Jalanan kota tampak basah. Hujan mengguyur Rawamangun dengan lembut. Malam yang hening ini kulalui terasa senyap. Dalam diam, kota ini, nampak sejumput rindu akan pulang. Naungan hati yang kian terus menerus memaksa. Kehendak jiwa yang ingin selalu dituruti.

Aku hanya bisa melirik jendela, bersembunyi dari balik kaca-kaca berembun seraya menahan dinginnya angin di luar sana. Kendaraan tampak merayap-rayap bagai lampu-lampu pijar yang melaju, sembab hati ini mengingat memori. Gelap langit tanpa sang bulan seakan ikut menyeret batinku untuk berharap. Semoga, andai ada bintang-bintang.. Awan gelap terlalu mendominasi langit. Gedung-gedung tinggi pun seakan kehilangan eksistensinya di larutnya malam ini.

Ingin rasanya menikmati hawa syahdu yang terhembus dari balik celah-celah ventilasi, namun gesekan ranting pada pepohonan membuat raga ini melemah. Tempat tidur dan selimutnya seakan menari-nari untuk menggodaku. Menarikku untuk cepat terlelap. Dan dalam mimpi, aku berharap. Aku berharap dapat melihat indahnya kencana yang membawaku melaju pada keriuhan pesta kedamaian. Disana, kuharap ada. Kuharapkan ada kumpulan orang-orang masa lalu yang begitu memahami dan menyayangiku. Secepat ku bermimpi, secepat pula aku tersadar. Bahwa aku masih disini, di kota ini …

Tak ada sesuatu yang membuatku nyaris tak tidur. Aku bagai onggokan melody yang kini telah tersusun rapi, namun justru menghasilkan harmonika musik yang tidak semerdu dulu. Meski hidupku dahulu penuh dengan kenaifan, namun rasanya hidup jauh lebih bermakna. Lambat laun aku menemukan mimpiku. Mimpi yang kebasuh dengan peluh dan air mata. Demi sebuah cita-cita yang terus ku perjuangkan, lemah sayap-sayap kobaran api menggelora.

Seakan padam dibuai oleh ketersediaan, Aku, bagai sebatang pohon yang kini hidup pada rawa-rawa, yang sebelumnya tersesat sendirian pada suatu gurun pasir yang panas dan tandus, sambil menunggu mati, kering, dan musnah. Tapi, takdir telah tega membawaku hingga kemari. Disini, di sebuah cawan megah tanpa sanksi. Aku mengenal apa itu bahagia, apa itu senyuman, dan mulai melupakan isak tangis.

Pada kaca-kaca neon yang menggantung, mereka bersaksi atas kesumringahan diriku, sehingga aku terlena. Lupa. Tali temali yang dulu ku rajut, seakan goyah hampir kusut dan rusak. Oh, akankah semangatku telah tertelan oleh senyuman. Akankah senyuman hadir tanpa gelora? Aku harus menemukan bagian yang hilang. Aku… rindu pada kamar kecil itu. Pada semua tentang masa lalu yang mengajarkanku untuk terus menjalani pahitnya kehidupan.

Bahtera yang dahulu terasa sulit untuk ku kemudikan kini mulai terasa ringan dengan tahapan-tahapan sistematis. Dan aku hampir lupa, dua buah permata titipan Bunda masih tertinggal di tepi gurun pasir tempatku dulu. Aku harus memungutnya sebelum mereka terkubur dan menghilang, atau diadopsi oleh musafir yang kebetulan lewat. Mereka milikku, akulah yang pantas membuat mereka tampak berkilau. Ini adalah amanat yang besar.

Di kota ini, di langit ini, masih di bumi yang mulai basah ini, cerita ini masih berlanjut. Kuharap derai tawa akan mewarnai akhir dari semua ini.

Oh, Hujan. Cepatlah berlalu, jangan kau menderas terlalu lama. Aku khawatir.

***

berkah-hujan-kemarau
Hujan, di kota ini ….
Advertisements