Dik, ketika tali topi togaku saat wisuda benar-benar berpindah dari sisi kiri ke kanan, semuanya seolah berubah. Ada sekelebat rasa yang sulit kujelaskan. Lulus kuliah bagiku sangat tidak enak, gelisah, bimbang, takut, kecewa, semua rasa berkecamuk, membabi buta dalam dada. Ternyata, ini penyebabnya…

Langit pelataran Ji-Expo Kemayoran siang itu terik sekali. Matahari tanpa ampun memanaskan permukaan bumi, dibantu oleh hembusan angin panas yang juga berhembus gusar, menjadikan suasana kala itu bagai kekacauan yang sulit dimaafkan.
Sungging senyum bahagia terpancar dari tiap-tiap raut wajah wisudawan dan wisudawati. Entah senyum tulus atau dibuat-buat karena tidak mau mengecewakan sanak saudara maupun kerabat yang silih berganti mengucapkan selamat, meminta foto bersama, dan memberikan ikatan-ikatan bunga warna-warni diliput hadiah yang beraneka.

Di tengah kerumunan lautan manusia, aku berkali-kali meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun semua perasaanku seolah kalah oleh gusar yang mendera, bimbang yang terus hadir, hingga kecewa karena sejatinya, aku ingin lebih lama menjadi seorang mahasiswa. Bukan apa-apa, waktu yang singkat seolah membuatku sadar bahwa ketidakmaksimalan diri ini ketika menjadi mahasiswa-lah yang aku sesalkan. Mimpi-mimpi ku kandas, namun kini Tuhan telah menyuguhkan aku episode yang lain, yang kupikir lebih berat. Ya, episode kehidupan selanjutnya pasca wisuda.

Apa yang akan ku lakukan esok? Belum ada pekerjaan. Kalau mau bekerja, bekerja apa? Aku bingung. Atau mau s2 saja? Tapi bagaimana caranya. Kemana aku mengadu? Sementara semua terlihat baik-baik saja. Pilihan-pilihan yang datang begitu sulit. Aku harus berusaha memilih yang terbaik. Semoga jalan ini selalu mendapatkan ridho dan keberkahan Tuhan.

Dik, terserah kau saja jika ingin menganggap aku alumni yang pengecut atau apa. Mungkin aku terkesan takut menghadapi kehidupanku pasca wisuda, sebisa mungkin aku mencoba bahagia dan sejujurnya hanya tak mampu untuk terus membohongi perasaanku sendiri dengan segala yang terjadi saat ini. Aku tak ingin siapapun saja, adik kelasku, atau yang membaca surat ku ini, suatu hari merasakan seperti yang aku rasakan, meski aku tidak yakin. 

Tiada lagi kehidupan kampus hari ini bagiku, tiada lagi kesibukan mengerjakan skripsi yang terkadang membuatku frustasi namun penuh dengan kenangan manis, tiada lagi kelas-kelas yang aku sambangi dalam menuntut ilmu, sekretariat-sekretariat organisasi yang kutinggalkan, jalanan yang aku susuri menuju perkuliahan, hingga waktu-waktu istimewa bersama hingar-bingar masa muda dengan kawan-kawan seperjuangan. KKN, KKL, PKM, PKL. Tiada lagi, Dik. Tinggal kenangan saja. 

Masa perkuliahan ini, kupikir hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Mungkin bisa saja terjadi lagi jika ingin mengulang pada jenjang yang lebih tinggi, namun percayalah, kenangan-kenangan di dalamnya tak akan pernah sama.

Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sungguh, beruntung jika dapat mengamalkan walau salah satunya saja, apalagi bisa menjalani ketiganya dengan baik. Sempurna!

