Aku percaya, cara terbaik berdialog dengan alam adalah melihat lebih teliti, merasakan lebih dalam, dan mendengarnya dengan seksama, maka tertemukanlah kebesaran Tuhan.

Sedari pagi buta, pada jumat pertama di bulan September itu, kami memburu sinar-sinar mentari yang menyembul dari ufuk timur.

Menggunakan jip, jalanan brutal yang berkelok, serta angin yang dingin menampar wajah-wajah kami dalam perjalanan menuju puncak. Membabi buta jip yang kami tumpangi menerjang apa-apa saja di hadapannya. Rasanya, aku ingin memeluk mesin motor yang terasa hangat. Ingin sekali membakar diri atau apapun demi mendapat hangat. Angin terlalu angkuh untuk menjadi sahabat. Dingin semakin menusuk, gigil terasa bagai melodi dalam getar-getar wajah yang dipermainkan permukaan jalanan yang amburadul. 

Dari pukul dua dini hari, kami tak ubahnya bagai semut menyebrangi badai. Jip semakin melesat, melewati jalanan kelok nan menanjak, melewati suatu desa bernama Gubuk Klakah, hingga tertemui gurun pasir yang kosong dengan bukit-bukit membentang di kejauhan. Mata seakan perih melawan dingin. Ahh.. rasanya ingin sekali memeluk inti matahari.

Penanjakan satu, Gunung Bromo. Sebuah bukit mirip daerah pengintaian. Kaki-kaki menapaki jalanan menuju tebing penguntit mentari. Benar saja, awan-awan mulai memerah. Tampak di kejauhan, sinarnya menerobos sela-sela remah awan dan dedunan. 

Seketika hangat menjulur-julur, menjilati sekujur tubuh. Tetapi angin masih saja sibuk menghempas dan membagikan rasa dingin. Perpaduan yang sempurna antara gigil dan terpaan surya yang menyemburat perlahan-lahan.

Dari sisi yang lain, ada gunung Batok dan kawah Bromo lengkap dengan kepulan asapnya yang menggoda. Kami bergegas kesana. Melewati gurun, menapaki pasir bercampur kotoran kuda. Aroma yang menyengat. Entah dari bumi yang kami pijak atau asap kawah yang terus-menerus berdering mirip konveksi pabrik kaus kaki. 

Ada banyak sekali turis mancanegara. Berbagai kulit, berbagai bentuk wajah, beraneka warna rambutnya. Mencapai anak-anak tangga pun rasanya lelah hingga puncaknya. Haus, lapar, rasa penasaran yang membuncah, jadi satu.

Akhirnya, puncak telah kugagahi. Sekitar 230 anak tangga yang terjal menjadi saksi betapa sulit sekali bisa sampai disini. Ya, pada bibir kawah gunung Bromo. Tempat suku Tengger melemparkan sesaji.

Bromo, sampai bertemu dengan aku yang lain. Yang lebih baik lagi tentunya. Salam untuk saudaramu, Semeru yang gagah. Kemarin, aku hanya dapat menatapnya darı jauh.

Advertisements