Sebuah perjuangan mahasiswa KKN dalam membuka tabir kenaifan pemuda-pemudi di ujung Jawa


“Ketika birunya laut tak lagi berhak untuk disanjung, apabila bumi terasa muak untuk kau huni, dan jikalau sang waktu tak mampu memberimu setidaknya sehelai senyum, bergeraklah!”
-Surur FE

                                                                                                ***
Pagi yang sejuk. Ku awali dengan menyeruput hangatnya secangkir susu cokelat. Masih cangkir yang sama. Cangkir berukuran sedang, kira-kira ukuran 300 ml bermotif jendela-jendela biru. Ini adalah cangkir yang kubawa dari Jakarta, untuk menemani hari demi hari selama di Banten. Masih rasa yang sama, susu dengan perisa cokelat yang khas. Manis sederhana diiringi aromanya yang begitu nikmat. Oke. Dimulai dari sini, dari secangkir susu cokelat akan ku bagikan cerita indah selama berada di ujung Jawa. Di pesisir Cinangka dengan segala haru biru dan suka cita dalam upaya membagikan cangkir-cangkir mimpi untuk tunas-tunas muda.

Selama tiga puluh hari kedepan, aku bersama tim KKN Tematik Universitas Negeri Jakarta berkesempatan mengajar di salah satu sekolah yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Suatu wadah pembelajaran formal menengah di tingkatan atas. SMAN 1 Cinangka. Sering disebut pula dengan nama SMAN1CK. Corak hijau muda dengan pepohonan yang rimbun menjadi ciri khas sekolah ini.

Ada sekelebat perasaan rindu pada sekolahku dulu ketika melewati gerbang SMAN1CK untuk kali pertama. Bahwa rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tak menyangka kini aku harus mendidik, mengajar, dan siap menjadi teladan. Padahal seingatku, baru kemarin sore kulepas seragam putih abu-abu untuk terakhir kalinya. Rasanya baru kemarin sore mendapatkan kabar bahwa aku lulus Ujian Nasional serta ditetapkan telah diterima di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur SNMPTN Undangan. Akh! Waktu terlampau cepat mengalir, hingga aku tak sadar bahwa kaki ini telah berdiri di depan kelas. Di hadapan banyaknya pasang-pasang mata kelas X IPS SMAN1CK yang masih terdiam dan seolah bertanya; siapa?

“Selamat pagi semuanya, Adik-adik. Taukah kalian mengapa akhir-akhir ini sangat sulit sekali untuk menemui pelangi? Kakak pikir pelangi jarang muncul karena ia takut keindahannya akan terkalahkan oleh lengkungan senyum kalian…”

Nampaknya beberapa untai kata sebelum memperkanalkan diri lebih jauh, cukup ampuh untuk mengantarkan opini ramah dalam benak mereka. Terbukti dari respon mereka yang welcome. Aku berusaha memperkenalkan diri sebaik mungkin. Kuposisikan sebagai seorang kakak yang sudah sejak lama merantau jauh, dan kini pulang membawa cangkir-cangkir ilmu yang siap untuk dibagikan. Sesekali tawa renyah kami ciptakan. Kugiring imajinasi mereka menuju Jakarta, ku sisipkan motivasi-motivasi pembangun guna memicu bangkitnya semangat belajar, hingga akhirnya aku melontarkan sebuah tanya yang cukup mampu membuat mereka tersentak.

“Mau kemana kalian selepas SMA?”

Beberapa wajah nampak bingung. Untuk sesaat kelas terasa hening. Setelah itu jawaban-jawaban gamang mulai bermunculan. ‘kerja kak’, ‘kuliah’, ‘bantu orang tua’, hingga ada sebuah jawaban yang cukup mengusik. ‘Nikah kak!’. Seketika kelas menjadi gaduh akan tawa.

