Ciputat, Tangerang Selatan. 05 November 2016

Aku rindu Indonesia. Rindu sekali. Karena, kini aku merasa bukan disini. Meski masih bisa kuhirup udara segar, meski masih bisa kutatap langit biru, namun semuanya seolah raib dengan satu kata bernama perpecahan. Adakah sisa sedikit waktu untuk menuju esok yang lebih baik?

Aku menahan isak tangis sambil berkali-kali scrolling lini masa media sosial. Berkali-kali aku pejamkan mata. Hatiku hancur. Perasaan sesak menyeruak datang begitu saja memenuhi rongga dada. Ada apa ini? Kupikir awal terciptanya teknologi komunikasi yang maju khususnya pada lini media sosial adalah untuk menebarkan kabar baik, kebermanfaatan, kebahagiaan, dan sukacita.

Namun hari ini, anggapanku ternyata salah. Semua orang dalam lini masa media sosial menebar provokasi dan kebencian. Ajakan untuk memecah belah bangsa ternyata amat kuat bercokol pada hati-hati yang mana di dalamnya terdapat duri, rasa sakit, bahkan ego yang tinggi.

Media independen yang seharusnya menjadi pelerai dan pelita bagi kebutaan masyarakat justru ikut menebar berita-berita berbau keberpihakan pada satu atau banyak kepentingan. Semuanya terlalu kapitalis dan bermuara pada satu kata bernama kenaifan. Mengapa enteng sekali akhir-akhir ini mengadu domba? Mengapa mudah sekali memicu pertikaian? ‘Mengapa’ dan banyak ‘mengapa’ lainnya memenuhi isi kepalaku hingga muncul kesimpulan bahwa hari ini media telah kehilangan hati nurani dan peranannya.

Begini, sejujurnya aku tidak pernah tahu kapan sejatinya informasi yang dinamis beredar sedemikian membabi-buta. Namun yang menjadi masalah adalah apa dengan kita mempengaruhi pemikiran orang lain yang belum tentu sama pandangan termasuk perbuatan terpuji? Terlebih dengan menyuguhkan berita finah, kebohongan, serta data-data palsu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kebhinekaan yang tertanam kuat nyatanya kini mulai doyong. Aku khawatir, sejujurnya.

Berawal dari penistaan agama yang dituduhkan pada calon Gubernur Jakarta petahana, sejak saat itu Indonesia mulai gusar.

Petahana (bahasa Inggris: incumbent), berasal dari kata “tahana”, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat.

Pro dan kontra bertebaran layaknya debu-debu pada kasur yang digebuk rotan. Bagi yang pro bahwa Bapak Gubernur tidak bersalah, mengupayakan segala cara untuk terus meyakinkan bahwa penistaan agama yang dilakukan oleh orang-orang Muslim pun banyak adanya, seperti kasus daging sapi, pengadaan Qur’an, serta pembakaran wihara dan semua itu menurut mereka masih luput dari sorotan hukum. Namun dari sisi kontra, ini bukan saja perkara untuk menghukum atau memenjarakan seseorang, lebih kepada pembelaan harga diri dan lentara hidup. Ya, Qur’an adalah petunjuk bagi muslim. Dan perlakuan Bapak Gubernur pada saat melakukan pertemuan dengan masyarakat di Pulau Seribu beberapa waktu lalu tentang Q.S Al-Maidah ayat 51 telah menjadikan rasa sakit yang dalam pada hati umat Islam negeri ini. Ditambah lagi, media yang secara intens mempengaruhi dari berbagai sudut pandang semakin membuat keruh suasana.

Kutipan perkataan Basuki T.P di Pulau Seribu terkait Al-Maidah: 51,

Saya ingin cerita ini supaya bapak ibu semangat. Jadi nggak usah pikiran, ‘ah… nanti kalau nggak kepilih pasti Ahok programnya bubar’, Nggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai Surat Al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih, ‘karena saya takut masuk neraka’, dibodohin gitu ya. Nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja,”

Bagi kaum pro, mereka beranggapan bahwa perkataan Bapak Gubernur bukan bentuk penistaan. Namun disisi lain, ada perasaan-perasaan yang terluka ketika lembaga-lembaga besar Islami telah memfatwakan bahwa yang dilakukan Bapak Gubernur adalah penistaan dan harus ditindak tegas.

