapatkan info itu. Aku tak mau mengecewakannya karena telah lancang menggeledah lemarinya seperti pencuri. Perasaan Ibu pasti akan sangat hancur mengetahui putrinya berperilaku layaknya perampok. Aku tak mau Ibu kecewa, dan maka dari itu tak mungkin aku menanyakan hal ini langsung padanya.

Keesokan paginya setelah Ibu melambaikan tangan dan meninggalkanku di gerbang sekolah, aku langsung terbirit-birit menuju kelasku. Kelas 5. Dengan tergesa aku mencari-cari Emily. Aku masuk kelas dengan terburu, dan ternyata masih sepi. Hanya ada Dylan dan Ryan yang baru datang. Ku rasa aku terlalu pagi tiba di sekolah hari ini. Aku kemudian duduk di kursiku dengan lemas. Sambil menunggu kedatangan Emily, aku membaca komik Sinchan dengan tenang, meskipun dalam hati aku menahan rasa kepedihan yang dalam. Aku belum tahu banyak tentang penyakitku, yang ku tahu saat itu bahwa HIV tak mungkin disembuhkan karena belum ada obatnya.

Hingga bel masuk berdentang, Emily belum juga datang. Lalu guruku masuk dan aku langsung bertanya padanya.

“Bu Sarah, apakah Emily pagi ini mengirimmu surat dokter atau ia bilang sebelumnya akan izin hari ini?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

“Tidak keduanya Lily, ia tadi bersama ibunya datang pagi-pagi sekali ketika kau belum datang. Emily akan mewakili sekolah dalam pementasan tari balet di tingkat provinsi. Dia juga titip salam untukmu”, kata Bu Sarah dengan lembut.

Aku diam saja. Kemudian Bu Sarah melanjutkan perkataannya,
“Tapi kau tenang saja Heavenly Shine, teman sebangkumu itu akan kembali kesekolah nanti sekitar tiga jam lagi dan akan mengikuti pelajaran pukul 10”, lanjutnya.

Aku mengangguk. Penjelasan Bu Sarah di akhir kalimatnya menciptakan senyum di wajahku. Kemudian aku kembali duduk, sementara Bu Sarah mulai membuka pelajarannya.

***

“Hah? Apa aku tidak salah dengar?”, Emily tak percaya akan penuturanku.

“Tidak, aku serius Emily. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan sekarang. Aku merasa tak ada gunanya hidup!”, jelasku padanya. Airmataku mulai mengalir tanpa henti.

“Lily, hmmm… maafkan aku….”, ungkap Emily dengan terbata. Raut wajahnya yang putih berubah memerah penuh dengan keterkejutan.

“Minta maaf? Untuk apa Emily?? Tolong bantu aku sahabatku…”, aku memegangi pundak Emily berharap ia memberiku pelukan.

“Tidak! Kau? Aku sungguh tak percaya!! Heavenly Shine, maafkan aku… Aku harus pergi!”, Emily berkata sambil melangkah mundur menjauhiku. Dengan wajah tegang dan ketakutan ia meraih tas selempangnya dan kemudian berlari hingga menghilang di balik pintu.

Aku masih tak percaya Emily pergi. Seperti ketakutan. Aku ternganga. Perasaanku hancur berkeping-keping, dadaku mulai sesak dipenuhi rasa kecewa. Emily sahabatku, tak mau menerimaku dengan keadaan seperti ini? Lalu pada siapa lagi aku mengadu. Emily aku tak percaya kau akan seperti ini, meninggalkanku seorang diri.

Tubuhku yang lemas memaksaku untuk duduk pada kursi. Tatapanku masih kosong, sambil terus terisak. Dikelas yang sudah kosong ini aku merasa kesepian. Merasa duniaku telah hilang. Aku merasa menyesal memberitahu semua ini pada Emily. Ku lepaskan kuncir duaku dengan paksa, ku acak-acak rambut sebahuku sambil menjerit. Aku tak terima semua ini. Ibu….! Cepatlah datang dan bawa putri tololmu ini pulang.

Sesampainya dirumah, bayangan-bayangan kebersamaanku dengan Emily kembali muncul. Sahabatku satu-satunya sejak kelas 2 SD semenjak aku pindah sekolah ke sekolahnya itu kian jelas bahwa ia tak tulus bersahabat denganku. Bagaimana mungkin Emily yang ku kenal baik, penuh pengertian, dan penyayang itu tega meninggalkanku ketika aku tengah diujung penderitaan. Dadaku seakan sesak bila mengingat wajahnya.

