Kalau memang caraku bukanlah satu-satunya untuk diperjuangkan.

Kalau memang hujan terlalu jumawa untuk diraih, biarlah semangkuk es krim ini meleleh dan mati di muka jendela yang berembun.

Mungkin cerita hujan dan es krim tidak seromantis salju dan kopi, antara gerimis dan Indomie, antara secangkir teh hangat dan orang masuk angin.

Tapi semangkuk es krim dan hujan adalah kombinasi dua elemen yang saling bertabrakan, membuat geram sesiapa saja yang menikmatinya. Ibarat sudah sekarat di tepi pantai, sekalian saja seret dan tenggelamkan ke tengah laut. Menikmati keduanya dalam waktu bersama, sama saja membunuh diri sendiri dalam kotak tanpa udara.

Memang tidak jodoh.

Hujan yang dingin tidak pantas untuk disandingkan dengan semangkuk es krim yang membuat gigil pula. Keduanya senyap, datar, tidak bernada.

Namun apa salahnya? Sang es krim berusaha untuk memantapkan diri bersanding dengan pujaan hatinya, hujan. Sudikah kiranya es krim mengorbankan diri menjadi es krim goreng misalnya, atau mencelupkan diri pada mangkuk-mangkuk berisi cokelat panas. Itulah pengorbanan, bahwa segala sesuatu, memang butuh kenaifan. Tiada yang murni, tiada yang tulus, tiada yang berani mencintai tanpa tapi, tiada yang sanggup untuk diraih tanpa adanya pengorbanan.

Namun rasanya, kisah ini harus benar-benar berakhir. Hujan tetap saja jumawa pada kemeriahannya, sementara semangkuk es krim hanya dapat mengamatinya dengan penuh harap. Hujan terlalu sulit untuk diraih, nyatanya semangkuk es krim hanya mengandalkan kesederhanaan pada tiap sendoknya dan perangainya yang amat pendiam namun manis.

Semangkuk es krim yang malang. Lamat-lamat lumer menanti hujan. Semangkuk es krim mencair dengan penuh kepedihan. Diam-diam meleleh, di muka jendela. Sang pujaan tak jua datang, tak jua menyambut, apalagi menghadang. Hanya ada pilu, diliputi nestapa.

Hari ini semangkuk es krim belajar dari sebuah pengalaman, bahwa pasangan memang diciptakan atas nama perbedaan, atas nama hitam dan putih, atas nama jantan dan betina, atas nama dingin dan hangat.

Semangkuk es krim tidak lagi gelisah. Ia memutuskan untuk menanti musim kemarau, yang memang tak pernah menolaknya. Ia mengorbankan perasaannya pada hujan. Dan benar, cinta memang tak harus memiliki. Rasa itu harus dikubur dalam-dalam, sebelum tumbuh subur dan menjadi masalah.

Semoga.

Gayung bersambut.

Semoga kemarau tak pernah menolak semangkuk es krim.

St. Malang, Jawa Timur

02 September 2016

17.24 WIB

Advertisements