Jika memilih adalah sesuatu yang sulit, mungkin memberikan kesempatan pada sang waktu untuk dapat bersuara pada masa-nya adalah sesuatu yang bijak. Sebisa mungkin, aku berusaha untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pilihan yang kuambil. Kuharap, Ia menyukai caraku.

Rawamangun, 08 Oktober 2016

Menghadapi kesimpang-siuran akan keberangkatanku pada fase berikutnya, agaknya membuatku berpikir untuk melakukan hal-hal positif kendati tak terlalu maksimal. Aku memilih menjadi staf pengajar di 3 (tiga) lembaga pendidikan yang memiliki perbedaan latar belakang mencolok satu sama lain.

Namun, kurasa ini adalah satu-satunya jawaban atas kegamangan yang selama ini menyelimuti jalan setapak yang akan kulalui. Dalam diam penuh harap, aku mencoba memainkan tangga nada seteratur mungkin, mengikuti jadwal sesuai waktunya, dan berusaha menjadi pengajar ideal bagi anak-anak didikku.

img_20160926_112132_1
Jadwal mengajar mingguan

Dalam satu Minggu, aku memiliki jadwal mengajar yang rutin namun bervariasi. Dan aku suka. Setidaknya, ini akan berlangsung hingga penghujung tahun. Aku kian gusar sebenarnya, meski kutahu saat-saat ini pasti akan datang, ketika kusadari waktuku telah mencapai batasnya.

Maksudku, waktuku untuk terus berpijak pada bumi Rawamangun akan segera berakhir. Aku harus pindah ke tempat lain. Namun, sebelum aku benar-benar berkelana, izinkan naluriku tuk mengejar beberapa keping mimpi yang tercecer. Ya, menjadi guru. Menjadi seorang pengajar. Digugu, dan ditiru.

1. ‘SMK PGRI 8 Jakarta

Sekolah ini adalah rimba, menurutku. Kenapa begitu? Sejak masuk pertama kali pada suatu selasa di bulan September, seketika aku merasa seperti berada di dunia lain. Sebuah sekolah kejuruan yang hanya memiliki satu gedung dan harus berbagi dengan sekolah lain.

images
Ilustrasi kehidupan STM

Teknik kendaraan ringan. Satu-satunya jurusan yang ada disini. Sebenarnya, murid-murid disini memiliki hati yang baik. Namun aku menyadari ada yang salah. Perilaku dan sikap mereka yang brutal seakan turut menyumbangkan degup jantung tiap kala aku memberikan materi pelajaran Bahasa Indonesia di depan kelas.

Banyak sekali kejadian ganjil disini, seperti murid-murid yang hobinya terlambat hampir tiap hari, murid-murid keluar masuk jam pelajaran seenak hati, izin ke kamar mandi tapi malah masak nasi di kantin, menyontek tugas adalah sebuah kewajiban disini-bukan sesuatu yang harusnya dihindari, saling menghujat dan ribut-ribut dikelas adalah tontonan setiap hari, semuanya membuatku stress. Belum lagi kata-kata kotor serta kegaduhan yang teramat memekakan telinga pada saat jam pelajaran.

Mengajar mereka dalam kelas, rasanya bagai masuk ke dalam kandang jaguar yang sedang terlilit anaconda. Membuatku ingin menyerah saja dan lari tanpa jejak. Namun lagi-lagi sebuah kata yang cukup bernilai menyadarkanku. Sebuah kata yang mengajarkanku untuk bertahan. Ya, ‘pengabdian’. Inilah jalan mendidik, mengajar, memberikan ilmu, mengarahkan. Tidak mudah, namun jika dilaksanakan dengan sepenuh hati dan keikhlasan yang tinggi, aku yakin nikmat mendidik akan terasa begitu segar bagai meneguk air telaga di pagi-pagi buta.

Sedikit cerita tambahan mengenai sekolah ini. Selasa siang itu, di awal bulan Oktober aku mendapat tugas untuk mengawas UTS. Pada jam pertama, aku mengawas Ruang 1. Ketika memasuki ruangan yang biasa digunakan oleh kelas X untuk belajar sehari-hari itu, hawa-hawa kecurangan berhembus dimana-mana. Aku menatap tiap mata yang menunjukkan sikap gelisah. Kebetulan soal UTS yang akan dibagikan adalah mata pelajaran matematika.

Dengan teratur kubagikan lembar untuk jawaban terlebih dahulu, belum sempat aku membagikan soal tiba-tiba terjadi kegaduhan. Salah satu murid yang duduk di barisan kedua dari belakang bagian kiri bergetar hebat. Ia tumbang dan kepalanya membentur pinggiran kursi disebelahnya. Darah segar mengucur sementara ia kejang-kejang. Seluruh murid panik termasuk diriku. Ada yang keluar kelas memanggil kepala sekolah, sementara yang lain sibuk mengamati sambil membaca istighfar. Aku masih terpaku tak tau harus berbuat apa, kulihat dari arah luar bapak wakil kepsek dan Bu Kepsek datang tergopoh-gopoh dengan raut wajah bertanya-tanya.

