Jomblo itu nasib,  namun single adalah pilihan.

Anonymous

Ada beberapa raut wajah yang menyeruak ketika kudengar kata ‘pacaran’. Wajah-wajah yang membuatku begitu pilu sekaligus sumringah kala mengenang mereka dalam bayang. Wajah demi wajah yang kutemukan, kukenal, kemudian pergi ataupun kutinggalkan.

Sebelum kukemukakan ‘how to be a single‘ versi dariku, izinkan kusuguhkan beberapa puzzle kisah dalam aku menarik kesimpulan mengapa menjadi single adalah sebuah pilihan.

Based On True Story_


Pertengahan April 2010.

Memasuki usia 17 tahun bagi seorang laki-laki adalah masa-masa penuh tantangan. Semuanya penuh dengan kejutan. Dalam mata pelajaran biologi di SMP, telah kita ketahui bersama tentang ciri-ciri masa pubertas, baik pada laki-laki maupun perempuan. Oh.. ternyata begini rasanya. Suara memberat, bulu-bulu pada beberapa bagian tubuh yang ‘agak’ menganggu, mimpi yang aneh namun menyenangkan, hingga rasa yang sulit diungkapkan apabila dekat-dekat dengan lawan jenis. Ah, betapa bahagianya masa remaja, dimana masalah terberat adalah lupa cukur kumis di hari jumat.

Usia 17 juga mengajarkanku indahnya jatuh cinta. Setelah beberapa kali khatam buku The Broken Wings-by Kahlil Gibran, imajinasiku tentang cinta rupanya makin kompleks. Betapa penyair mahsyur asal Lebanon itu telah menyihir dan secara tidak sadar mengkonstruksi pandanganku tentang apa itu ‘kasih sayang’, ‘keindahan’, ‘kecantikan’ dan ‘pengorbanan’.

Gibran menuliskan tiap kata dengan indah. Meluluhkan hati siapa saja melalui aksara demi aksara yang ia rajut. Tentang perasaannya, tentang kekasihnya yang mati muda, Selma Karami.

Sore itu, pertama kalinya aku melihat ‘dia’ di depan sekolah. Gadis berkerudung putih, dengan wajah imut bermata sipit, dengan suara yang jenaka. Sebut saja namanya, Rose. Selma Karami versi-ku. Kurasa Rose dan Selma mirip, bedanya Selma digambarkan Gibran sebagai sosok wanita jenjang dengan rambut terurai hitam legam, sementara Rose memakai hijab langsungan.

Rose ternyata satu angkatan denganku, tetapi berbeda jurusan. Lelaki 17 tahun yang penasaran dengannya menempuh berbagai cara untuk mendapatkan informasi lengkap tentang dirinya. Aku tak percaya, bahwa cinta pertamaku adalah Rose, perempuan imut yang menyelimuti hari-hari indahku selama di sekolah kejuruan.

28 Mei 2010. Aku berpacaran dengan Rose. Semua orang mendukung, baik teman-temanku juga sahabat-sahabatnya Rose. Tak lupa, kami sempat mengubah status hubungan di Facebook. Dari single, menjadi ‘bertunangan’.

Sekali lagi, betapa serunya masa remaja. Dimana hal terindah adalah pasang status ‘bertunangan’ atau ‘menikah’ kemudian di approve oleh pacar, dan serbuan komentar membanjiri notifikasi dengan membabi buta.

And what the happened, then?

Berpacaran adalah step dalam kehidupanku yang bisa dibilang cukup absurd. Kupikir. Selama kurang lebih 4 tahun, aku menjalin hubungan dengan Rose. Suka cita, duka, putus, nyambung, benci, marah, cemburu, semuanya menjadi bumbu-bumbu yang kurasa, apalah-apalah.

