“Tiada lagi kini kebersamaan indah denganmu, merayakan masa muda penuh suka cita, dibawah naungan perisai intelektual muda. Masa kebersamaan kita, kini telah usai. Habis. Terimakasih telah mengajarkan banyak ilmu dan pengalaman berharga. Melalui debu-debu yang kau singkap, melalui terik matahari yang kau serap bersama peluh yang mengalir. Bolehkah kali ini kulipat kau dengan tangis?”

Akulah orang paling bahagia kala memakaimu pertama kali. Dengan gagahnya, dulu aku jumawa berbalut dirimu didepan cermin. Memastikan diri layak disebut sebagai mahasiswa.

Dulu, demi mendapatkanmu penuh dengan jalan terjal. Berbagai test, berbagai macam cara, perjalanan dan langkah-langkah panjang kunikmati, ditempuh untuk bisa mengenakan dirimu sesuai warna yang dikehendaki. Kaulah simbol penuh arti dari sebuah perjuangan, simbol penuh arti sebuah pergerakan, simbol penuh arti sebuah pilihan. Ya, pilihan untuk memilihmu ‘tuk bersama di bawah deru sorak -sorai aksi, memilihmu ‘tuk dikenakan dalam ajang konferensi, ataupun memilihmu untuk tetap terlipat rapi dengan nyaman pada lemari pakaian.

Empat tahun bersamamu memberiku banyak arti, arti dalam melengkapi lengan-lenganmu dengan emblem opmawa dan ormawa, arti dirimu dalam menemaniku dalam ajang perlombaan baik tingkat jurusan, fakultas, hingga skala nasional, menemani masa-masa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) keluar kota, masa-masa pengenalan akademik yang penuh uforia, masa magang atau internship pada perusahaan-perusahaan pilihan, turut menemaniku dalam mencari uang kuliah tambahan dengan menjadi pengawas tes ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri, masa-masa menjadi peserta hingga panitia pelatihan kepemimpinan tingkat prodi hingga universitas. Masa-masa gugup masuk ke dalam lingkungan sekolah untuk praktik mengajar, masa-masa penuh pengabdian pada saat kuliah kerja nyata di pedesaan, serta yang terakhir masa sidang dan pendadaran skripsi yang penuh dengan drama.

Maaf belum bisa membuatmu bangga karena aku jarang mengajakmu dalam menyuarakan pendapat di jalanan, paling hanya sesekali itupun tidak pada garis depan. 

Maafkan aku karena aku terlalu congkak pada pencapaian-pencapaian sederhana dan harusnya aku mampu membuatmu lebih bangga lagi, setidaknya aku pernah berusaha mengajakmu pada ajang-ajang kompetisi ilmiah seperti ajang lomba menulis, pembacaan cerpen, pemilihan mahasiswa berprestasi, hingga pertukaran pelajar pada forum nasional maupun internasional. Meskipun banyak yang ingin ku gapai, nyatanya aku hanya bisa membuatmu tersenyum simpul dengan mengajakmu ke beberapa mimpi besarku saja. Sementara banyak diantara usahaku yang gagal dalam menjadikan kebanggaan pada ajang-ajang yang lebih berkelas. Setidaknya aku sudah berjuang. Terimakasih karena tetap setia bersamaku segagal apapun aku pada tiap-tiap ajang kompetisi mahasiswa yang kuikuti. Dan menurutku, berjuang dalam menanggalkan dirimu dengan penuh keikhlasan nyatanya terasa lebih sulit kini ketimbang dulu aku mengajakmu kesana-kemari walau tanpa tujuan yang matang.

Maaf karena pernah menyalahgunakan fungsimu ketika aku menjadi penonton bayaran. Maaf pernah sempat menyalahgunakanmu pada acara seminar tanpa undangan,  maaf karena kurang memperhatikan kerapihanmu ketika kumasukkan kedalam tas dengan asal-asalan sehingga kau terlihat kusut ketika kukenakan.

Terimakasih telah mengantarku dan setia menemani bahkan setia membalutku ketika Rektor Universitas Negeri Jakarta memberikan penghargaan berupa medali emas pada peringatan hari sumpah pemuda tahun 2015 lalu. Kau sukses membuatku bangga sekaligus terharu. Dibawah kibaran sang saka, aku tampil percaya diri bersamamu. Aku inginkan waktu lebih denganmu. Aku tak ingin berpisah. Itu adalah pencapaian akhirku sebelum aku menyelesaikan tugas akhirku, sidang demi sidang skripsi bersamamu.

Sore ini, aku menatapmu dengan sedih. Kasar bahanmu mengingatkanku lagi pada kenangan-kenangan manis bersamamu. Terimakasih telah berbaik hati, setia membuatku tampil gagah. Maaf, karena kurasa aku belum maksimal dalam membuatmu merasa beruntung memiliki pemilik seperti diriku. Kini, kulipat kau dengan mata berkaca. Teruslah menjadi pengingatku dalam aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswa yang telah kulewati. Aku tanpamu, hanya pengangguran pencari pekerjaan dan penggalau arah tujuan hidup selanjutnya. Kapan-kapan aku janji akan mengenakanmu lagi. Ya aku janji. Doakan aku memilih jalan yang tepat setelah ini. Tenanglah dirimu bersemayam dengan baju-bajuku yang lain, waktumu telah usai. Aku yang kini harus berjuang lagi mengencangkan ikat pinggang. Menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, menghadapi dunia yang penuh dengan pergolakan sebenarnya, menghadapi dunia nyata yang keras serta penuh dengan tantangan baik bumbu-bumbu tipu daya dan kemunafikan di dalamnya.

Tenanglah, aku akan berjuang sekuat tenaga. Tak usah khawatir.

Advertisements