Nyatanya, kehilangan sahabat lebih menyakitkan daripada putus cinta …

Ada saat dimana hidup terasa nyata. Berdampingan dengan banyak orang yang dimengerti, dan mengerti. Walau kenyataan tak selalu manis, mimpi tak selalu menjadi nyata, namun inilah hidup. Ada dimana derai tawa menjadi tangis, meski sekejap. Ada dimana tawa bahagia menjadi rindu. Apalah ternyata arti hidup, hanya ada dua makna, sedih dan bahagia. Tiada yang datang bersamaan, namun keduanya memiliki satu sifat; sementara.

Dirimulah sendiri penentu hidup ini, apapun itu. Maka harusnya kau menjadi pengamat dan penikmat, bukan hakim. Harusnya kau menjadi sesuatu yang melengkapi hidup ini menjadi sempurna, bukan hanya serpihan debu.

Lantas? Mengapa begitu banyak tantangan dan cobaan yang mendera? Itu karena pilihanmu. Ya, pilihanmu yang menyebabkanmu menjadi arus. Kau yang teramat bahagia ketika tak lagi mendapatkan kata, kau yang teramat sedih ketika senyum tak dapat lagi kau cipta.

Ini hanya sebuah teka-teki.

Teka-teki yang terus menerus kau pecahkan kemudian kau mendapat apresiasi. Tak lebih. Sebagaimana kini, kau mengalami kesedihan yang dalam karena telah kehilangan seorang yang selama ini mengisi hari-harimu, membiarkanmu jatuh pada derai tawa, dan bersiap menuju cita-cita masing-masing.

Mungkin bukan waktunya yang salah.

Namun, waktunya saja yang sudah habis. Itu saja..

Advertisements