“Pertemuan, mampu menghasilkan tawa, suka-cita, dan bahagia. Namun perpisahan, diam-diam menyelipkan bongkahan sengsara, bulir-bulir kedukaan, terkadang dengan lancangnya menitipkan sepotong rindu. Dan apalah arti sebuah rindu, selain hati yang terasa hampa dan pilu ketika tak lagi kutemui rupa melengkapi bayang”


Rindu takkan pernah jenuh mengintai siapapun, bahkan pada seseorang yang hanya kutemui satu kali. Ya, satu kali.

Sore itu, langit Bangkok berubah murung, tidak seperti minggu-minggu sebelumnya yang cerah merona berhias remah-remah awan. Adalah kamu gadis kuncir kuda. Mendominasi tiap lamunan hingga kubawa serpihan kenangan ini, terbang menuju Jakarta.

Awalnya biasa, sungguh sangat biasa. Namun mengapa kau seakan tak pernah mengizinkanku untuk sekejap saja terhindar dari bayang-bayangmu. Bayang-bayang akan kebersamaan kita, menyeruput segarnya es kelapa muda dalam komplek Grand Palace, mengobrol hingga pagi di koridor asrama, berlatih menari untuk malam perpisahan hingga lemas, menghabiskan senja di tepi sungai Asiatique, sampai suatu ketika kita satu bangku dalam bus dari Rangsit menuju CUI-House.

Sepertinya kisah ini harus kumulai dari awal. Begini.

Pada suatu pagi, puluhan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai belahan negara ASEAN berhamburan membanjiri lobby CUI-House (Chulalongkorn University Internasional-House). Sebuah gedung mirip apartemen yang dalamnya sekelas hotel tersebut dibangun khusus untuk tempat tinggal bagi mahasiswa/i baik dari dalam dan luar negeri yang tengah belajar di universitas (yang katanya) nomor 1 di Thailand itu.

Aku tengah berdiri di antara gerombolan manusia-manusia ‘necis’ itu, memegangi tali nametag sambil mendengarkan arahan dari leader team yang tengah sibuk menjelaskan dengan agak berteriak-teriak. Sesekali ia mengibaskan bendera merah, sebuah simbol group ini. Warna merah. Adalah May, gadis oriental bermata sipit dengan rambut hitam legam terurai memenuhi punggung. Seorang mahasiswi Chula University yang tengah mengabdikan dirinya sebagai relawan dalam mendampingi kami, para peserta ASEAN University Student Assembly (AUSA) 2015. Acara yang dihadiri oleh seluruh negara ASEAN dan masing-masing negara mengirimkan setidaknya sepuluh mahasiswa. Termasuk aku, delegasi dari Indonesia.

Hari pertama, acara berlangsung riuh. Penyambutan peserta dilaksanakan di Central Hotel Bangkok, disertai gala dinner dan tarian-tarian sambutan khas Thai yang energik, penuh koreografi, serta teriakan-teriakan jenaka. Sontak seluruh tamu menari, saling menyatukan gerakan dengan irama, sesekali riuh tawa menyeruak memenuhi langit-langit aula hotel ini. Dan disini, kali pertama aku melihatnya. Gadis kuncir kuda.

Pukul 21.00 kami kembali menuju CUI-House. Langkah-langkah gontai, pakaian kusut, dan mata-mata yang sayup merindukan kasur dan selimut. Hari ini luar biasa. Lelah.

639, nomor kamarku bersama roomate bernama Donira. Mahasiswa Institute of Foreign Languages dari Kamboja. Berkacamata, smart, dan pengertian. Malam ini ia mengajakku ke Khaosan Road, sebuah pusat hiburan di Bangkok yang mana sangat terkenal dan favorite bagi turis asing. Aku menolak karena lelah. Donira tetap pergi bersama teman-teman Kamboja yang lain. Sebelum terlelap, aku menuju balkon. Melihat-lihat gedung-gedung berkelap-kelip. Langit Bangkok yang sayup tanpa bintang, namun berhias jutaan cahaya dari gedung-gedung tinggi warna-warni. Ketika hendak menutup pintu kaca balkon, aku terperangah. Pada taman lantai 5, aku melihatnya lagi. Ia sedang terbahak memandangi layar ponselnya, sendirian. Dibawah pohon sejenis akasia. Ya dia, gadis kuncir kuda.

Selamat malam Bangkok.

***

Hari berikutnya berjalan sesuai jadwal. Team merah, ternyata aku sekelompok bersama GKK (read: Gadis Kuncir Kuda. Ia tampak natural, tanpa polesan make-up atau pemulas wajah. Kami semakin akrab, namun sering bertengkar satu sama lain. Agaknya ia orang yang periang, lincah, dan pandai menari. Suaranya yang melengking terasa memekakan telinga namun mampu menyuguhkan rindu. Gadis kuncir kuda itu, mulai memikat.

Malam ini, pada meja-meja kantin Thammasat University kami seluruh delegasi yang terbentuk dalam beberapa team harus menyiapkan beberapa menu masakan untuk dilombakan. Ya, Traditional Food Competition. Riuh menggelegar tak ayal ketika mulai memasak dengan diiringi tarian jenaka dari Art Departement of Chula. Tarian yang sama ketika di Central Hotel Bangkok. Tarian super energik dengan jeritan-jeritan nakal. Aku dan Red Team, khususnya dengan si Kuncir Kuda memulai ritual memasak dengan suka cita. Terbahak-bahak, menari-nari, sambil sesekali ribut-ribut karena berbeda pendapat, semua hal tersebut menjadi atmosfer kami malam itu. Sungguh malam yang cukup berkesan, aku merindukan suasana kala itu. Beberapa piring ramen lengkap dengan hiasannya berhasil kami suguhkan kepada team juri. Namun sayang, kami gagal menjadi pemenang karena juri berpendapat masakan kami rasanya aneh. Dan ajaibnya kami malah terbahak-bahak hingga lemas.

