Satu hal yang bisa membuat bahagia adalah kenangan. Kenangan manis tentunya. Dan hari ini, aku sedikit tenggelam dalam kenangan manis bersama Gele’ Rantisi. Sebuah kue-bola yang lebih marak dikenal dengan kue bantal. Aku larut dalam nostalgia.

Ahmad, salah satu sahabatku dari Bandung yang sama-sama sedang melakukan intensif pembelajaran, pagi ini membawa seplastik gorengan. Ada pisang goreng, dan ahh bola-bola itu!

Kue bantal. Di kampung ku, Pemalang, kue ini disebut gele’. Entahlah bagaimana asal-muasalnya. Meski bisa saja aku mengorek dalam-dalam perihal ini, namun bukan itu alasan terbesar untuk aku menulis tentang kue yang penuh kenangan ini.

Kue ini. Bertahun-tahun lalu menjadi kegemaranku. Dalam asuhan Simak Casmah, Budeku yang baru berpulang dua tahun lalu, beliau selalu membelikanku gele’ Rantisi hampir setiap pagi. Rantisi? Rantisi adalah nama penjualnya. Seorang ibu-ibu yang dalam ingatanku, ia mengenakan daster cokelat muda bermotif bunga-bunga kecil mirip melati, menggelar dagangan diatas meja pada sebuah pinggir jalan yang berbatu. Cukup jauh dari rumah Bude, tapi disitulah satu-satunya tempat untuk mendapatkan gele’.

Tidak terasa. Itu adalah kenangan hampir 20 tahun yang lalu. Kala aku masih balita. Waktu yang berjalan begitu cepat? Atau aku yang terlalu lamban untuk menyadari?

Sejak aku pindah ke Jakarta pada kelas dua Sekolah Dasar. Gele’ yang disini disebut kue bantal tidak lagi menarik perhatian. Aku hanya ingin gele’ Rantisi. Bukan kue bantal yang dijajakan berkeliling dengan gerobak biru bersama kue untir-untir yang keras. Biasanya, penjualnya adalah bapak-bapak dengan setelan celana bahan dan baju batik pudar sambil sesekali membunyikan alat mirip klakson mungil berbentuk terompet. Entahlah apa namanya, tapi tiruan bunyinya seperti “pffttt…. pfftt”. Bahkan aku tak bisa membayangkan bunyinya.

Dari sini aku sadar.

Bahwa terkadang, kita tidak hanya rindu akan sesuatu hal saja, tapi juga pada apa-apa saja yang berkenaan dengan itu. Sejujurnya aku rindu Bude. Rindu dengan cara-caranya yang cekatan dalam memperlakukanku sebagai anak angkat. Rindu kasih sayangnya yang sampai kini masih kurasa. Rindu mengingatkan untuk memakai sandal karena ia berjalan tanpa alas kaki bahkan keluar rumah. Rindu tanda lahirnya di pipi kiri yang seperti motif bulan hitam. Rindu cuping telinganya yang kendur. Rindu senyum manisnya meski giginya telah banyak yang tanggal.

Bude. Simak. Mak Uwo. Casmah Binti Darso. Tenanglah bersama keabadian. Aku sejujurnya agak sedikit lega ketika menyadari makam-mu berada tidak jauh dari makam Rasiyah binti Darso, Ibuku yang telah berpulang lebih awal empat tahun sebelumnya. Hanya berjarak beberapa langkah. Sehingga kupikir Ibu tak akan merasa kesepian disana.

Semoga untaian doa selalu tercurah untuk Bude dan Ibu. Kuharap kalian suka. Maaf jika doa-doa yang kukirim belum seenak gele’ Rantisi. :’)

 

Ditulis pada sebuah ranjang susun. Dengan suasana hujan yang mendera. Ponpes Myskatul Ardhi, Bintaro.

20 November 2016.

Advertisements