“Ingatlah bahwa apapun cita-cita adik-adik semua, entah terwujud ataupun tidaknya tergantung dari apa yang adik-adik lakukan saat ini. Bahwa hidup merupakan sebuah arena juang, bahwa hidup sesungguhnya tak senyaman pelukan mamah. Hidup merupakan sebuah proses yang nantinya bahkan saat ini mulai kalian hadapi. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah. Dari sekarang tentukan tujuan kalian masing-masing dan fokus. Bermimpilah setinggi-tingginya, sebelum bermimpi itu dilarang…”

Aku ingin mengajak mereka terbang menembus awan. Menikmati mimpi masing-masing dan merencanakan hal-hal apa saja guna mengantarkan mereka pada mimpi-mimpi indahnya. Secuil senyum terlontar ketika kutemukan ide dalam penggabungan konsep motivasi dan mata pelajaran yang diamanahkan Wakil Bidang Kurikulum Sekolah padaku, muatan lokal; pariwisata. Di akhir pertemuan pertama, setiap kelas kuhimbau untuk membentuk beberapa kelompok kemudian merencanakan kunjungan observasi ke objek-objek wisata terdekat. Ini bertujuan membentuk konsep sederhana dari pencapaian sebuah cita-cita ataupun impian. Pada tugas yang kuberikan ini kupikir hasil dari pencapaian kesuksesan maupun cita-cita dapat dicapai dengan adanya kerja keras yang memadai, misalnya dalam bentuk pelaksanaan observasi, diskusi, serta penyusunan laporan.

Mengapa harus observasi ke objek wisata? Inilah saatnya eksplorasi kekayaan sendiri. Setahuku, Cinangka memiliki objek-objek wisata yang indah. Pantai-pantai seperti Pasir Putih Mutiara, Karang Bolong, Batu Saung, Pantai Hawai, hingga Batu Karang. Adapula wisata Curug Lawang, Curug Sawer, hingga Lembah Hijau Bandulu yang berpotensi memajukan perekonomian masyarakat setempat. Di tangan pemuda-pemudi inilah kupikir nasib Cinangka di masa yang akan datang dipertaruhkan. Sebelum mereka dapat mengembangkan potensi wisata, ada baiknya terlebih dahulu menganalisis objek-objek wisata yang sudah ada. Menurutku, bagaimana bisa mereka mengelola objek wisata jika mereka masih tak mengerti apa itu objek wisata? Mengapa dan bagaimana objek wisata perlu ada? Apa saja objek wisata yang ada di Cinangka? Apa pengaruh objek wisata bagi masyarakat?

Aku tak mampu menyaksikan masyarakat Cinangka nantinya memiliki nasib yang buruk. Nasib atau suatu keadaan yang kronis seperti peribahasa ‘bagai kelaparan di lumbung padi’. Inilah saatnya membangun kesadaran bagi calon-calon pemegang tongkat estafet Cinangka di masa depan. Oke adik-adik, proyek observasi dimulai! Semangat!

***

“Apa yang tak hidup terkadang memberi kehidupan. Ia bergerak seperti angin menyapu debu jalanan, ia bergerak seperti angin mengajak daun menari. Namun inilah hidup, kumpulan langkah-langkah kecil yang menakjubkan. Langkah-langkah kecil yang mengubah mimpi menjadi kenyataan”
-Zarry Hendrik, penyair

Kabut tipis menyelimuti bumi Cinangka pagi ini. Udara yang cukup dingin mampu menyerang saraf hingga gigil tak dapat terelakan. Kesibukan di pagi hari mulai terasa di rumah huni (homestay). Beberapa teman-teman yang lain sibuk bersiap-siap menuju sekolah tempat mengajar masing-masing. Aku masih termangu. Menikmati sruput demi sruput susu cokelat hangat dari sahabat mungilku, cangkir jendela biru. Hari ini tak ada jadwal mengajar di SMAN1CK. Hari ini aku berniat untuk menuju sebuah pondok pesantren, karena kebetulan kemarin ada teman-teman dari kelompok lain yang mengajar disana menginfokan bahwa disana masih kekurangan pengajar terutama untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.