Kau jahat Emily!!

Sudahlah!

Aku mati saja.

Ibu membuka pintu kamar rumah sakit, membuyarkan lamunanku tentang kejadian kemarin. Setelah aku melirik kedatangannya yang membawa beberapa bungkusan makanan, aku kembali menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

“Lily, syukurlah kau sudah sadar”, kata Ibu sumringah menghampiri kemudian memelukku bahagia.
Aku hanya diam.

“Sekarang apa yang kau rasakan? Apa kau lapar?”, tanya Ibu khawatir.

“Tidak!”, jawabku dengan kesal.

“Kau harus makan ya, ibu sudah bawakanmu nasi tim kesukaanmu, lalu setelah itu kau minum obat supaya sembuh dan ….”,
“Tidak Ibu!!! Sudah cukup kau membodohiku terus-terusan seperti ini! Aku sudah tahu segalanya tentang penyakitku! Ya aku tau H.I.V!!?!”, aku mulai sulit mengontrol diri.

Kulihat Ibu mulai menangis, matanya memerah dan napasnya terdengar berat.

“Mengapa kau membawakanku obat dan makanan bukannya racun tikus atau semacamnya supaya aku dapat cepat mati dan meninggalkan penyakit ini! Aku tahu HIV tak mungkin meninggalkanku, tapi aku mau meninggalkannya! Aku yang mengalah! Dengan cara aku harus mati”.

Napasku agak tersenggal. Sekelebat bayangan wajah Emily hadir dan membuatku sesak.

“Aku tak ingin hidup lebih lama! Percuma Bu, aku sudah tak punya apa-apa. Sahabatku sudah tak mau menerimaku lagi. Mungkin teman-temanku yang lain juga sudah tahu. HIV itu menular, kau tahu itu kan? Lantas mengapa kau masih disini Bu! Tinggalkanlah aku. Bagaimana kalau nanti kau tertular dan kau juga ikut mati??? Aku tak mau Ayah menjadi duda! Kau harus menjaganya di hari tuanya nanti. Demi aku!! Meskipun ia jarang pulang dan lebih memilih sibuk dengan bisnis gilanya di luar sana, tapi percayalah ia mencintaimu dan akan pulang suatu saat karena merindukanmu!!”,

Aku merasa tak punya tenaga lagi untuk bicara. Tenagaku habis. Aku merasa diriku lemah sekali.

“Lily, ternyata kecurigaanku benar. Kau sudah tahu, aku sudah yakin pasti hari ini akan terjadi dimana kau akan merasa tak terima dengan keadaanmu..”, Ibu bicara sambil memelukku, air matanya tak berhenti mengalir.

“Lily, kau harus tahu dan mungkin ini memang sudah saatnya. Kau terlalu negatif dengan pemikiranmu sendiri. Aku akan membantumu keluar dari masalahmu. Lily, rahasia besar dalam hiduku adalah bahwa aku…..”, Ibu tak melanjutkan kata-katanya. Ia malah terisak semakin keras.

“Bahwa apa Ibu? Katakan saja. Selagi ada waktu”, jawabku lemah.