Loyonya proses hukum, dan terkesan tidak ada gerakan dari aparat penegak hukumlah yang membuat semua lapisan masyarakat khususnya kaum muslim naik pitam. Ditambah dengan seruan-seruan untuk bersama-sama menyuarakan pendapat dengan damai atas dasar perjuangan fii Sabilillah. Akhirnya 04 November menjadi momentum yang dipilih bagi peserta aksi untuk menyuarakan kegundahan. Berpegang teguh pada UUD 1945 pasal 28 tentang kebebasan pendapat serta ayat-ayat suci Al-Quran tentang keutamaan membela agama Allah, pasukan putih yang cukup besar tumpah disekitar Istiqlal, Monumen Nasional, dan Jalan Merdeka Jakarta Pusat. Tidak hanya itu, di daerah-daerah dan kota-kota besar lainnya juga melakukan aksi yang sama. Peserta aksi di Jakarta-pun tak semuanya warga Ibukota. Banyak dari mereka datang jauh-jauh dari daerah untuk menyemarakan aksi Jumat kemarin.

Aksi terjadi seharian penuh. Damai dan kondusif disertai takbir yang menggema memenuhi suasana langit Jakarta siang itu. Ada satu pemandangan yang sangat mengharukan, polisi dan para demonstran bersolawat bersama. Melantunkan Asma’ul Husna dengan penuh kekhusyukan, berharap masalah dan kericuhan ini segera berakhir dengan ditemukannya jalan keluar dari para petinggi negeri. Shalat Jumat juga menjadi warna yang indah. Terlihat aparat pengaman dan peserta demonstran merapatkan barisan untuk sama-sama melaksanakan kewajiban pada Jumat siang yang terik-sejuk itu.

fb_img_1478318466676
Sumber: Satria Loka Wijaya-FB.
fb_img_1478400037138
Sumber: Rahma Binti Nasril-FB

Aksi berlangsung kondusif hingga pada akhirnya lewat 18.30 WIB sebagian demonstran mulai pulang ke peraduan masing-masing. Namun kepuasan tidak didapat karena tuan rumah yang dikunjungi tidak menampakkan diri. Tamu yang mengetuk pintu berkali-kali bahkan ingin sekali mendobrak nyatanya tidak membuat pemilik rumah keluar untuk menjamu ataupun sekedar menyapa.

Andai bapak jadi khotib kami, siang tadi. Tentu kami pulang dengan secercah harapan. Bukan dengan rasa kehilangan dan kecewa yang bertubi-tubi.

Lagi-lagi media. Bertengger dengan jumawa gambar Bapak Gubernur dan juga di lain tempat Bapak Wakil Presiden sedang menonton tayangan liputan aksi dengan nyaman dalam ruangan. Seketika demonstran tersulut dan aksi berlangsung hingga dini hari. Gas air mata, bakar-bakar ban, bentrok bambu, menjadi warna kecil dari jepretan kamera.

Lagi dan lagi, media.

Hari ini kita sama-sama belajar bahwa, isu yang beredar, peranan media yang begitu besar, menjadi pemicu keretakan bangsa. Pasang akal sehat dalam menyikapi semua pemberitaan yang ada.

Indonesia yang kucinta. Rakyatmu sedang belajar memahami setiap aturan yang tersusun atas terbentuknya dirimu. Berperang melawan bangsa sendiri seperti merobohkan pondasi rumah satu persatu. Jangan terprovokasi, sampaikan pendapat dengan damai, dan yang terpenting kuatkan rasa persaudaraan antar umat beragama, antar bangsa dan bernegara. Karena kita, satu.

P.S. kepada aparat hukum, peranan dalam mengembalikan rasa percaya bangsa dan optimisme rakyat sangat bergantung pada sikapmu. Tegaslah. Usut. Dan tuntaskan. Terlepas dari Bapak Gubernur salah atau tidak, yang jelas banyak hati-hati yang menuntut kejelasan. 

*Sumber gambar utama: @felixsiauw FB.

Segala puji bagi Allah, atas segala kuasa-Nya. Wallahu alam bish-shawab.

Advertisements