Luruskan niat, bulatkan tekad, berjuanglah!

Rekan-rekanku bilang, aku sedang dipenjara. Ya, tapi bukan karena aku melakukan tindak pidana. Melainkan, aku harus mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan mental, batin, pikiran, tenaga, dan fisik untuk berjuang menuntut ilmu di belahan bumi nun jauh disana.

Satu minggu telah berlalu sejak aku hijrah ke sini. Pindah dari Rawamangun ke Tangerang Selatan membuatku berpikir bahwa banyak sekali orang-orang baru, guru-guru baru, sahabat-sahabat baru, dan tentunya pelajaran baru yang kutemui dalam hidup.

Demi bisa fokus untuk proses karantina ini, aku sadar diri untuk lepas dari urusanku yang masih belum diselesaikan diluar pelajaran. Dua minggu yang lalu, aku sudah mengundurkan diri dari ‘SMK tempatku mengajar, berbulan-bulan sebelumnya juga aku sudah menyampaikan maksud kepergianku pada pihak ARC, dan yang terakhir aku belum bisa sepenuhnya meninggalkan QS. Mungkin butuh waktu dua minggu sampai satu bulan lagi untuk benar-benar kulepaskan. Seperti yang sudah kubilang bahwa, kegiatanku sebelum benar-benar berkelana telah aku jelaskan secara rinci pada postingan ku yang berjudul Sepenggal Kisah Sebelum Berkelana.

Untuk saat ini ada sebelas mahasantri yang tergabung dalam grup intensif #PK 7. Haha. Apalah-apalah menyerupai dengan LPDP. Tapi kami membuat nama grup untuk menyemangati diri karena perjalanan untuk meraih cita-cita ini begitu penuh halang-rintang.

Berikut adalah kesebelas nama yang kini tengah mengabdikan diri untuk ikut intensif di Tangerang Selatan. Terdiri dari alumnus beberapa perguruan tinggi negeri seperti UNJ, UIN, UNISBA, dan UGM. Adalah Bahrul Fikri, Anton Mahdi, Eggy Helgya, Surur, Akhiat Ferdy, Septian, Nurdin, Ahmad Abdullah, Arif, dan Abdul Jalil.

Bagi sebagian murid yang sudah merasakan kehidupan pesantren sedari kecil mungkin tidak asing lagi dengan istilah penjara suci. Hihi. Maka dari itu kuberi judul pada postingan kali ini ‘karantina di penjara suci’ atau quarantine in holy prison. Apalah aku yang sepertinya baru merasakan keindahan kehidupan di pondok pesantren ketika sudah masuk universitas. Tapi aku mencoba menikmati proses demi proses yang kujalani dalam kehidupan pondok. Mungkin ini adalah cara indah Tuhan dalam mengabulkan doa-doa hambanya. Ketika masuk sekolah menengah, aku ingin sekali masuk pondok pesantren, namun semua anggota keluarga tidak menyetujuinya. Dan kini, impianku secara tidak langsung telah terkabul setidaknya sedari empat tahun yang lalu.

Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar senantiasa istikomah di jalan ini. Sadar bahwa aku masih banyak kekurangan dalam menuntut ilmu, keseriusanku dituntut lebih untuk bisa konsisten di jalan ini.

Satu minggu lebih berada disini membuktikan bahwa segala sesuatu harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Tetap semangat untuk diriku sendiri, teman-teman seperjuangan. Bismillah…

 

Advertisements