Untuk adik-adik kelasku, adik-adik satu almamaterku di kampus tercinta. Kumohon jangan lengah, isi sebaik-baiknya waktu mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan membuat bahagia. Cobalah hal-hal baru yang akan membuat masa muda lebih berwarna, rayakan setiap kemenangan yang tercipta, dan selalu bersyukur atas karunia-Nya. Aku yakin, seberapapun kita telah memaksimalkan waktu yang ada, pasti pada akhirnya ada saja rasa akan ketidakmaksimalan jua. Minimalisasikanlah rasa sesal pasca wisuda. Jangan sepertiku. Untuk itu jangan lengah. Teruslah berkarya.

Buat hari-harimu ketika masih berstatus mahasiswa tidak lenyap dan lewat begitu saja. Belajar dengan sungguh-sungguh di kelas, sebisa mungkin paham dengan setiap mata kuliah yang diberikan oleh dosen, mengikuti kegiatan-kegiatan penyeimbang akademik seperti organisasi ataupun kegiatan pengembangan diri lainnya. Imbangi kesibukan kampus dengan piknik yang menyenangkan ke tempat-tempat yang baru dan membahagiakan. Teruslah menebar manfaat.

Jangan bermimpi kehidupan setelah masa kuliah akan aman-aman saja dan sesuai rencana, kecuali kalau punya orang tua yang mapan dan kamu telah dipersiapkan pada suatu jabatan pada perusahaan mereka. Bagi sebagian wisudawan tentu akan menjadi kebimbangan yang berlarut-larut apabila kelulusan tidak diimbangi dengan rencana-rencana yang matang pula. Ini juga merupakan catatan untuk diriku sendiri. Bahwa sejatinya, kita manusia hanya mampu berencana, sementara Tuhanlah yang akan menjadi sutradaranya. Teruslah berusaha. Setahuku, Tuhan maha pengasih dan penyayang.

Sebagai sarjana muda, aku sadar bahwa pilihan yang terlampau banyak pasca wisuda sangatlah membuat pikiran ini terbelah-belah, perlu kebijaksanaan yang luar biasa dalam memilah antara satu pilihan dengan yang lain.

Pepatah lama mengingatkan bahwa: Kita memang bebas memilih. Namun, kita tidak pernah bebas pada konsekuensinya!

Perluaslah relasi dengan maksimal, karena menurutku setiap orang adalah guru. Kunjungi tempat-tempat asing yang memberikan banyak pelajaran, karena setiap tempat adalah sekolah. Ciptakan pengalaman-pengalaman yang mengagumkan, karena kupikir setiap pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga.

Membuat surat ini, aku tersadar semoga dapat menjadi reminder bagi sesiapa saja yang membaca. Tidak bermaksud menggurui atau sok pintar, namun aku hanya menuliskan atas dasar kegelisahan yang kurasakan.

Masa muda adalah ketika gelisah, takut, bahagia, kecewa, dan suka-cita terjadi pada saat yang hampir bersamaan.

Hei pemuda! Bangkitlah dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Jika hatimu penuh dengan rasa cemas dan bimbang, selamat! Bahwa bukti kedewasaan telah menghadang untuk membuat jiwa-jiwa yang melewatinya menjadi lebih dewasa seutuhnya. Justru jika hatimu aman dan nyaman-nyaman saja, maka perlu dipertanyakan apakah kau sudah pernah melewati dan menyelesaikan masalah yang benar-benar sulit atau belum? Bukankah pelaut handal tidak lahir dari laut yang tenang?

Sesungguhnya tiap kesulitan pasti ada kemudahan di dalamnya. Tuhan tidak pernah memberikan kesusahan di luar batas kemampuan hamba-hambaNya.

Bismillah. Move on. 

Terimakasih kampusku, UNJ, karena telah bersedia menjadi persinggahanku belajar untuk sementara. Terimakasih Bidikmisi, jembatanku dalam mendapatkan ilmu di perguruan tinggi.

Dan yang terpenting kini, selamat datang untuk diriku di rute dan zona kehidupan selanjutnya. Semangat!

Advertisements