Aku ragu untuk menulis ini. Aku rindu Labodega, sebuah kamar kecil di samping kali. Panasnya, ketersiksaannya, semua-semua tentang ketidaklayakannya. Ini pertama kalinya, aku rindu untuk membenci suatu tempat.

Sudah sekitar empat tahun aku tidak kesana. Baik untuk mengambil beberapa barang yang kutitipkan, atau hanya sekedar silaturahmi pada Ibu angkatku-beserta jajarannya. Nasi uduk yang selalu ia sajikan untukku, dan anaknya, sedari pagi-pagi buta, nyatanya kini membuatku terharu sekaligus menyesal dalam diri.

Suatu Minggu, aku pernah diajaknya berjalan-jalan di Kebun Binatang Ragunan. Piknik pertamaku bersama keluarga besar orang lain sejak bertahun-tahun silam aku piknik bersama keluargaku sendiri.

Aku agak salah tingkah, namun Iwan, sahabat sekaligus adik angkatku yang berbeda tanggal lahir beberapa minggu denganku telah begitu baik. Ia tak hentinya memastikan aku baik-baik saja. Ia yang mengantar aku kesana kemari, Ia juga yang menolong kala kesusahan terlalu melandaku begitu kejam.

Labodega. Kala itu aku masih punya setangkai mawar yang tumbuh tak jauh dari tempatku bersemayam. Hanya beberapa ratus meter saja dan aku sering mengunjunginya. Aku juga sempat mengenal dunia asing untuk kedua kalinya di seberang KRL, setelah sebelumnya… dan sebelumnya… ah sudahlah.

Aku ingin bertamu (lagi) ke Labodega, tapi dengan segala-segala ketersediaan yang kupunya. Aku sangsi jika tak jadi apa-apa namun berani-beraninya kembali kesana dengan kesumringahan yang dibuat-buat.

Pada ruang-ruang sewa yang selalu padat pagi-pagi. Aku muak sekaligus rindu. Labodega, sekelebat hidupku ada disana. Selalu terngiang. Selalu teringat akan kedatangan padanya suatu saat. Suatu hari.

fb_img_1475555110844

Advertisements