image

Kita semua tahu, bahasa adalah unsur terpenting dalam komunikasi. Entah itu verbal maupun non verbal. Kita semua membutuhkan bahasa.
Nah, dalam mempelajari sebuah bahasa baru, tentunya perlu step mutakhir karena berbeda cara pasti akan berbeda pula hasilnya. Tidak dapat diungkiri bahwa bahasa akan mudah dipahami apabila kita berada di tempat atau lingkungan yang menggunakan bahasa itu sendiri. Misal, saya seorang lelaki Jawa tinggal dan kerja di Tasikmalaya, karena kebanyakan lingkungan menggunakan bahasa Sunda ketimbang bahasa Indonesia, otomatis saya menjadi terbiasa mendengar, berbicara, bahkan membaca ataupun menulis dalam bahasa Sunda.

Begini, tentu dalam pembelajaran bahasa tersebut terdapat elemen-elemen pendukung di dalamnya yang menjadi dimensi kemudian disaring lagi menjadi indikator. Seseorang dalam mempelajari bahasa baru tentu mempunyai step-step atau langkah-langkah dalam mencapai fase ‘mengerti‘ akan bahasa tersebut. Indikator dari ‘mengerti‘ disini adalah apabila seseorang tersebut dapat mendengar, berbicara, membaca, maupun menulis dalam bahasa yang ia pelajari.

Saya ingin berbagi pengalaman. Sejauh ini saya sudah mempelajari setidaknya 7 bahasa. Haha. Tidak semua fasih kok, hanya saja pernah belajar.

1. Bahasa Indonesia

Yaps, berhubung bahasa yang digunakan Ibu saya yakni Bahasa Jawa, bukan yang halus namun agak sedikit ngapak karena kampung halaman saya (Pemalang) berada di pesisir pantai Utara arah Pantura. Otomatis, ketika pertama kali tiba di Jakarta sekitar kelas 2 SD saya harus belajar Bahasa Indonesia. Entah itu yang baku maupun yang sehari-hari. Disinilah pertama kalinya saya mempelajari bahasa baru. Ya, selain terbantu dari siaran televisi yang memang menggunakan Bahasa Indonesia, proses belajar saya juga terbantu karena sekeliling lingkungan saya memakai bahasa Indonesia. Hanya Ibu, Bude, dan saudara dari kampung yang masih berintetaksi memakai bahasa Jawa dengan saya.

image

2. Bahasa Inggris

Saya masih ingat, pertama kali mengenal Bahasa Inggris itu dulu ketika saya duduk di bangku kelas 4 SD. Masa peralihan dimana Bahasa Inggris yang tadinya hanya pelajaran Muatan Lokal (Mulok) menjadi pelajaran pokok bahkan masuk ke dalam daftar mata pelajaran Ujian Nasional. Jujur, kala itu saya benci sebenci-bencinya dengan pelajaran ini. Bahkan apabila disuruh memilih, saya lebih baik mengerjakan pelajaran Matematika ketimbang Bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin penasaran dengan Bahasa Inggris. Pada tingkat SLTP guru mata pelajaran Bahasa Inggris saya sangat perhatian dan baik hati. Telaten mengajari murid-muridnya untuk dapat mencintai Bahasa Inggris. Ms. Atiek, mengenalkan saya dengan Bahasa Inggris jauh lebih dalam dan saya pun hingga kini jatuh cinta dengan Bahasa Inggris. Kini, tanpa pikir panjang saya akan menjawab mata pelajaran yang paling saya suka adalah yes! Bahasa Inggris setelah pelajaran Seni Budaya. 🙂

image

3. Bahasa Mandarin

Menginjak jenjang SLTA, tepatnya pada saat saya duduk di bangku kelas 12 tetiba saja ada pelajaran paling asing datang di kehidupan saya. Yaps! Bahasa Mandarin. Laoshi Mirza, alumnus UI jurusan Sastra Cina kala itu yang mengajar. Mandarin itu unik, sulit dimengerti, dan membuat diri ini pusing tujuh keliling jika berhadapan dengannya. Mulai dari huruf, tata cara pelafalan, nada, hingga bentuk-bentuk kanji yang njelimet nyatanya mau tidak mau harus dipelajari. Untungnya, pelajaran ini juga bersifat senang-senang karena diselingi dengan pengambilan nilai melalui unjuk seni dan bakat menyanyikan lagu mandarin. Hehe. Kala itu saya membawakan lagu dari F4 (meskipun mandarin dan Bahasa Taiwan agak berbeda) sambil memainkan gitar. Hihi.

