2k16 dalam hitungan jam akan segera berakhir. Namun tak dapat kutuliskan apa-apa pada sebuah tulisan sederhana yang kuanggap sebagai catatan akhir tahunku yang paling terlambat. Sampai akhirnya beberapa iring-iringan cerita ini tercipta.

Selain kelulusan-ku, nyatanya tahun ini begitu sepi untuk aku dapat mengungkapkan sebuah memori. Dan kali ini tentang kamu lagi. Ya, Ibuku. Aku memasuki pelataran makam yang sepi, sore itu. Bersama adikku, Susi, membawa beberapa tabur kembang yang kami dapat dari perempuan-perempuan paruh-baya pemetik bunga di sebuah desa bernama Pamutih.

Aku juga berniat mengunjungi makam Mbah Kakung-Darso, Mbah Putri-Tasmonah, serta makam Bude Casmah. Kami terlalu cepat menyimpulkan bahwa keadaan tanah sekitar makam pada gapura bagian kiri yang jalannya telah diaspal. Syukurlah. Akan baik-baik saja, namun nyatanya bagian itu kami dapati telah tergenangi oleh beberapa kubik air dan tak bisa dilewati begitu saja kecuali harus memutar jalan, melewati rumah-rumah oranye yang dapat dilalui dari jalanan berbatu. Jalan itu, kutemukan kala sekitar empat tahun yang lalu, Bu De Casmah menjemputku pada sore-sore buta ketika aku sedang khusyuk memanjatkan beberapa doa untuk Ibuku, tepat disisi makamnya-yang sederhana.

Jalanan yang kami lewati dengan sepeda, akhirnya tertaklukan dan membuat kami bahagia dapat mengantarkan beberapa kelopak melati, mawar, dan kenanga untuk keempat makam. Dimulai dari makam Ibuku. Kakek. Dan Nenek. Kami mengirimkan Yaasin dengan syahdu. Tak lupa, juga untuk Bude meski kami belum sempat menemukan makamnya.

Menabur bunga, merasakan kasar kayu papan nama yang semakin keropos, menjamah tanah-tanah yang kokoh namun kuat. Didalamnya terdapat Ibuku, terpeluk bumi, bersemayam dengan tenang, kuharap dengan wajah sumringah.

Setelah itu, kami menelusuri komplek makam kearah timur, syukurlah makam Bude tertemui dengan mudah. Bude Casmah.

img-20161221-wa0056

Advertisements