Cinta masa sekolah yang kupikir sempurna. Semua orang tahu bahwa aku dan Rose punya ‘hubungan’ yang positif, bahkan guru-guru, orangtuaku, orangtuanya. Semua tahu bahwa kami punya hubungan ‘pacaran’ yang baik.

Aku dan Rose adalah murid terbaik di jurusan masing-masing. Aku ketua PMR, dan Rose adalah ketua ekskul Paskibra. Sampai-sampai kami mendapatkan sebutan ‘The great couple ever’ dari orang-orang. Entahlah, aku merasa itu terlalu berlebihan.

Mungkin berpacaran bagi sebagian orang kala itu adalah suatu kata yang berarti tidak pantas atau tidak seharusnya dilakukan. Dan aku dan Rose tidak peduli-kala itu. Aku menganggap mereka semua adalah haters, terlebih anak-anak Rohis di sekolahku yang memang alergi sekali dengan virus merah jambu. Hmm, sok suci, pikirku waktu itu. Padahal banyak juga diantara anggota mereka yang pacaran.

Ah lagi-lagi ABG, masa terindah dimana hal paling asyik adalah men-judge orang-orang tapi lupa berkaca. Tenang, semua orang kupikir mengalami atau setidaknya menemui masa-masa itu.

Memasuki tahun ke-4.

Lulus sekolah kejuruan. Hubunganku dengan Rose kian renggang. Tiada lagi belajar bersama, tiada lagi pertemuan yang dahulu selalu terjadwal, dan tiada lagi ‘janjian di kantin’. Semuanya berubah, menjadi hubungan jarak jauh atau LDR. Aku harus pindah karena diterima di salah satu kampus negeri di Jakarta, sementara Rose bekerja sebagai tenaga admin di sebuah perusahaan penghasil pintu besi.

Hari berganti hari. Memasuki semester dua, kami putus.

Dunia seakan-akan berhenti berputar, patah hati ternyata semenderita ini. Aku terpuruk sekali. Apalagi, ketika kuselidiki bahwa tak lama setelah kami putus, Rose punya kekasih baru. Rekan kerjanya. Seorang pria kurir ekspedisi.

Ah -Kahlil Gibran, Rose-ku tidak seperti Selma Karami punyamu yang tetap setia hingga akhir hayat. Rose-ku ternyata jahat. Namun aku menyadari bahwa, itu bukan salah Rose. Itu adalah murni alur kehidupan, tiada yang patut dipersalahkan.

Semasa kuliah pasca putus dari Rose, aku sama sekali tidak bergairah untuk mencoba memulai hubungan lagi dengan siapapun. Sepertinya aku tak ingin merasakan sakit hati lagi. Terlebih, sejak kuliah aku tinggal di sebuah asrama muslim yang dengan bijak melarang mentah-mentah ‘pacaran’ apapun alasannya. İtulah sebab aku memilih single.

Jujur, kalau aku mau, bisa saja menjalin hubungan dengan beberapa orang yang memang sempat kusukai di kampus, namun hati kecilku selalu mengingatkan bahwa ‘pacaran’ bukanlah jalan yang benar. Saat itu aku lebih baik mengalihkan perhatian dengan fokus kuliah.

Dan virus itu datang lagi…

Manusia, tempatnya salah dan khilaf. Seberapapun mencoba untuk terus istiqomah, ada saja hal-hal yang membuat lalai.

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


Pertengahan April 2015.

Kesibukan-ku kuliah, organisasi, dan belajar ilmu agama di pondok secara masif mengharuskanku agar jauh dari kata ‘pacaran’. Namun, pada April 2015 virus merah jambu itu datang. Ketika sedang melakukan kegiatan kemahasiswaan tingkat internasional di Bangkok, aku bertemu Urn. Mahasiswi ilmu sosial Thammasat University, Thailand. Aku sudah cerita panjang lebar tentang Urn pada postingan Gadis Kuncir Kuda.