Pondok pesantren itu bernama Fajrul Karim, terletak di sebelah desa Cinangka tepatnya di desa Kado Mas. Untuk mencapai kesana, aku bersama beberapa teman lainnya harus menumpang mobil bak yang melewati homestay kami menuju pondok pesantren tersebut. Perjalanan menuju pondok pesantren Fajrul Karim cukup jauh, karena setelah kami turun dari mobil bak kami harus jalan kaki lagi menyusuri sebuah jalan setapak. Jalan kecil itu masih sunyi, sisi kiri-kanannya tidak terdapat rumah. Hanya ada perkebunan cokelat serta pepohonan rimbun yang sangat asing bagi kami. Salah satu tanaman asing itu bernama pohon berbuah Grenuk atau buah Maja yang semula kami kira buah melon. Buah tersebut tumbuh subur di tanah Cinangka dan sama sekali tak dimanfaatkan kecuali kulit yang digunakan sebagai gayung dengan terlebih dahulu dikeringkan hingga mengeras.

Setelah perjalanan panjang kami tempuh akhirnya sampai juga di Pondok Pesantren Fajrul Karim. Kami disambut oleh pimpinan sekaligus pendiri pondok ini, Ustadz Mulhat namanya. Beliau sangat senang karena kami menyempatkan diri untuk mampir dan menawarkan bantuan. Terlihat raut wajah beliau begitu sumringah dan tak lupa juga menyuguhkan beberapa jamuan. Singkat cerita aku bersama teman-teman dibagi dalam beberapa penempatan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Ada pengajar Bahasa Inggris, Biologi, Seni Budaya, Prakarya, Menjahit, ekskul Pramuka Putra-Putri serta Jurnalistik. Kebetulan aku kedapatan mengajar tiga bidang, yaitu Bahasa Inggris, ekskul pramuka dan jurnalistik.

Aku memasuki kelas X. Tapi, kurasa ini bukan sebuah kelas. Hanya saja sebuah masjid utama pondok yang dialih fungsikan menjadi ruang belajar. Terlihat beberapa santri duduk lesehan dengan beberapa tumpukan buku pada meja kecil di hadapan mereka masing-masing. Mereka tampak kurang motivasi. Bahkan ada yang mengantuk, maklum selain belajar ilmu umum mereka juga menghafal Qur’an serta belajar ilmu-ilmu agama. Santri yang hebat, batinku.

Aku masih mematung, duduk lesehan dihadapan mereka sambil menatap wajah-wajah lugu itu. Setelah ustadz yang mengantarku pamit pergi, barulah aku memulai kegiatan belajar ini dengan mengawali perkenalan dan pembukaan.

“Assalamualaikum..”, sapaku sehangat mungkin.
“Waalaikum salam, warrohmatullahi wabarokaatuh”, mereka menjawab serempak
“Selamat pagi adik-adik, gimana kabarnya? Oh iya perkenalkan, Kakak dari Universitas Negeri Jakarta kebetulan sedang KKN disini. Nama kakak ….”

Begitulah, aku mengenalkan diri sambil mengenali mereka lebih dalam melalui respon dari setiap perbincangan ini. Aku mencoba memahami dan memasuki dunia mereka yang notabene merupakan anak-anak santun yang lugu dan tertutup. Kucoba mengenali lebih dekat lagi melalui daftar absen yang kusebutkan satu persatu kemudian menanyakan beberapa hal kepada mereka seperti nama, asal, serta cita-cita. Hingga kemudian aku menemukan sebuah pengakuan mengejutkan dari beberapa santri yang mengaku tidak betah tinggal di pondok pesantren. Bahkan adapula yang mencoba kabur dan melarikan diri. Aku sangat iba sekaligus tertantang untuk memotivasi mereka supaya mereka dapat menyadari bahwa beruntungnya bisa berkesempatan menuntut ilmu di pesantren.

“Adik-adik, apa yang kalian sesali berada disini?”,
“Tidak betah, Kak”, “Tidak bebas!”, “Merasa terbuang Kak, pengen sekolah umum karena pasti sekolah umum lebih sukses Kak daripada pondok pesantren”.

Mendengar jawaban-jawaban gamang tersebut, sontak aku mencoba menasehati. Walaupun aku menyadari masih banyak pula kekurangan pada diri ini, tapi aku mencoba menumbuhkan semangat mereka lagi untuk menuntut ilmu di pondok.

