Aku tersadar, bahwa rindu terkadang bukan hanya milik seseorang, namun juga sesuatu. Ya, kali ini aku merindukan sesuatu, tepatnya suatu tempat. Bahkan aku sudah merindukannya sebelum aku benar-benar pergi.

image
Layout depan asrama-ku

Langit Jakarta Timur pagi ini sayup. Hujan enggan datang meski awan-awan nampak kepayahan membawa beban air yang menguap. Mengudara, membentuk gumpalan-gumpalan mirip kapas, dan sepertinya tak akan lama lagi, hujan akan benar-benar terjadi.

Dalam sebuah bangunan kaca empat lantai ini, aku menatap jalanan Rawamangun dengan sendu. Bahwa, cepat atau lambat aku harus benar-benar berpisah dengan tempat ini. Tempat yang menjadi persinggahanku setidaknya sedari 3,5 tahun lalu.

Nyatanya memori-memori yang tercipta  disini semakin kuat untuk menyeruap. Menyergap alam bawah sadar, dan seperti mengajakku untuk menyelam dalam lautan nostalgia yang sejujurnya tak kan pernah aku lupakan.

Adalah kamu, Rawamangun. Sebuah kelurahan di kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, yang dengan lembut menerimaku untuk tinggal disini. Memeluk diriku dalam hangat, menjadi pijakan hari-hariku, menyuguhkanku kedamaian dalam ketersediaan, dan akhirnya menggodaku untuk tetap tinggal. Rasanya, hati kian berdesir secepat hujan perlahan turun dengan serbuan titik-titik airnya yang menghujam bumi. Petir meliputi alunan hujan dengan malu-malu. Suasana kian syahdu.

Rawamangun menurutku unik. Dengan terminal terbarunya yang ikonik, beberapa universitas yang simbolik, dan tempat-tempat mengesankan yang asyik.

Di pagi hari, Rawamangun terasa manusiawi tepatnya di daerah cipinang baru. Ya, pepohonan yang rindang, resapan air yang memadai, serta lalu lintas yang normal menjadikannya nyaman untuk ditinggali. Aku bisa sepuasnya menghirup udara dalam-dalam. Merasakan betapa alam begitu baik jika dirawat dengan benar. Bahkan jika beruntung, di pagi hari aku dapat melihat kumpulan pegunungan di arah tenggara. Biasanya aku dapat melihatnya kala udara masih benar-benar murni di pagi hari, dari balik jendela di ruang makan lantai empat asramaku, kulihat juga kekontrasan pada arah barat daya, yaitu tumpukan gedung-gedung tinggi daerah sudirman.

Siang hari, sepulang kuliah aku dapat istirahat dengan nyenyak dibawah langit Rawamangun. Merasakan otot-otot kembali pulih sehabis ‘hectic’ kesana kemari ketika di kampus. Sore harinya, aroma angin yang semerbak membuat Rawamangun kembali mempesona. Semburat jingga di ufuk barat seakan menjadi lukisan rutin yang terus menerus singgah di langit Rawamangun sore hari.

image
Langit Rawamangun di sore hari

Malam yang sederhana namun tetap ‘cozy’ menjadi ciri khas Rawamangun. Sepanjang tepi jalan dari Arion Mall hingga Terminal Rawamangun telah bertengger kedai-kedai jajanan yang menggoda untuk disinggahi. Mulai dari nasi uduk, es buah, hingga kepulan asap sate yang menggugah, Rawamangun malam seakan menyuguhkan ketersediaan yang aduhai.

Tengah malam, Rawamangun kembali sunyi sesunyi-sunyinya. Gemarlap kota dibawah sinar rembulan yang lugu menyuguhkan ketenangan tersendiri. Aku penikmat malam yang sendu, menjadikan ini adalah salah satu waktu favorite-ku. Aku bisa menyelam sedalam-dalamnya pada buku-buku yang kubaca, atau menikmati aksara-aksara yang kurajut pada sebuah buku catatan ditemani keheningan malam yang damai. Semilir angin malam yang lembut sesekali datang menemani. Ah, aku jadi semakin rindu. Aku khawatir tak bisa atau tidak sempat untuk menemukan momen ini ketika sudah di tempat lain.

image
Salah satu teman di tengah malam

Ah Hujan, kau terlalu tepat waktu untuk datang. Aku kualahan untuk tidak larut dalam harmoni yang kau cipta.
Bahwa setidaknya, kau menempati urutan pertama saat ini sebagai tempat yang paling kucintai. Aku tidak yakin kau akan menempati predikat ini selamanya, namun percayalah kau memiliki ruang tersendiri dalam jejak langkah yang kujalani. Jejak hidup yang kutorehkan, jejak-jejak langkahku dalam menggapai mimpi.

Cinta, persahabatan, kekeluargaan, kecewa, kesedihan, kebahagiaan, hingar-bingar, kesendirian, dan kebersamaan nyatanya terlalu singkat untuk ku gambarkan bersamamu. Jutaan warna tercipta dalam ruang yang kusebut persinggahan.

image
Malam yang sederhana namun berkesan di bawah langit Rawamangun

Disini, aku mengenal semua romansa. Aku mempelajari sebanyak-banyaknya sisi-sisi kehidupan. Baik di universitas maupun dalam pondok pesantren tempat tinggalku.

Aku selalu menganggap bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap pengalaman adalah pelajaran yang berharga. Begitupula dirimu, dalam usia kepala dua kau menjadi tempat pulang dalam aku mencari ilmu. Menjadi tempat kembali untuk aku menata hidup. Menjadi selimut ternyaman kala aku membutuhkan peluk. Dan akan menjadi kenangan secepat aku melangkah dengan rasa haru. Ketahuilah, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Aku memeluk mimpi yang akan kubawa hingga pada pencapaiannya. Dan kau, adalah bagian dari pijakan-pijakan yang ku sebut rute.

Anggap saja, kali ini aku sedang tersesat, dan sukses adalah sebuah jalan pulang..

Tiada banyak harapku, hanya saja aku akan berusaha memaksimalkan sisa waktuku bersamamu sebelum aku benar-benar pergi ke tempat selanjutnya. Jangan khawatir, sesekali aku pasti akan datang, menghirup aroma udaramu yang sejuk semerbak, menatap awan-awan berarak sumringah dengan latar langit biru cerah yang merekah, dan merasakan hangat malam sambil menatap bintang dan rembulan dari balik jendela.

image
Tentang kebersamaan dan persahabatan

Ah, Rawamangun! Kau istimewa.
Setelah ini izinkan aku menulis tentang bagian-bagian dari dirimu yang mengesankan bagiku. Tentang tempat-tempat favorite-ku menghempaskan penat, tentang tempat-tempat dimana keping-keping bahagia dan derai tawa tercipta. Tenang saja, sebelum benar-benar lulus dari universitas, takkan kusia-siakan waktuku bersamamu. Bersama kenangan sebuah tempat yang sederhana namun mengesankan, diam-diam memikat, dan membuat hati ini ingin tetap tinggal. Ya, kau… Rawamangun.

Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap pengalaman adalah pelajaran yang berharga~

image
My beloved dormitory. Pondok Pesantren Sulaimaniyah
Advertisements