image

4. Bahasa Sunda

Saya masuk ke universitas dan tinggal di pondok pesantren bersama rekan-rekan seperjuangan dari berbagai daerah. Anehnya, hanya diri ini saja yang berasal dari Suku Jawa, yang lain mayoritas dari Suku Sunda! Al-hasil saya harus mampu juga sedikit demi sedikit mengerti Bahasa Sunda. Kini jika teman-teman berlaku rooming, saya sudah mengerti walau terkadang juga kesulitan untuk menerjemahkannya. Saya juga pernah berkesempatan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Cinangka, Banten yang memang menggunakan bahasa keseharian dengan Bahasa Sunda. Paling tidak sedikit demi sedikit karena pengaruh lingkungan, saya belajar bagaimana aksen dan kata-kata dalam Bahasa Sunda.

image

image

5. Bahasa Turki

Merhaba! Sebelum tinggal di pondok, sedari kecil saya tidak pernah membayangkan akan sebegitu intens dalam mempelajari bahasa ini. Yeah! Di pondok saya, bahasa ini adalah bahasa sehari-hari setelah Bahasa Arab. Turki memiliki bahasa yang unik, sangat sulit dipelajari, dan memiliki banyak aturan. Sejauh ini, sejak tulisan ini dibuat setidaknya saya sudah mempelajari Bahasa Turki selama 3 tahun. Alhamdulillah dapat mengerti walaupun masih butuh pemahaman lebih apabila berbicara langsung dengan native speaker-nya. FYI, guru yang mengajari saya di pondok pun itu penutur asli dari Turki.

image

6. Bahasa Thailand

Sawadee Khrap! Thai Language. Ah, dua kali ke Bangkok tepatnya di bulan April dan June 2015 mengajarkan saya banyak kosakata dalam Bahasa Thailand. Walaupun tidak intens, namun saya pernah merasakan atsmosphere langsung di negeri Gajah Putih tersebut. Bahasa unik nan sedikit jenaka ini sangat menarik untuk dipelajari. Bahkan saya juga sempat belajar di salah satu universitas di Bangkok dari penutur aslinya. Sejak saat itu, saya mencoba belajar melalui film-film Thailand yang banyak beredar dalam genre comedy maupun romance. Ah Thailand, I want to meet you again. :’)

image

7. Bahasa Arab

Dulu, ketika masih kelas 5 SD, saya belajar Bahasa Arab di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) Masjid Al-Ikhlas Komplek Bank Dagang Negara. Hanya sekedar kosakata anak-anak seperti anggota tubuh, kata kerja sederhana, dan nama-nama benda. Namun kini, setelah bertahun-tahun tidak belajar, pada jenjang univetsitas saya kembali dihadapkan untuk belajar bahasa surga ini. Alright, di pondok tempat saya mengaji, saya mempelajari berbagai macam kitab yang memang merupakan wajih-wajih dari pendidikan Bahasa Arab. Kitab Awamil, Maqsud, Bina, Idzhar, semuanya memiliki tujuan untuk dapat mengerti Bahasa Arab terutama dari segi i’lal maupun idghom-nya.

image

Nah, sebenarnya ada beberapa bahasa pula yang saya pelajari. Namun tidak seintens bahasa-bahasa diatas. Bahasa Malaysia, Padang, Medan, Madura, Bali, semuanya saya pernah dengar dari penuturnya langsung. Yaps! bahasa, sesuatu yang unik bukan. Untuk itu mari perkaya dan tingkatkan pendidikan bahasa kita, minimal bahasa tercinta negara kita sendiri, yakni Bahasa Indonesia.

Ada tips dari saya untuk dapat mempelajari bahasa baru dengan efektif. Entah itu bahasa apapun, coba terapkan sistem ini: mendengar-berbicara-membaca-menulis. Lakukan secara intens dengan telaten, dijamin akan mampu meningkatkan kemampuan bahasa anda hingga 25%. Karena secara lahiriah, ketika kita mempelajari bahasa Ibu pertama kali, hal-hal tersebutlah pendekatannya.

image

Untuk segi teknologi, coba unduh aplikasi-aplikasi pendukung dalam mempelajari bahasa asing. Seperti Dictionary for Android, Duolingo, ataupun games for language skill.

image

Selamat mencoba!

*Tulisan ini didedikasikan untuk Kombun (Komunitas Blogger UNJ) dalam memenuhi tema pada bulan Mei yakni pendidikan. Semoga bermanfaat.

Advertisements