“Pengetahuan adalah Senjata Yang Paling Hebat Untuk Mengubah Dunia.”

Nelson Mandela

16 – 28 Juni 2015
Part 1 #Persiapan

Tiada duga, bulan Juni menjadi salah satu bulan penuh bahagia. Setelah dua bulan lalu tepatnya di bulan April 2015 aku mendapatkan kesempatan mengunjungi Bangkok (Thailand) dalam program AUSA (Asean University Student Assembly), kini aku harus mengunjungi negeri Gajah Putih itu (lagi) untuk yang kedua kalinya namun dalam acara yang sedikit berbeda yaitu 4th NIDA Summer Camp 2015.

img-20150512-wa0006
Email of Acceptance [4th NIDA Summer Camp]

Teringat bulan Februari hingga Maret lalu, aku melakukan aplikasi hingga larut malam pada sebuah warnet di Jl. Waru Rawamangun untuk meng-upload semua aplikasi yang harus dilampirkan yang berupa satu dokumen berisi scan form yang diminta, seperti essay, formulir, surat keterangan dokter, TOEFL, dan kartu-kartu identitas lainnya. Sebetulnya, aku lebih dulu mendaftar NIDA ini ketimbang AUSA. Namun pelaksanannya memang lebih dulu AUSA.

Seperti kegiatan sebelumnya, dalam mempersiapkan keberangkatan akupun selalu sibuk dengan urusan sponsorship, proposal, perizinan, dan segala macam keperluannya. Sejak salah satu campers menghubungiku via Facebook Messenger atas pengumuman bahwa telah dinyatakan lulus untuk mengikuti kegiatan tersebut, aku seakan tak mau menyiakan waktu sedikitpun untuk persiapan.

Berbeda dengan persiapan AUSA, dalam persiapan NIDA kali ini aku sedikit lebih tenang. Dalam artian, aku tidak ingin membuat kegaduhan sebelum aku di pastikan benar-benar berangkat. Tanggung jawabku hanya flight keberangkatan dan kepulangan, dan selama program berlangsung disana, semua akomodasi, transportasi, dan asuransi menjadi tanggung jawab pihak penyelenggara, yaitu NIDA (National Institute Development Administration).
Sejak dinyatakan sebagai successful aplicant pada pertengahan akhir bulan Mei melalui website resmi NIDA oia.nida.ac.th serta e-mail yang dikirim dari Mr. Nok (salah satu panitia 4th NIDA Summer Camp) ini, aku fokus untuk menyiapkan segala macam keperluan selama kegiatan seperti biaya transport flight PP, perizinan, proposal, dan surat rekomendasi. Kami selaku campers dari Indonesia yang berjumlah 11 orang yang terdiri dari mahasiswa/i dari berbagai universitas di Indonesia.

Berikut adalah list campers dari Indonesia:
1. Adhistia Virdhianti Yudhanti (Universitas Gadjah Mada)
2. Sheila Reswari (Universitas Gadjah Mada)
3. Bea Regina Marcendy (Institut Teknik Bandung)
4. Qistina Yusuf (Universitas Batam)
5. Eka Damanas Febrianto (Universitas Bisnis Batam)
6. Dian Ratna Mahita (Universitas Indonesia)
7. Aisyah Suci Kirana (Universitas Indonesia)
8. Surur (Universitas Negeri Jakarta)
9. Qonitah Basilim (Universitas Airlangga)
10. Cecep Soepardy (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
11. Nanda A. Noor ( s2 Online Swedia/ Institut Teknologi Bandung)

Kami juga membuat grup di Line, WhatsApp, dan saling berkomunikasi dalam persiapan kegiatan di Bangkok. Performance seperti menari dan drama sempat kami diskusikan, cindera mata untuk pihak NIDA pun kami siapkan.
Sebetulnya, flight dari Jakarta ke Bangkok tidak terlalu mahal. Hanya sekitar 2 juta rupiah untuk pulang pergi. Namun karena saving-ku tak mengcover, akhirnya ku ciptakan puluhan proposal untuk diajukan ke beberapa instansi seperti:

