Dua orang sahabat itu sangat akur. Duduk satu meja di kelas 5 SD, belajar bersama, jajan bersama, bermain bersama, bahkan kalau liburan tiba, mereka sempatkan untuk menginap bersama di rumah satu dengan yang lain. Kadang di rumah  Farisi, bahkan tak jarang pula mereka habiskan beberapa hari di rumah Daniel.

Orang tua mereka sejatinya khawatir. Baik dari pihak Daniel, atau Farisi. Namun rasa persaudaraan lah yang menguatkan keduanya. Kini, Daniel dan Faris tidak lagi bisa sedekat dulu. Selain sekolah dan kesibukan yang menghalangi, masa-masa SMA rasanya timbul pemahaman-pemahaman yang harusnya tidak mereka dengar. Farisi menjadi seorang remaja masjid yang aktif, ia bersama anggota Rohisnya di SMA sering mendapatkan juara dalam lomba marawis. Ia hampir lupa bahwa ia pernah memiliki seorang sahabat lintas agama bernama Daniel, yang kini juga hampir melupakannya.

Daniel. Sekolah di SMA elite bernuansa ajaran Kristiani. Ia beberapa kali ikut olimpiade fisika tingkat SMA. Teman-teman seimannya kini lebih banyak ketimbang teman muslimnya seperti saat ia masih sekolah dasar. Terlebih, ia juga hampir tidak pernah menganggap muslim adalah sesuatu yang benar. Ia dan teman-temannya acap kali bercerita tentang hal-hal dan pengalaman yang mereka dapatkan selaku minoritas, ya pengalaman-pengalaman kurang berkenan atas perilaku muslim pada mereka. Belum lagi, tayangan televisi yang memang banyak mengandung unsur SARA, Daniel semakin menganggap umat muslim sebelah mata.

Farisi, dalam pengajiannya bersama seorang mentornya ia sekali pernah bertanya, ‘bagaimana hukumnya berteman baik dengan orang non muslim?’
Kemudian mentornya menjawab, tidak apa-apa, asalkan saling menghormati, dan suatu saat apabila terjadi perang antar agama, orang yang paling pertama harus kau bunuh adalah temanmu yang beda agama”.
Mendengar jawaban itu, Farisi bergidik. Ia tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti ia akan membunuh sahabat baiknya dulu, Daniel.

Suatu ketika, telah dilangsungkan reuni untuk alumni-alumni SD tempat Daniel dan Farisi bersekolah dulu. Keduanya bertemu. Canggung. Hening. Tiada lagi canda tawa seperti yang mereka sering lakukan seperti dahulu. Pada suatu kesempatan, akhirnya mereka bertegur sapa, Farisi menanyakan kabar dan memastikan akan kuliah dimana Daniel selepas kuliah?

Daniel menjawab pasti, ia bilang akan segera mengurus keperluannya untuk kuliah di Jerman. Dan kalau bisa tinggal disana sekalian. Farisi agak tertegun. Dan mengkonfirmasi hal itu.

“Memang kenapa tidak tinggal dan kembali ke Indonesia saja?” Tanya Farisi

“Kupikir itu pilihan yang buruk buatku, Ris, kau tahu, aku disini minoritas. Aku hanya ingin bertukar pikiran pada orang-orang yang mau menerimaku. Dan bukan disini”. Daniel menjawab agak gugup.

Reuni SD telah usai. Reuni sederhana itu meninggalkan bekas yang cukup menggalaukan perasaan Farisi. Ia merasa bahwa Daniel tidak betah disini karena terlalu banyak mendapat tekanan dan diskriminasi.

Lonceng gereja berbunyi Sabtu siang itu. Bersama dengan lantunan adzan Dzuhur dari masjid di seberangnya. Ah Langit, kenapa harus ada perbedaan yang membuat kami-kami ini terpisah sedemikian rupa.

Semoga Daniel dan Farisi ini hanya sebuah fiksi. Semoga.


Sumber gambar: http://www.instagram.com/p/BIqs7JQgWjk/

Ini adalah post pribadi yang sebelumnya telah diterbitkan di http://www.gerakan.dutadamai.id sebagai duta damai dunia maya dalam upaya pencegasan radikalisme.

Artikel asli: http://gerakan.dutadamai.id/2016/08/04/daniel-dan-farisi/

Advertisements