“…Engkau sebagai Pelita, dalam kegelapan. Engkau laksana Embun penyejuk, dalam kehausan. Engkau patriot Pahlawan Bangsa, tanpa tanda jasa …”

-Hymne Guru

Sang pembuat pondasi pikiranku,

Ada saat dimana kau terasa asing. Bagai penculik yang tak kukenal. Aku masih terlalu dini kala itu untuk bertanya lebih jauh tentangmu, atau setidaknya memahami pekerjaan serta profesimu. Aku masih terlalu takut untuk bertanya, tepatnya pertanyaan itu sama sekali tak hinggap dalam benak. Yang ku tahu, kau begitu gelisah ketika aku dan teman-temanku tak dapat tenang dalam kelas. Yang kutahu, kau tetap saja menjawab pertanyaanku dan pertanyaan teman-temanku yang sudah beberapa kali kau jelaskan, yang kutahu kaulah orang yang pertama kali mengenalkanku pada huruf dan angka, yang kutahu kaulah orang yang pertama kali memapahku dalam mengeja huruf demi huruf menjadi kata, menyusun kata demi kata menjadi sebuah kalimat, hingga merangkai  kalimat demi kalimat menjadi sepucuk surat seperti yang sedang aku tulis ini.

Aku ingin bertemu dirimu, yang kini entah dimana. Ataukah masih mengabdi? Mengajari adik-adik kelas yang terpaut belasan usia dariku? Atau disuatu tempat, menjalani pekerjaan yang lain? Aku tak tahu. Yang jelas, namamu masih ku ingat, kulukiskan dalam sebuah kenangan dan kusimpan dalam sebuah kotak masa lalu. Namun kala aku teringat masa kanak-kanak, terlebih masa-masa merah putih di sekolah dasar, kotak masa lalu itu selalu terbuka tanpa perintah. Namamu selalu hadir, memberikan setetes embun kerinduan yang begitu tega membuatku menggigil.

Wasiyati, namamu selembut hatimu. Seorang wanita baik hati yang kukenal. Seorang guru super sabar yang pertama kali ku panggil Bu Guru.

Bu Asi, kini aku sudah semester lima. Di salah satu universitas yang tidak pernah kukenal ketika kau masih mengajariku berhitung. Di salah satu kampus yang tak pernah sekalipun hinggap dalam benakku kala kau masih mengajariku menulis. Dan disalah satu perguruan tinggi yang sama sekali tak pernah kusebut kala kau mengajari aku membaca.

Jujur, aku kini lebih sering berkomunikasi dengan guru-guruku di SLTA. Sedangkan guru di SMP pun sangat jarang kuhubungi, apalagi guru SD termasuk dirimu, Bu. Aku sungguh tak sengaja melupakanmu, padahal jika aku bersusah payah merunut waktu dari dahulu hingga kini, kaulah yang memupuk pondasi sebagai bekal dalam aku mengikuti pendidikan ke jenjang selanjutnya. Pondasi yang kau tanam nyatanya begitu kuat, sehingga aku mampu menjalani pendidikan hingga setinggi ini, menurutku. Walaupun pendidikan yang kujalani harus lebih tinggi dari ini.

Deretan tugas-tugas, kurva, koefisien, serta tumpukan makalah-makalah serasa menutup memoriku akan dirimu. Empat belas tahun tak bertemu, membuat aku semakin lupa dirimu. Guru kelas 1 SD-ku.

Aku berterimakasih pada seseoranng siapapun itu, yang menetapkan tanggal 25 di bulan November ini adalah Hari Guru. Ketika salah satu komunitas blog yaitu Komunitas Blogger UNJ (Kombun) mengadakan suatu tantangan mengenai guru, taukah kau Bu. Aku baru ingat dirimu. Meski belasan tahun tak bertemu, namun raut wajahmu begitu jelas dalam benakku, meski begitu lama tak berjumpa, suaramu masih terngiang jelas dalam gendang telingaku. Kuingin bertemu. Mencium tanganmu. Selamat Hari Guru, Bu :’)

Sungguh aku rindu.

“Aku dan KOMBUN mempersembahkan Surat Blog yang benar-benar ku tulis dari hati untuk Guruku, Selamat Hari Guru”

Advertisements