ayunan

Dalam kamus hidupku, tempat paling indah itu relatif. Bagaimana bisa begitu? Ya, relatif. Tergantung momen apa yang ada pada tempat itu, bersama siapa, apa yang terjadi, kapan, dan bagaimana kejadian itu tercipta.

Aku pernah mati-matian mencintai sebuah tempat. Sebuah ayunan di bawah pohon kenari. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku mengaguminya. Ayunan kayu sederhana dari tali jemuran di samping rumah. Tempat ternyaman menghabiskan waktu sepulang sekolah. Tempat terindahku, kala masalah terbesarku hanyalah sebatas uang jajan yang telah habis duluan sebelum bel istirahat sekolah berbunyi.

Lulus sekolah dasar, ayunan sederhana itu tak menarik lagi. Tempat terindahku pindah pada sebuah jok sepeda Polygon berwarna oranye. Sepeda pertama yang dibelikan Ibu karena aku berhasil diterima di SMP negeri. Jok sepeda atau orang kampung menyebutnya “sadel”. Ya, sebuah tempat dimana aku bisa duduk tenang namun bisa sekaligus menjelajahi kampung halamanku yang asri. Sore hari adalah pilihan yang tepat untuk menikmati tempat terindahku, bersama rekan-rekan sejawat. Bersorak-sorai, berkejaran, sesekali aku menikmatinya sendirian.

Tempat terindahku itu binasa kala aku pergi ke kota untuk meneruskan pendidikan. Jok sepeda yang nyaman itu nyatanya berakhir nelangsa pada sudut ruangan di samping rumah. Berkarat, berdebu, bahkan rusak. Aku meninggalkannya dengan hambar. Tiada kesedihan kurasa. Hanya ada semangat baru bahwa aku akan menemukan tempat terindah selanjutnya.

Sekolah menengah kejuruan, nyatanya mengajarkanku bahwa tempat terindah bukanlah benar-benar berwujud “tempat” seperti yang terlintas pada benak banyak orang selama ini. Tempat terindah yang kutemukan pada masa SMK adalah sebuah kenyamanan bernama kasih sayang. Aku mulai mengenal cinta pada gadis berkerudung putih. Ia manis dan berprestasi. Ah sudahlah, nyatanya aku makin larut pada masa lalu. Tempat terindahku yang satu ini memang bukan saja nyaman, tapi juga sangat menyita perasaan.

Memasuki universitas, aku meninggalkan tempat terindahku yang memilih jalannya sendiri. Kami berpisah bagai ombak meninggalkan karang. Entah siapa yang berlaku menjadi karang. Aku masih bingung. Nyatanya, sampai disini aku belajar bahwa tempat terindah bersifat fana. Dunia begitu singkat kala aku menyadari banyak sekali waktu yang telah kulalui. Dan kini, aku berusaha mencari tempat terindah yang setidaknya mampu menerimaku cukup lama. Sebelum aku menemukan sebuah tempat paling indah sesungguhnya, yang bersifat kekal. Abadi. Selamanya.

Hai tempat terindah, dimana dirimu?

Advertisements