Aku kembali di persimpangan. Ada banyak sekali pusaran. Ombak-ombak nan indah. Ada pulau persinggahan pula tampak di kejauhan. Pucuk dahan kelapanya melambai-lambai, bagai tarian perempuan-perempuan Maladewa.

Namun aku takut memilih. Telapak tanganku kelu, dayung rasanya berat untuk ku rengkuh. Aku terpaku, nanar, namun penuh harap. 

Agustus datang dengan tergopoh-gopoh. Bulan ini aku sama sekali tanpa gairah. Hanya ada gelisah tiap aku berusaha memejamkan mata. Berjuta dilema muncul tanpa diundang, berputar-putar pada neuronku, dan tidak mau pergi sampai aku memaksakan diri untuk mengalah. Mengalah untuk pergi. Tapi dilema sepertinya kurang perhatian, ia tak mau sedikitpun enyah. Aku lelah, pada semua dilema-dilema yang mempermainkan rasa.
Kalau kau datang hanya untuk membuatku letih, tolong jangan datang lagi. Persoalan demi persoalan sepertinya ingin ku tenggak saja bulat-bulat.Pikiran alam sadarku kacau. Seperti ingin ku buat pesta terburuk yang selama ini ku hindari.

Agustus. Satu bulan aku harus memikul beban sendirian. Bukannya aku manja dan kekanak-kanakan. Namun, ini rasanya memberatkan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya di persimpangan. Kau akan selalu tahu siapa yang akan muncul setelah kau datang. Ya, September. Terkadang, tidak diberikan pilihan adalah hal yang menenangkan. Ketimbang pilihan-pilihan itu datang dengan semrawut, menghujani beribu macam alasan untuk dipilih, saling bersolek. Membutakan mata hati siapapun yang menjadi pemilihnya.

Agustus! Kulaporkan pada Tuhan. Kau terlalu angkuh untuk kujamah. Langkah demi langkahku seakan berat menapaki setiap waktu denganmu. Seperti kau seret. Seperti kau paksa, dalam kepapahan.

Peluh, duka. Nyatanya tak sedikitpun mengarahkan kemana lagi sampan ini kudayung. Langit mulai gelap. Esok pagi, aku harus beranjak. Tidak boleh terus menetap. Atau kala tidak, aku sudah menentukan tujuan. Aku sudah memilih, aku sudah mantap tuk perlahan mengejar apa yang kuinginkan.

Neptunus.

Kalau kerajaanmu benar ada didasar laut sana. Telan saja aku hidup-hidup. Gulung aku dengan ombak-ombak yang penuh wibawa. Tenggelamkan saja. Aku ingin hidup dengan keindahan dibawah kekuasaanmu. Namun sayangnya, setiap kali aku berharap, jawaban atas kegamangan selalu bersinggungan, menarik hatiku yang tengah terengah-engah, tengah sesak, tengah butuh panutan.

Aku tidak ingat kapan aku kehilangan nahkoda. Setidaknya aku pernah punya.Namun kini semuanya lenggang. Laut seakan menjadi arena sepi dalam aku berjalan-jalan sendiri. Dear Neptunus, apa yang membuat seorang pelaut berpredikat tangguh? Apa yang membuat seorang kalifah berpendirian teguh? Apa yang membuat ..
Hati ini bimbang,

di persimpangan.

Advertisements