Dari Rangsit, menuju CU-I House dekat central Bangkok di National Stadium membutuhkan waktu perjalanan dengan bus kurang lebih 2 jam. Usai lunglai karena lomba memasak yang berlangsung ‘absurd’ kami terletih-letih dalam bus. Pasrah dalam bus dalam keletihan, menuju CU-I House.

Hal yang tak terduga terjadi. Aku satu bangku dengan GKK. Oh tidak. Aku sudah tak sanggup rasanya jika harus terbahak-bahak lagi. Karena memang biasanya seperti itu. Kami memiliki satu kesamaan, yaitu seorang Swifty. Haha, lucu memang. Blank Space sering menjadi soundtrack kami di berbagai tempat. Namun rasanya, malam ini berbeda. Kami tak terbahak, malah sempat meneteskan air mata, haha tidak menangis, tapi hampir.

Entah bermula darimana, obrolan kami malam ini dalam bus yang terus melaju menerobos jalanan Rangsit ke CU-I House berlangsung serius. Lampu bus yang gelap, cahaya dari penerangan jalanan yang menerobos masuk lewat kaca adalah satu-satunya penerangan bus dan semakin membuat haru malam ini. Kurasa sekeliling tidak ada lagi riuh, delegasi lain sepertinya telah tidur nyaman pada kursi masing-masing karena kelelahan. Tiada lagi hingar-bingar. Aku bersandar dan menghadap jendela di bangku nomor 5 dari depan, sesekali memainkan gorden oranye di kepalaku. Di sebelahku si GKK masih sibuk bertanya seputar ini dan itu hingga tertemui titik dimana kami sama-sama membisu.

Bermula saat aku menceritakan mantan kekasihku yang kini sudah bertunangan dan hampir menikah dengan kekasihnya yang baru, orang tua si GKK yang over protect, hingga masalah kehidupan di negara masing-masing, kehidupan kuliah, masa depan, hingga agama. Kami bercengkrama dalam bahasa inggris, dan sesekali diselingi tawa-tawa kecil.

“Apa rencanamu setelah lulus kuliah?” tanyaku pada GKK

“Hmm, aku akan mencari pekerjaan dan melanjutkan S2 dengan beasiswa tentunya. Kalau kamu?”

“Doakan saja aku dapat melanjutkan pendidikanku di Eropa, lebih tepatnya di negara dua benua, Turki”, aku menjawab dengan lirih namun pasti

“What? Why Turki?”, dia terlihat heran mengapa aku memilih negara itu.

“Aku ingin mendalami ilmu agamaku, Islam. Kalau kamu? Agamamu apa?”, aku memulai topik seputar agama

“Budhist, tapi aku jarang sekali ke tempat ibadah. Sebulan sekali, itu pun tidak wajib” ujarnya.

“Dalam Islam, sehari 5 kali, dan itu wajib”,

“Haaa???”, ia terbelalak.

“Iya, hmm bagaimana dengan rencana menikah? Kapan kau akan menikah?”, tanyaku sambil menatap kedua bola matanya yang agak sipit.

“I dont know. Aku belum merencanakannya. Memangnya kenapa harus menikah?”, tanyanya polos.

“Supaya bahagia”, jawabku tenang

“Memangnya pernikahan menjamin sebuah kebahagiaan?”,

Aku sempat terdiam, mencari jawaban yang paling tepat.

“Di negaraku, terutama agamaku, menikah adalah hal wajib ketika semuanya sudah siap, siap lahir, siap bathin, untuk menyempurnakan agama yang ku anut. Bahagia? Itu sebenarnya relatif tergantung kedua suami-istri membawa bahtera rumah tangga seperti apa. Namun ketahuilah, menikah mungkin bukan satu-satunya yang membuat seseorang bahagia, namun bahagia yang sesungguhnya adalah pernikahan yang sempurna hingga akhir hayat menuju surga”, aku menjelaskan hati-hati.

“…..”

“Hei!”, ternyata ia terlelap. Rasanya kesal karena menjelaskan panjang lebar namun lawan bicara malah asyik menndengkur. Dasar, GKK!!!!!

Bus semakin melaju dengan halus, melenakan sesiapa saja yang berada didalamnya. Memaksa. Memaksa untuk terlelap.

***

Jakarta, 21 Agustus 2015

Sudah dua bulan aku pulang dari Bangkok. Namun nyatanya, Gadis Kuncir Kuda itu belum luput juga dari benak. Bagaimana ia tertawa, bagaimana ia menari, bagaimana ia marah, dan bagaimana ia tersenyum. Manis sekali. Satu-satunya alasan terbesar mengapa aku masih selalu mengingat GKK adalah, meskipun ia gadis yang cuek, agak tomboy, dan pemarah, namun ia sangat romantis. Passport Case pemberiannya dengan simbol unicorn ketika ia pilihkan di ASIATIQUE malam itu, masih kusimpan saat ini. Terimakasih GKK!

Aku mulai sadar, bahwa perpisahan adalah sebuah kenyataan muskil yang membawa kita pada suatu titik bernama “rindu”. Ah… apalah arti sebuah rindu, ia diam-diam menyelinap pada bongkahan kenangan masa lalu, menerkam sesiapa saja dalam buaian imajinasi, hingga tertemui ruang kosong bernama “kehilangan” …

 

***

IMG_20160226_002235
Passport Case Coklat Muda ber-ikon Unicorn dari GKK 🙂
Advertisements