Aku tidak menemukan alasan apapun untuk meninggalkan Rawamangun pada musim hujan. Ternyata begini rasanya. Aku baru paham bagaimana perasaan Keenan pada tokoh utama Perahu Kertas ketika ia dengan berat hati akan meninggalkan Amsterdam untuk kuliah di Bandung. Bukan tanpa sebab, bagiku pertengahan bulan Oktober adalah waktu-waktu basah sekaligus hangat menyelimuti bumi Rawamangun. Empat tahun singgah disini, rasanya aku terlalu berat untuk pergi. Entahlah, mengapa. Tetapi pada akhirnya, aku menemukan satu-satunya alasan untuk pergi. Ya, mimpi. Mimpi yang sampai detik ini masih kuperjuangkan. Mimpi yang kudekap dibawah lentera perjuangan.

Bismillah, aku pindah.

Sesuai dengan judul postinganku kali ini, ‘pindah’ dalam bahasa Inggris yakni ‘movement’ atau ‘move on’ dan dalam bahasa Yunani dapat ditulis dengan “Κίνηση” dengan bunyi baca ‘kinisi’. Ya, aku menggunakan kata Κίνηση untuk memberikan kesan unik pada judul postinganku kali ini. Semoga dapat menjadi pengetahuan baru bagi para pembaca.

Kembali ke topik, akhirnya pada hari Kamis, 20 Oktober 2016-dua hari yang lalu-aku benar-benar pergi. Sedari malam, aku sudah packing buku-buku dan pakaian, dan setelah subuh langsung bergegas mengeluarkan barang-barang yang terdiri dari beberapa tas dan koper dari asrama.

Sejurus kemudian, kupesan uber car melalui smartphone. Kebetulan aku masih punya kode promo untuk mendapatkan discont sebesar 50% dari total biaya perjalanan. Kode promo ini berlaku di semua wilayah (Jakarta, Bali, Jogja, dan Surabaya) untuk pengguna pertama. Jika ingin mendapatkannya, cukup ketik BACPRSURURMASURO pada kolom promotion. Kupesan uber car dengan rute tujuan dari Rawamangun ke Ciputat.

Lima menit kemudian sebuah Toyota Avanza berwarna putih masuk gerbang asrama. Aku bergegas memasukkan barang-barang ke bagasi.

img-20161020-wa0002
Siap minggat hihi [Dok. Pribadi]

Sepanjang perjalanan, aku seakan merasakan Rawamangun semakin jauh kutinggalkan di belakang. Ah… sampai bertemu lagi kau Rawamangun. Tetap jadi tempat istimewa yang selama ini ku banggakan sesuai dengan cerita-cerita ku tentang dirimu disini.

Selama perjalanan, aku mengalihkan rasa sedihku dengan bercengkrama dengan driver. Mas Jhon namanya. Ia sudah 10 tahun merantau di Jakarta dari Medan. Pahit, susah, senang, ia rasakan semua. Ia juga sempat bercerita bahwa sebelum menjadi driver uber, sempat memiliki distro yang cukup terkenal di bilangan Rawamangun. Namun pada akhir 2009, distronya itu hancur karena ia terlibat perjudian dan penipuan. Tujuh tahun berlalu hingga ia kini bangkit kembali dan menata kehidupan dengan sebaik-baiknya. Sebisa mungkin ia menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dulu ia pernah lakukan agar tidak jatuh di lubang yang sama. Inilah sisi pelajarannya bagiku, Mas Jhon memiliki semangat untuk bangkit lagi. Semangat untuk memulai lembaran hidup yang lebih baik. Meskipun hanya kurang dari dua jam berbicara demgannya, namun aku bisa memahami cara pandang Mas Jhon akan kehidupan ini. Diam-diam aku belajar banyak darinya untuk bangkit, untuk memberikan suatu arti dalam hidup ini.

img_20161022_081605
Invoice rute perjalanan Rawamangun – Ciputat [Dok. Pribadi]

Diujung pembicaraan, tak lupa ia menyemangatiku untuk terus belajar dan berjuang. Aku jadi ingat pesan seorang guru ngajiku tentang keutamaan belajar.

Barang siapa yang tidak tahan akan letihnya belajar, maka ia akan menahan perihnya kebodohan.

-Imam Syafi’i.

Maka berlelah-lelah dalam belajar, sesungguhnya akan berbuah manis kemudian. Aku jadi semakin semangat untuk mengikuti pendidikan bahasa selama beberapa bulan disini sebelum aku nantinya berangkat menuntut ilmu di negeri lain. Bismillah.

Celakalah bagi orang-orang kecuali yang berilmu, celakalah bagi orang-orang berilmu kecuali yang mengamalkan, dan celakalah bagi orang-orang yang mengamalkan kecuali yang ikhlas.

-Abu Tabrani.

Hi tempat belajarku yang baru! 😉 Baik-baik denganku ya. Terimakasih telah menerimaku untuk singgah disini.

img_20161021_215529
UICCI Cabang Ciputat [Dok. Pribadi]
P.S: Cerita sederhana ini kupersembahkan untuk #1week1story atas inisiasi dari Kak Ervina (Amsterdam, Belanda), Kak Asep Rudi (York, UK) dan Kak Deandra (Seoul, South Korea).

Apalah diriku yang hanya remah-remah biskuit :’). Hihi.

Advertisements