“Siapa bilang kalian tidak bisa sukses di pondok pesantren. Itu tergantung cara pandang kalian dalam menuntut ilmu. Kakak punya sebuah nasihat dari salah satu ustadz di pondok pesantren Kakak di Jakarta, bahwa: Dalam menuntut ilmu, anggaplah kalian seekor burung. Sayap kiri adalah ilmu dunia dan sayap kanan adalah ilmu akhirat (agama), keduanya harus sama-sama seimbang dan dengan begitu kalian pun akan terbang dengan sempurna.”

Sebagian besar dari mereka mengangguk kemudian tersenyum, namun ada sebagian lagi yang masih terdiam. Terlihat bingung, dan menunjukan reaksi ingin bertanya.

“Kakak bilang ilmu dunia dan akhirat harus seimbang? Tapi kami disini lebih banyak belajar ilmu agamanya. Sayap kami tidak seimbang dong, tidak bisa terbang”,

“Begini adik-adik, dalam memamahami serta mengerti manfaat dari suatu ilmu itu sangat penting. Adik-adik pasti tahu bahwa dunia hanya bersifat fana (sementara), dan akhirat bersifat kekal abadi untuk selamanya. Jadi, anggaplah akhirat adalah matahari dan dunia adalah bayangan diri kalian. Jika kalian hanya mengejar dunia (bayangan) dan membelakangi akhirat (matahari), maka hanya lelah dan sia-sia yang didapat karena tidak pernah terkejar. Tapi jika kalian mengejar akhirat (matahari), maka dunia (bayangan) akan mengikuti kalian. Cobalah renungkan, man jadda wajada!”.

Wajah mereka berubah optimis, penuh harapan, meski ada juga beberapa yang masih dirundung kebingungan. Tapi, seiring berjalannya waktu aku akan berusaha mencoba memotivasi lebih dalam. Kutekankan pada mereka bahwa sungguh beruntung orang-orang yang memiliki kesempatan tinggal di pesantren, kalian adalah orang-orang terpilih untuk mempelajari ilmu agama secara intensif. Betapa kalian sangat beruntung ketimbang teman-teman sebaya kalian diluar sana yang begitu dekat bahkan rentan dengan maksiat. Aku mencoba mendengar keluhan mereka, mencoba menjadi pendengar yang baik, sambil sesekali menghibur dan menyelipkan kata-kata pembangun motivasi. Mereka harus maju, supaya Cinangka memiliki orang-orang yang berilmu dan bertaqwa yang nantinya dapat bermanfaat bagi keluarga, agama, serta negara.

Mulai hari itu, hingga satu bulan ke depan jadwalku telah tetap untuk satu minggu tiga kali mengajar di Pondok Pesantren Fajrul Karim. Selain Bahasa Inggris, aku dan beberapa rekan KKN lainnya diamanahkan mengajar ekstrakurikuler Pramuka dan Jurnalistik. Bagiku, sangat menyenangkan dapat membagikan ilmu di tempat ini dan juga di SMAN1CK. Kerinduan akan pondok pesantrenku di Jakarta pun terobati karena disini juga dapat merasakan hal serupa, kehangatan keluarga dalam kehidupan pondok dan dapat berkumpul dengan santri-santri yang santun. Ustadz Mulhat bahkan memfasilitasi kami untuk mengantar jemput menggunakan mobil pribadinya tiap kali kami akan mengajar menuju pondok dari homestay. Sungguh aku makin bersemangat dalam membagikan cangkir-cangkir motivasi, pengetahuan, dan pengalaman untuk adik-adik di pondok. Indahnya saling berbagi, merajut ukhuwah, serta berusaha memahami.

***

“Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu. Belajar diwaktu besar, bagai mengukir di atas air”
-Pepatah

Persediaan susu cokelat sudah menipis. Namun kepulan asap pada cangkirku tak boleh padam. Pagi ini, sebuah agenda menunggu. Sebagai ketua pelaksana, aku masih sibuk mencorat-coret sehelai kertas berisi teknis kegiatan hari ini, ditemani dengan hangatnya secangkir kopi tanpa ampas.