“Aku telah membohongimu selama 10 tahun ini. Sebenarnya aku ini bukan Ibumu Ly… Aku adalah tetanggamu dulu. Ayah dan Ibumu telah wafat saat kau masih bayi. Mereka terkena HIV/AIDS. Sangat merasa berdosa bila aku menjadi tetangga terburuk bila aku membiarkanmu seorang diri waktu itu. Aku mengadopsimu. Kemudian aku merawatmu sepenuh hati, berharap kau tak terjangkit HIV juga seperti kedua orang tuamu. Tapi ternyata virus HIV telah ditularkan ibumu sejak kau dalam kandungan. Kau perlu tahu, bahwa suamiku yang semula kau anggap sebagai ayah bukannya ia jarang pulang, tapi kami memang telah bercerai sejak aku mengadopsimu. Ia takut tertular oleh penyakitmu. Ia menyuruhku untuk membuangmu, tapi aku tak sampai hati. Naluri keibuanku muncul begitu saja dengan mempertahankamu. Lily, aku di vonis dokter untuk tidak bisa punya keturunan seumur hidupku atau dalam kata lain aku ‘mandul’. Kau pasti pernah mendengar kata ‘mandul’ di sekolah melalui pembahasan mata pelajaran IPA. Aku memang mencintai dan menyayangi suamiku lebih dari apapun, untuk itu aku mempertahankanmu walaupun sangat merasa kehilangan setelah ia menceraikanku. Kuingin dia menikah dengan wanita lain dan mempunyai anak kemudian hidup bahagia. Karena aku menyadari, bila terus bersamaku ia tak pernah akan merasa bahagia karena aku tak akan pernah bisa memberinya keturunan. Terbukti, kini ia telah menikah dengan wanita Bali dan mempunyai tiga orang putra gagah dan seorang putri mungil jelita. Foto keluarganya sempat ia kirim kepadaku lewat e-mail. Aku sempat merasa patah hati. Tapi lagi-lagi kau telah menjadi alasan satu-satunya agar aku bertahan hidup dan mencoba merasakan kebahagiaan juga seperti yang dirasakan oleh mantan suamiku di Pulau Dewata sana. Dengan hadirnya dirimu, Heavenly Shine, aku cukup bahagia karena bisa di panggil ‘ibu’. Itu jauh lebih buruk bila aku tak mengadopsimu dulu, seumur hidup aku tak akan pernah di panggil Ibu oleh siapapun. Untuk itu Lily, bertahanlah. Bertahanlah hidup sayang, setidaknya untukku. Untuk kedua orang tuamu di surga sana. Kau harus memberi kelonggaran waktu untuk orang tuamu menyiapkan kamar istimewa sebelum kau datang ke surga. Aku sungguh menyangimu Lily, lebih dari apapun. Apalagi setiap kau memanggilku dengan sebutan ‘ibu’”,

Ibu, maksudku ibu angkatku berbicara dengan penuh kelembutan. Hatiku tersentuh tiap melihat ia berbicara dalam tangis namun sesekali memberiku senyuman. Aku tak sanggup berkata-kata. Hanya dapat melihat wajahnya yang mempesona. Oh Ibu, kau sungguh berhati emas. Entah mengapa rasanya aku tak ingin cepat mati dulu. Aku ingin di sisa hidupku walaupun sejanak mampu membuatmu bahagia. Ingin rasanya aku membalas pengorbanannya untuk rela ditinggalkan kekasihnya demi aku. Ya Tuhan, berikanlah sisa umur yang bermanfaat untukku. Jangan kau ambil nyawa ini sebelum aku membuat Ibu tersenyum bahagia. Karena seingatku, aku lebih sering membuatnya kecewa.

“Ibu…”, panggilku lirih.

“Kenapa sayang, apa yang kau butuhkan??”, jawabnya dengan lembut penuh perhatian.

“Aku ingin makan dan setelah itu minum obat”, pintaku dengan tersipu.

“Dengan senang hati, tuan putri”,

Ibu menyuapiku nasi tim dengan penuh kelembutan. Ya Tuhan, mengapa kau selalu membungkam mulutnya untuk tidak menceritakan hal ini lebih awal. Tapi tidak apa-apa, aku sangat merasa lebih bersemangat hidup dan sangat bahagia sekarang.
“Heavenly Shine, taukah arti namamu?”, tanya Ibu tiba-tiba.

“Cahaya surga, setahuku itu yang pernah ku translate menggunakan kamus bahasa Inggris-Indonesia, betul tidak Bu?”, tanyaku penuh manja.

“Ya, dulu namamu Jasmine tapi ku ubah, karena kurasa itu tak cocok. Bunga melati meandakan kematian, dan ku tak ingin kau mati. Aku ingin kau suatu hari menjadi cahaya untukku, dan kurasa kau sudah menjadi itu mulai saat ini”, tutur Ibu dengan tertewa mungil.

“Ibu bisa saja.. terimakasih Bu. Nama yang Indah”,

“Oh iya aku boleh minta minta sesuatu darimu?”,

“Tentu Ibu, apakah itu? “, jawabku antusias.

“Aku minta waktumu untuk bisa menemaniku ke Bali akhir bulan ini. Mantan suamiku mengundangku di acara khitanan putranya yang ketiga. Aku juga ingin mencubit pipi mungil sang puteri kecil yang baru saja lahir tiga bulan lalu. Mereka sudah ku anggap sebagai putra-putriku sendiri. Kamu mau kan?”, pinta Ibu dengan wajah berharap.

“Tentu saja Ibu, aku akan menemanimu dengan senang hati”.

Kami tenggelam dalam pelukan.

***

Cerpen ini ku dedikasikan untuk anak-anak ODHA (Orang dengan HIV & AIDS)

Ponpes Sulaimaniyah Rawamangun,
2013

@SururMasuro

Advertisements