Dik, kapan tirai jendela kamarmu kau singkap? Kau buka dengan perlahan.

Tertemukanlah angin sore yang menghempas, pada suatu momen dimana hanya ada kau dan langit. Hanya ada kau dan semua-semua tentang senja.

Nikmati saja momen-momen itu. Kalau perlu, ajak secangkir kopi atau teh hangat dalam genggaman-mu. Belai semua memori dengan seksama, rasakan kesempurnaan senja yang selama ini kau lupakan.

Hanya ada satu kisah dalam satu senja. Ada satu kenangan dipeluk angin-angin semilir pada hari itu. Masihkah rasa tertahan akan fana? Masihkah sebuah ketulusan tertelan oleh kenaifan?

Lihat sayap-sayap lemah burung yang pulang ke peraduan. Lamat terbang perlahan menanti kepulangan. Hanya ada kau dan kebimbangan yang melenakan. Sadarlah. Setitik cahaya terasa hangat menampar wajah.

Pada suatu sore.

Kau tertegun menatap semburat jingga yang kian memudar, pada angin yang memaksa awan untuk berarak cepat nan tergesa. Pada pepohonan yang mulai sendu, menggugurkan dedaunan dengan rasa pilu.

Sang rembulan pudar semakin sumringah, hingga akhirnya matahari perlahan mengundurkan diri, tenggelam bersama singgasana-nya yang gagah. Ah, senja kau terlalu menyesakkan untuk dikenang.

Adakah senja-senja indah lainnya yang kau suguhkan?

Demi lantunan Kalamullah dari ribuan menara masjid di pinggiran kota. Maghrib segera datang, bukalah keran-keran air untuk bersuci. Secepat kau sadar, secepat awan hitam menutup langit yang kembali malam.

[Pondok Pesantren Misykatul Ardhy] Kampung Sawah-Bintaro, 07 Desember 2016

 

 

 

img_20161210_191657
Lokasi Foto: @Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. [Doc.Pribadi]
Advertisements