“Kenapa harus di Masjid Biru? Kenapa tidak di Hagya Sofya?”
“Hmm, di Blue Mosque kita bisa solat, namun di Hagya Sofya untuk sujud saja tidak diperkenankan dan ia lebih cocok disebut museum”
“Oke, aku tantang tawaran itu”.

***

Adalah hal paling mengesankan apabila kita sama-sama mengucap janji disertai kesungguhan hati. Malam ini, di awal Februari 2015 tepat dua hari sebelum kakak-kakak kelas seperjuangan di Pondok Pesantren Sulaimaniyah bertolak ke Turki diam-diam ada hati yang bergetar, seakan perasaan membuncah, meledak-ledak. Bagaimana tidak? Satu setengah tahun lagi aku telah (harus) wisuda dari universitas dan akan melanjutkan mimpi dengan semangat yang tinggi.
Sulaimaniyah malam ini, menggelar sebuah pesta kecil pelepasan kakak-kakak kami untuk menuntut ilmu di negeri para syuhada itu, negeri seribu menara, negeri para burung albatros dapat berterbangan kesana kemari di sisi Bosphorus dan Sultan Mehmet Al-Fatih Bridge.

Sebelum ikram (makan-makan bersama) kami dapat sewa lapangan futsal gratis, di bilangan Palad. Gerimis yang turun tak menghalangi kami untuk futsal malam ini. Meski harus bonceng tiga, meski harus terciprat genangan air hujan, dan meski harus basah-basahan kami tetap sampai di Palad. Walau hanya 1 jam sewa namun kami menikmati. Betapa jatuh di arena futsal tak lagi terasa sakit, dimana terseret dan beradu kaki tak lagi terasa emosi. Semuanya mengalir, terbalut kain persaudaraan dalam naungan kasih ilahi. Hanya ada tawa, canda, serta ceria. Oh Sulaimaniyah, suatu saat momen ini akan sangat dirindukan oleh siapapun diantara kita. Aku yakin.

Usai futsal beberapa jepret kamera mampu mengabadikan simpul senyum kami. Dalam perjalanan pulang tak sabar ingin menikmati ikram yang sudah tersaji di asrama. Ada saat dimana kau merasa dunia begitu baik, ada saat dimana kau tak ingin memiliki apapun kecuali waktu sekarang. Saat ini.

Beberapa botol minuman bersoda berwarna merah dan coklat sudah berdiri dengan tegak, potongan-potongan gorengan tempe dan tahu kering, beberapa lembar dodol, serpihan-serpihan keripik manis dan pedas, serta puluhan cakwe beserta buntalan-buntalan sausnya tengah berserakan diatas koran-koran lusuh. Sederhana memang, namun kebersamaanlah yang membuat ini menjadi tidak sederhana. Di ruang mahasiswa ini, beberapa bait wejengan dan pesan-pesan dari Abi Mevlana terngiang-ngiang sebelum ikram tandas pada lidah-lidah kami. Sebagai perwakilan dari kandidat yang akan berangkat ke Turki, Kak Soleman merangkai beberapa kata yang intinya berterimakasih dan memohon doa untuk keselamatan dan tercapainya tujuan beliau serta rekan-rekannya disana. Kami semua mengaminkan, dan berharap dapat menyusul ke bumi para penakluk itu. Diam-diam ada doa yang terselip, doa yang sedemikian kuat untuk dapat mewujudkannya, doa yang terhantar karena sebuah impian yang begitu menggebu, sebuah doa dariku. Bismillah, International Trade of Marmara University. Semoga.

Kak Soleman, sebagai salah satu kandidat dan satu-satunya yang lolos Beasiswa Turki Burslari tahun lalu namun hanya sampai tahap wawancara memberikan beberapa tips dan trik untuk dapat mendapatkan beasiswa primadona YTB tersebut. Adalah Bahasa Inggris yang baik harus dipersiapkan karena ketika wawancara bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Sekalipun masyarakat Turki tidak suka dengan Bahasa Inggris, namun tak dapat dipungkiri bahwa bahasa tersebut adalah salah satu bahasa Internasional. Bahkan salah satu Abi pernah mengatakan banyak dosen universitas di Turki yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang buruk.

Tips berikutnya adalah siapkan dokumen-dokumen dengan lengkap, seksama, dan seoptimal mungkin. Pada saat apply ke website YTB semua dokumen harus di upload pada form yang telah disediakan. Jangan lupa merencanakan surat referensi dari orang-orang yang berpengaruh besar dalam dunia pendidikan atau pemerintahan, misal rektor, dosen, ataupun tokoh internasional yang sudah memiliki gelar DR (Doktor). Akan sangat lebih menguntungkan bila kita juga punya letter of reference dari salah satu dosen atau profesor di salah satu kampus Turki yang akan kita tuju. Sedikit masukan dari Asep (teman seperjuangan, seangkatan) untuk mengupayakan surat referensi dari Abi Hakan (pimpinan asrama se-Asia Pasifik) dan Abi Ferhat Bas (pimpinan asrama se-Indonesia) atau orang-orang berpengaruh lainnya dari kalangan asrama dengan menggunakan bahasa Turki. Tentu ini akan sangat bagus nantinya. Noted!

Tidak sampai di situ, ada satu hal lagi yang harus benar-benar diperhatikan. Pada saat menyatakan prestasi semua dokumen (bukti) harus ikut serta di upload. Dan hal terakhir yang tidak kalah penting adalah perencanaan tesis. Oke ini cukup menegangkan. Dimana Kak Sule menyarankan agar tema atau judul yang kita usulkan nantinya harus bertemakan issue global misalnya NU (studi tentang NU yang beliau lakukan), International Trade (MEA, AFTA, Hubungan Ekonomi antara Indonesia dan Turki, e.t.c) ataupun studi mengenai ISIS (usul dari Asep) atau kepanjangan dari The Islamic State of Iraq and Syria. Sangat disarankan untuk menghindari isu-isu lokal yang hanya mengedepankan teori sederhana serta riset yang apa adanya. Move. Dan terbanglah!

Malam ini sebelum tidur (sebenarnya tidak ingin tidur, namun karena esok hari pagi-pagi buta aku harus berjuang menuju tempat magang, mau tak mau harus segera tidur) aku berusaha menuliskan ini. Tentang mimpi untuk menuju tanah syuhada itu. Tentang bagaimana mimpi-mimpi itu tercipta segera. Tentang indahnya sebuah mimpi yang menjadi nyata. Dan aku juga tak boleh melupakan sebuah janji. Dan hanya aku dan Tuhan yang tahu apa janji itu. Bu, restui perjalanan putramu ini selanjutnya.

Bismillah, petualangan dimulai. Mungkin bagi diriku masih terlihat santai, namun aku harus mengucapkan selamat berjuang sambil melambaikan sapu tangan kepada Kak Soleman, Kak Imam, Kak Wildin, Kak Febri, dan beberapa rekan lain dari asrama Pejaten dan Jogjakarta untuk menempuh medan perjuangan yang baru. Medan perjuangan yang juga akan aku pijaki nanti. Medan perjuangan antara dunia dan akhirat, sebuah jalan menuju mimpi.

Dan mimpi itu akan segera nyata secepat langkah-langkah kaki dalam menjemputnya!

10959981_10203541222602184_4383532701511651583_o_magical_istanbul

10969366_531754013633489_852297727_o

Advertisements