Bahwa wanita, adalah induk dari sebuah peradaban. Ratu dari sebuah koloni, dan biang dari setiap musabab~

Jika Kartini masih hidup. Aku yakin, kini ia sedang menangis sedu sedan. Meratapi gadis-gadis kecilnya yang terlewat batas, lepas kendali, berantakan.

Ada banyak sekali yang berubah. Mari kita tengok bagaimana zaman membalikan segalanya dengan mudah. Era Kartini, perempuan disinyalir sebagai simbol rendah, lemah, dan tidak pantas untuk tampil. Kerjanya monoton, hanya di dapur, di kamar mandi, di sumur, di kasur.

Untuk mengenyam bangku sekolahpun, perempuan dianggap ‘nyeleneh’, tidak lazim. Kalaupun beruntung, ia pasti keturunan priayi. Sekolah dianggap mimpi paling mustahil untuk digapai.

Zaman dulu, perempuan tumbuh dengan alami. Menyemburatkan aura ayu, tanpa pulasan-pulasan palsu masa kini.

Begini,
adalah ketidakwarasan dan kenaifan yang kini menyelimuti wanita-wanita modern. Mungkin tidak semua, tapi cukup membuat hati miris. Sebagai seorang lelaki, aku melihat semua ini dengan mata terbelalak. Tidak percaya.
Aku yakin, beberapa gadis, wanita, perempuan, cewek atau apalah sebutan untuk mereka yang merasa diri baik-baik saja, akan nyinyir habis-habisan pada tulisanku ini.
Tulisan sederhana, tentang sekeliling, tentang embun pagi yang tak lagi sebening dulu.

Namun aku harus berkata jujur. Sebuah luapan kata. Hanya sebuah pandangan.

Wahai gadis-gadis yang malang. Sampai kapan harga diri jatuh pada limpahan duniawi? Semakin sulit kutemui gadis dengan tutur bahasa yang halus, manis, dan santun.
Sampai kapan sesumbar aura kemurnianmu pupus pada ego dan ketamakan akan ‘popularitas’?

Haruskah Ayah-ayah kalian memasung putri-putri kecilnya di dalam rumah? Agar ia merasa tak enak hati untuk menampar gadis-gadis yang dengan mudahnya pulang larut malam? Bahkan berani-beraninya pulang pagi-pagi buta dengan raut wajah innocent?

Tiada yang bodoh memang. Kalian semua cerdas. Jujur, saya salut pada sebagian wanita yang masih dengan ketulusan, kebersahajaan-nya, dan kepiawaiannya mampu menjaga diri. Menahan diri untuk tidak berlaku tak pantas. Di zaman yang cozy sekaligus crazy ini, mereka masih mampu berekspresi dengan santun dan berkarya dengan hasil yang memukau tanpa menjilat ataupun mengemis perhatian. Kalian luar biasa. Lanjutkan.

Tapi, mari sama-sama mendo’akan. Untuk tiap tetes peluh dan air mata Ibunda Kartini, melihat maraknya ayam-ayam kampus, wanita malam, jablay, sundal, lonte, ataupun cabe yang kini semakin menyudutkan serta mencemarkan nama baik wanita. Bukan ini yang Kartini mau. Bukan ini. Kebebasan dan kemerdekaan harusnya diimbangi dengan kewarasan tanpa ketidaktahuan diri. Kebebasan hakiki untuk menjadi layaknya seorang perempuan sejati.

Cukup!
Opsi terbaik adalah segera menghapus air mata Kartini dengan torehan prestasi. Bungkam dunia bahwa wanita Indonesia adalah wanita yang bermartabat. Wanita yang punya prinsip. Melengkungan bibir Kartini dan membuatnya kembali tersenyum lebih mudah daripada berjuang untuk merebut hak-hak wanita yang dahulu terbelenggu.

Dengan langkah sederhana yaitu menghindari ke’jalang’an sejak dini.

Wanita-wanita yang cerdas, akan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang cerdas pula.
-anonim

Rawamangun, 23 April 2016
Sure.

Advertisements