Tak terasa sudah pekan ketiga kami melakukan kegiatan KKN di Cinangka. Hari ini, kami sekelompok mahasiswa KKN Tematik UNJ yang tergabung dalam group MAPDES (Mahasiswa Peduli Desa) menjadwalkan untuk roadshow ke seluruh SD, TK, dan PAUD. Kami sengaja mengosongkan jadwal mengajar di sekolah hari ini untuk kegiatan ini. Tujuan kami dalam waktu dua hari ini adalah mengajarkan se-dini mungkin, bagi siswa-siswi SD, TK, dan PAUD desa Cinangka dalam mencuci tangan yang baik serta menyikat gigi yang benar. Bekerjasama dengan aparat desa setempat, Puskesmas Cinangka, serta sekolah-sekolah tujuan, kami mengunjungi satu persatu SD, TK, maupun PAUD tersebut.

Berbekal alat peraga seperti torso gigi, sikat gigi, pasta gigi, poster, pamflet, celemek, handshoap, serta hadiah-hadiah menarik, kami mengunjungi sekolah yang pertama yaitu SDN Cinangka 03 yang paling dekat dengan lokasi kantor kelurahan Cinangka. Inilah kali pertama aku menghadapi murid-murid SD yang luar biasa aktif dan kritis. Mereka sangat antusias dalam mengikuti setiap instruksi pada kegiatan penyuluhan ini seperti menyanyi bersama, bersorak yel-yel serta jargon, mengikuti gerakan edukatif, dan menirukan praktik materi yaitu cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang baik dan benar. Mereka juga sangat antusias dalam menjawab setiap tantangan serta pertanyaan yang nantinya akan mendapatkan hadiah dari kami.

Ada sekelebat perasaan bangga, haru, dan bahagia dapat berbagi bersama anak-anak hebat itu. Merekalah generasi Cinangka 10 hingga 20 tahun mendatang. Merekalah aset Cinangka yang perlu diberikan sokongan, aliran ilmu, stimulus motivasi, serta dorongan untuk terus mengembangkan diri dalam meraih cita-cita yang diinginkan demi kemajuan desa Cinangka.

Setelah memberikan penyuluhan, kami mengabadikan momen. Tepat di halaman muka sekolah, kami berfoto bersama dengan seluruh murid serta guru-guru SDN Cinangka 03. Tak lupa dengan bangganya kami tersenyum lebar dan melihatkan jari jemari tangan masing-masing. Pertanda bahwa kami telah mencuci tangan dengan baik serta menyikat gigi dengan benar.

Hingga saat ini, gigi-gigi putih adik-adik SD, TK, dan PAUD yang mereka tunjukkan dengan ceria nan polos kala itu, masih jelas terlihat dalam benak kami. Hal ini cukup mampu memberikan rasa rindu akan sosok mereka. Rindu yang tidak biasa. Rindu yang teramat dalam. Sesak.

Adik-adik yang manis. Teruslah tersenyum, teruslah ceria, teruslah bersemangat …

***

“Anggap saja kau sedang tersesat, dan jalan pulang adalah sebuah kesuksesan, itulah salah satu alasan mengapa kau harus sukses. Temukan jalan itu!
-Ketika sukses adalah sebuah jalan pulang-
-Surur

Pagi ini, cangkirku tak lagi berisi air apapun. Ia tidak lagi hangat. Tidak pula mengepulkan asap. Ia dengan manis tersimpan rapi dalam tas ranselku. Bersama tumpukan-tumpukan baju serta tumpukan-tumpukan kenangan yang kuseret. Kenangan akan Cinangka. Sebuah desa dengan sejuta cerita dan bumbu-bumbu kehidupannya.

Bus-bus sudah bertengger gagah ditengah alun-alun Kecamatan Cinangka. Bus-bus itu seolah menginjak-injak hati kami. Hati kami yang begitu berat untuk berpisah. Setelah semalam pada acara perpisahan tumpahan air kesedihan dari ratusan pasang mata tak terelakkan, apakah pagi ini harus terulang lagi? Oh perpisahan. Mengapa ia datang dengan tergesa-gesa, kemudian menorehkan kelukaan.
Puluhan murid-murid SD menatap bus-bus dengan nanar. Di sisi-sisi alun-alun mereka mematung, sambil sesekali melambaikan tangan. Beberapa membawakan tas kami. Bahkan ikut menaikkannya ke dalam bagasi bus. Beberapa memeluk, ada yang mulai terisak, ada yang minta oleh-oleh, namun ada juga yang diam dan biasa saja. Mungkin tidak mengerti.

