Di sudut bumi, menjelang senja-16 Februari 2014
Teruntuk sahabatku [Heavenly Shine]
Di surga sana..

Salam kehilangan,
Lily, bagaimana kehidupanmu di surga? Aku sangat rindu. Aku selalu menunggu kabar darimu… Tapi, mengapa tak pernah sekalipun kau membalas surat-surat dariku? Ini suratku yang ke tujuh belas. Hmm apakah di surga tidak ada pena? Bukankah aku sudah pernah menyertakan sebuah pena pada suratku sebelumnya? Lalu apa lagi yang membuatmu tak membalas suratku?

Atau jangan-jangan kau tak memiliki kertas? Yasudah, kalau begitu kau bisa memakai halaman kosong di balik suratku ini. Aku harap kau membalasnya. Lily, sejak kepergianmu 6 bulan lalu akibat HIV-AIDS aku tak berhenti mengirimkan beberapa surat yang kuterbangkan ke langit lewat balon udara. Setiap tanggal 7, 17, dan 27, aku selalu mengirimkannya untukmu dan berharap kau membalasnya. Aku sangat kehilanganmu, Lily…
Aku akan sangat bahagia bila menerima surat balasan darimu.

Aku tak mau kau hanya membaca suratku tanpa membalasnya. Jangan bilang kenikmatan surga telah membuatmu lupa akan bagaimana caranya menulis. Itu alasan yang bodoh. Tapi, bagaimana bila bahasa surga dan dunia itu berbeda? Ada pikiran seperti itu yang terbesit dalam benakku.

Tapi kumohon Lily, balaslah suratku. Atau kalaupun memang bahasa kita berbeda, setidaknya mintalah bantuan pada Tuhan untuk menterjemahkan surat-suratku. Ku yakin Tuhan akan membantumu, karena setahuku Ia Maha Pengasih dan Penyayang.

Sahabatmu,
Emily

sekolah-ajarkan-siswa-membuat-surat-bunuh-diri

Advertisements