Sejurus kemudian aku membopong anak itu yang tengah pingsan namun mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku meminta bantuan kepada beberapa murid lainnya untuk membantu membopong murid tersebut ke kantor ruang guru. Badannya yang gemuk cukup membuatku kepayahan. Darah segar pada pelipisnya mengalir deras pada lengan kananku. Ia kami baringkan di sofa. Dan seketika guru-guru yang lain mengurusinya sementara aku dan murid-murid kembali untuk melaksanakan UTS. Dalam hening, sebelum UTS dimulai, aku berkelakar santai.

“Jangan ada yang nyontek ya, kalo nyontek nanti ayan…”

Seketika hening, diliputi cengengesan beberapa murid. Ah sungguh, ini adalah pengalaman yang tidak biasa. Ada-ada saja. Cepat sembuh kau muridku yang setelah selesai mengawas UTS, ia kudengar sudah dijemput keluarganya.

2. Qur’anic School Masjid Dewan Dakwah, Cipayung

Seratus delapan puluh derajat, keadaan disini sangat berbeda dengan sekolah yang kuceritakan sebelumnya. 3 Oktober 2016, aku resmi menjadi salah satu tutor untuk pendalaman materi paket B mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Bekerja sama dengan PKBM Pintu Besi, Jakarta Pusat, setidaknya aku akan memberikan materi terkait Paket B guna mempersiapkan bekal yang optimal bagi kelas IX Quranic School ini.

images
Masjid Dewan Dakwah, Cipayung

Mengapa paket B? Ya, ini bukan sekolah formal. Anak-anak santun dan baik hati disini sehari-hari mempunyai pelajaran full dan wajib menghafal Qur’an. Dengan kata lain, mereka adalah para hafidz (penghafal kitab suci Al-Qur’an). Sungguh beruntung dapat membagikan sedikit ilmu ini pada mereka. Aku senantiasa bersyukur karena dapat menjadi tutor bagi anak-anak yang Soleh seperti mereka.

Jadwalku disini setiap hari Senin dan Rabu. Senin untuk pelajaran Bahasa Inggris, dan Rabu untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Perjalanan dari Rawamangun ke Cipayung adalah perjalanan yang tidak biasa. Aku menikmati tiap rutenya. Dari asrama, aku biasanya berjalan santai menuju halte Transjakarta Pemuda Rawamangun (Arion) kemudian transit di halte Pramuka BPKP, dan lanjut bus TJ arah PGC, kemudian transit lagi di halte Cawang UKI menuju Pinang Ranti, turun di halte Garuda Tamini Square. Dari sana, aku biasanya segera memesan Ojek Online entah itu Uber, Grab, ataupun Go-Jek. Perjalanan yang panjang namun aku menikmatinya.

Selama perjalanan biasanya aku menghabiskan waktu satu setengah jam, dan melakukan hal-hal mengasyikan seperti mendengarkan music atau membaca buku.

Dik, semoga kalian kelak dapat nilai yang memuaskan. Teruslah belajar dengan giat, serta warnai dunia ini dengan Al Qur’an. Semangat!

wp-1476124102089.jpeg
Suasana kelas di Quranic School

3. Al-Awwah Rumah Cendikia (ARC)

Dari sekian tempat bimbingan belajar, disinilah satu-satunya tempat ter-lama yang kusinggahi. Berbeda dengan bimbel sebelumnya yakni Khalifah dan Solusi Pisangan, ARC ini menurutku nyaman.

Sejak semester 6 (enam), sekitar Maret 2015 aku diterima dengan sukses di ARC. Melalui seleksi panjang yakni test tertulis, micro teaching, dan wawancara super menegangkan, akhirnya aku diterima sebagai Staff pengajar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dari level SD hingga SMA.

Saat aku mendaftar dulu, kantor pusat ARC terletak sangat dekat dengan asrama, yakni di samping TipTop Rawamangun. Namun sejak akhir 2015, kantor pusat pindah ke bilangan Tanjung Barat karena satu atau beberapa hal. Karena tempat yang cukup jauh inilah, aku hanya dapat mengajar pada mitra sekolah, yakni MI-MTS di sekolah Istiqlal, Jakarta Pusat.

images
Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat

Bu Emma, selaku Kepala HRD dan Pak Hakim, yakni pimpinan ARC dan sekaligus suami dari Bu Emma sudah seperti layaknya orang tuaku sendiri. Mereka selalu menjamu dan memberikan layanan yang mengesankan tiap aku berkunjung ke rumahnya di Tanjung Barat. ARC pernah melakukan famgath di Dufan, hihi waktu itu sekalian juga dibuatkan annual pass-nya. Aku juga pernah turut serta dalam suatu program kerja sama di Indramayu, Jawa Barat bersama ARC.

img-20161010-wa0003
ID Card Staff Pengajar ARC

Terakhir, yang membuatku bingung untuk menentukan pilihan ketika HRD yakni Bu Emma menawariku secara khusus untuk menjadi kepala divisi tetap ARC pada bidang bimbel dan travel. Ah, rasanya berat sekali untuk menolak pinangan ini, secara prospek dan gajinya juga menjanjikan. Namun apalah daya, aku seorang pemuda yang punya mimpi dan tujuan *tsaah. Bismillah, akhirnya aku memilih dengan kesungguhan hati 🙂 tunggu ceritaku selanjutnya.

Advertisements