🐦🐦🐦

2015. Tahun ketika pertama kalinya aku menginjakan kaki disini, di negeri Jiran. Malaysia.

Bulan Ramadan yang telah lewat separuhnya, sempat kularungkan disini beberapa hari. Menelisik kehidupan sudut-sudut kota Kuala Lumpur.

Aku mampir ke Bangi. Setelah usai dari acara NIDA SUMMER Camp di Bangkok. Mendarat dengan haru di KLIA 2. Naik bus ke arah pusat kota, kemudian turun di Masjid Negara dan melanjutkan perjalanan menuju Bangi menggunakan KTM.

Asing. Jalanan tidak beda jauh dengan keadaan di Indonesia. Hanya saja lebih sedikit sepi. Orang-orang yang kutemui pun agaknya memiliki garis wajah yang bermacam-macam. Seperti Melayu, India, China, bahkan Arab. Beberapa orang Jawa pun sempat kutemui disini. Mereka menjadi TKI dan adapula yang berdagang.

Turun di St. Bangi, disana ada sebuah universitas UKM kalau tidak salah. Aku menelpon Abi Farah, salah satu guru ngajiku di Rawamangun yang kini sudah beberapa tahun pindah tugas ke Malaysia.

Beberapa saat kemudian, Abi Farah dan Abi Uzer datang menggunakan sebuah mobil sederhana berwarna silver. Aku tak ingat apa merek mobil itu.

Perjalanan dari stasiun ke asrama Bangi (Pondok Pesantren Tahfidz UICCM) sekitar 15 menit. Di perjalanan kami sempat mampir ke sebuah toko swalayan. Sesampainya di asrama, semua murid menyangka aku seorang ustadz, lucu memang, apalah aku masih seorang mahasiswa kala itu, yang tak sengaja mampir ke Malaysia dan berjalan-jalan sedikit ke sudut-sudut Kuala Lumpur, dan ke Twin Tower Petronas tentunya.

Asrama Bangi tidak beda jauh dengan asrama-asrama Sulaimaniyah di Jakarta. Rapi, bersih, dan tertata.

Esok harinya, setelah sahur dan shalat subuh (kebetulan hari Jumat) aku pamit untuk menuju UKM untuk berkunjung, kemudian melanjutkan ke Masjid Negara untuk shalat Jumat, setelah itu aku menuju Petronas.

Ah betapa terik di Malaysia sama saja seperti di Indonesia. Namun aku menikmati tiap jalanan yang kutapaki. Hi Malaysia, tak terasa, aku sudah disini. Bersamamu.

Sayap-sayap Gagak di Petronas

Dahaga dan peluh, aku mematung di depan twin Tower.

Sekumpulan gagak hilir mudik terbang kesana-kemari. Seperti mengintai, menguntit.

Panas yang menerpa, ternyata mampu membuat rinduku pada Indonesia, Rawamangun, dan isi-isinya.

Tentang rindu yang sulit dijelaskan. Tentang biru awan yang menyelimuti langit Kuala Lumpur siang itu.

Tentang seorang wanita yang kutemui di depan Petronas. Seorang turis dari Taiwan. Baik dan pengertian. Ia memotretku. Aku juga memotretnya.

Wanita berkulit putih dengan rambut panjang hitam legam terikat karet cokelat dan memakai topi.

Kami berpisah tanpa suara. Bahkan aku tak tau siapa namanya. Pertemuan pertama sekaligus terakhir.

Aku pulang ke asrama. Melewati jajanan yang dijajakan, para tuna wisma berwajah arab dan india. Ah tiada beda seperti di Kota Tua, Fatahillah.

Pada sebuah kota. Sayap-sayap patah gagak yang hilir mudik. Berserakan mengantarku pergi untuk berkata bahwa aku lebih baik pulang ke asrama.

Sampai bertemu lagi. Twin Tower. Tak pernah ku rencanakan untuk mengunjungimu sebelumnya, dan ini adalah salah satu kejutan.

Aku juga tidak tahu sebelumnya, pada kota dimana kau didirikan, banyak sayap-sayap burung gagak yang senantiasa beterbangan.

🐦🐦🐦

Advertisements