Fakultas Ekonomi UNJ
Jurusan Seni Tari UNJ
Universitas Negeri Jakarta
POM UNJ
Kemendikbud
Kementerian Pariwisata
PT. Pertamina (Persero)
Grolier Indonesia
Oppo Indonesia
Garuda Indonesia
Laznas Bank Syariah Mandiri
Indosat
E.t.c

Tanpa lelah hingga lelah mulai menyelimuti aku tetap menyebar proposal itu ke semua institusi maupun perusahaan yang sudah aku list. Berharap keajaiban datang dan menghampiri. Tapi namanya juga usaha, pasti ada saja hal-hal yang membuat mental ini diuji seperti berupa penolakan yang pahit, pemberian harapan palsu, hingga penantian tiada akhir.

Ada hal menarik ketika aku mencoba mengantarkan proposal ke Indosat yang gedungnya terletak dekat patung kuda, Monas. Sesampainya disana aku diarahkan oleh security dan resepsionis untuk menuju gedung di seberang, yaitu Wisma Antara lantai 2. Dalam perjalanan menyeberang jalan, aku kaget ketika tanpa sadar polisi dan pengunjuk rasa yang datang dari lapisan masyarakat seperti ormas, LSM, mahasiswa, dan pekerja akan melakukan aksi demo. Mereka terdiri dari ratusan orang dalam puluhan metro mini. Sungguh pengalaman perdana berjalan di tengah-tengah dua kubu yang saling sengit, polisi dan pengunjuk rasa. Teriakan demi teriakan terdengar berhamburan ke udara dan terasa memekakan telinga.

Back to the topic, persiapan menyebar proposal sudah selesai tinggal men-follow up lebih lanjut, dalam hati aku terus berdoa semoga ada instansi yang berbaik hati. Namun hingga akhir batas waktu pengiriman jadwal flight kepada pihak NIDA, tanda-tanda itu belum juga terlihat. Akhirnya aku mengirimkan e-mail meminta perpanjangan waktu. NIDA mengabulkan. Di titik inilah akhirnya aku mulai banting stir dengan menghimpun dana sebisa mungkin dengan mengikuti event-event yang menghasilkan dana seperti menjadi pengawas SBMPTN, mengikuti seminar, dan mengajar les bimbel maupun privat. Akhirnya, ada intitusi yang menerima proposal seperti POM UNJ, Kementerian Pariwisata, dan Seni Tari UNJ, namun dana yang terkumpul masih saja kurang. Dengan ditambah-tambah penghasilan fund raisingku akhirnya dana flight terpenuhi, ini juga dibantu oleh seseorang berhati emas yang menolongku. Asik!

img_20150612_2
[Fitting] Support dari Senior Tari UNJ berupa Baku Ada untuk Culture Performance

Saatnya memilih jadwal penerbangan!
Perjalanan kali ini tak ingin kusia-siakan. Aku ingin lebih berkesan dari sebelumnya. Kuputuskan untuk membeli flight yang menguntungkan. Karena aku belum pernah ke Changi International Airport di Singapore, aku memesan tiket yang memang mengharuskan transit di bandara tersebut. Kemudian untuk kepulangan, aku disarankan untuk mampir ke asrama Sulaimaniyah di Bangi dekat Kuala Lumpur, Malaysia!

Terbentuklah rute ini: Indonesia-Singapore-Thailand-Malaysia atau Jakarta-Singapore-Bangkok-Kuala Lumpur.

Sampai bertemu di Singapore, Bangkok dan Malaysia!

Ah. Aku tak sabar untuk bercerita semuanya, kenangan muda yang penuh dengan petualangan :). Suatu hari, aku percaya bahwa langkah-langkah menuju impian ini akan dapat menginspirasi banyak orang, semoga.

Advertisements