Diam-diam ada yang tidak terduga. Wajah-wajah yang tadinya terlihat duka menjadi gembira. Di hadapan jepretan kamera, untaian-untaian senyum itu terabadikan. Simpul demi simpul tawa mulai menggema. Nyatanya, kesedihan perpisahan tak lagi menjadi momok, namun ia cukup dapat diatasi dengan satu langkah kegembiraan, dengan cara berfoto ria.

Baiklah, sekalipun masa KKN ini telah mencapai batasnya namun kontribusi serta jalinan tali kekeluargaan tetaplah abadi. Bahwa kami pernah merasakan suka-duka dibawah langit-langit yang sama, bahwa kami telah merasakan bagaimana kedukaan dan kesulitan dapat diselesaikan bersama.

Mesin bus telah selesai dipanaskan. Bus-bus itu satu persatu melaju dengan jumawa, meninggalkan alun-alun Kecamatan Cinangka menuju Jakarta. Di dalamnya, terdapat pasang-pasang mata yang masih menuju ke satu titik. Ke titik dimana anak-anak melambaikan tangan, anak-anak yang terlihat mengusap air mata dengan jilbab-jilbab mungil mereka.

Sampai bertemu lagi, ujung Jawa. Sampai jumpa lagi adik-adikku di SMAN1CK, Pondok Pesantren Fajrul Karim, TK, SD, PAUD Cinangka, dan seluruh warga. Percayalah bahwa Tuhan manakdirkan kita untuk bertemu, menakdirkan kita untuk berbagi, sekaligus menakdirkan kita untuk berpisah, namun ia juga menakdirkan kita untuk saling menyayangi.

Jujur. Aku ingin cangkirku mengepul lebih lama lagi…

***

Rawamangun, 07 Desember 2014
02.21 WIB

*Kudedikasikan cerita pendek ini untuk FE, UNJ, LPM, Jakarta, Pondok Pesantren UICCI Sulaimaniyah, Desa Cinangka, rekan-rekan KKN Unit Cinangka 2014, serta yang belum mengikuti KKN

Bahwa bagilah apa yang bisa kau beri, meski hanya secangkir cinta 🙂

20140817_112205
Sekelebat semangat. Senyuman, dan bahagia bersama. @Pantai Batu Saung Cinangka

Pantai Pasir Putih, Cinangka

CAM00506
Suasana KBM Matpel Muatan Lokal Pariwisata @SMAN1CK
CAM00503
Suasana KBM Bahasa Inggris @Pondok Pesantren Fajrul Karim
CAM00508
Buku modul Mulok Pariwisata rusak dan usang pemberian guru pamong. Miris 😥
20140825_144307
Uji coba pembuatan kerupuk ikan, Desa Cinangka
20140816_115300
Kelompok MAPDES (Mahasiswa Peduli Desa) terdiri dari Lima (5) Mahasiswa Tangguh; Rangga, Ricky, Surur, Andika, dan Tiara @Pantai Pasir Putih, Cinangka
20140829_101047
Persiapan penyuluhan Cuci tangan dan Sikat gigi yang baik dan benar @Puskesmas Cinangka
20140816_120213
Ombak nan indah. Bergulung-gulung. Menari mengiringi pengabdian kami, @Cinangka
20140821_133143
Ekstrakurikuler Jurnalistik @Pondok Pesantren Fajrul Karim
20140819_152704
First Experience. Mencuci baju di sungai :’)
20140824_135909
Ekstrakurikuler Pramuka @Pondok Pesantren Fajrul Karim
20140828_191518
Pengajian setiap malam jum’at bersama warga Cinangka @Masjid
20140821_095236
Proses pengumpulan material pembuatan pupuk @RW 1 Desa Cinangka

CAM00505 CAM00514 20140819_145119 20140822_140014 20140824_140250 20140825_122903 20140825_143827

Advertisements