Sempat terbesit apa jadinya jika aku berpacaran dengan Urn, ia seorang pemeluk budha yang agak kurang taat. Kupikir ia akan taat ketika menjadi seorang muslim.

Aku masih sering bertukar kabar hingga sekarang, terkahir, ia tengah kehilangan seekor anjing cokelatnya yang mati setelah bertahun-tahun hidup bersama dengannya.

Urn. Perempuan manis dari Songkhla Province yang sedikit banyak mengalihkan wajah Rose dari bayanganku. Setidaknya wajah Rose terasa lebih samar berkat kehadiran Urn. Kini wajah-wajah dalam bayangku bertambah jadi dua. Urn dan aku sepertinya lebih cocok menjadi sahabat. Ya, teman lintas negara dan agama. Terdengar keren.

Sejatinya, aku inginkan satu wajah saja. Yang akan terus kubingkai dalam bayanganku tentang ‘cinta’. Selamanya.

Tentang istri, mungkin.

Salam dari Jakarta untuk sahabatku Urn. Kudengar kabar kau sudah punya kekasih. Tampan dan pintar. Selamat! Semoga kalian segera menikah.


September 2015.

Aku bersusah payah berusaha menutup hati untuk tidak pacaran. Namun kisah terakhir tentang ‘pacaran’ ini benar-benar membuktikan bahwa aku harus kerja keras ekstra untuk komitmen terkait urusan hati. Selama ini aku sadar, aku masih payah akan itu.

Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) aku menjalin hubungan dekat dengan Lily (nama panggilan untuknya). Entah apa yang membuat tiba-tiba kami dekat dan saling mencintai. Mungkin ketika kami satu penempatan di lokasi KKN pada Agustus tahun sebelumnya.

Lily, perempuan cantik, hitam manis, seorang anak dosen di kampusku.

07 September 2015, Lily amat mengingat baik tanggal itu. Setiap bulan kami saling bertukar ucapan selamat ‘anniversary’.

Lily baik dan penyayang. Pendiam, tidak banyak tingkah, serta sopan. Aku juga masih heran mengapa ia membuka hatinya untukku. Dan aku? Mengapa pula terjebak kembali dalam sebuah lembah ‘pacaran’.

Usia 22, aku lebih serius. Lily bukan lagi objek yang kupikirkan kala usiaku masih belasan tahun. Tapi, aku sempat terbesit untuk menikah dengannya. Kami sama-sama bertekad melanjutkan s2 setelah lulus kuliah. Dan menikah yang kami idam-idamkan ternyata tidak berjalan mulus.

Tidak genap 1 tahun, kami berpisah. Namun tetap menjalin komunikasi layaknya sahabat.

Terimakasih atas kebaikan dan kesabaranmu, Ly. Menghadiri pentas-ku pada GF Abang None Buku baik tingkat kotamadya maupun provinsi. Kau selalu hadir dan membawakan seikat bunga. Aku terharu kala mengingat-ingat kebaikanmu.

Justru dengan berpisahlah aku membalas semua niat tulusmu. Kau tidak pantas dipacari, lebih pantas dinikahi. Dengan seseorang yang tepat pastinya.

Aku percaya, entah dirimu, Rose, ataupun Urn sekalipun nantinya yang akan menjadi jodohku setidaknya kuucapkan terimakasih pada kalian yang telah sudi singgah di hati yang sederhana ini.

Jujur, raut wajah selain Rose dan Urn bertambah lagi. Yaitu kamu, Lily. Meski ketiganya punya porsi masing-masing.

Ini bukan perkara mudah.


How to be a single’?

Single itu asyik loh. Pacaran itu ribet sekali. Jadi jika ada yang bertanya bagaimana caranya bisa bertahan dalam ke-single-an itu? Jawabannya ada di sahabat. Perbanyak sahabat dan teman-teman akan membuat lupa bagaimana sepinya menjadi single.

Dari ketiga puzzle kisahku diatas, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran bahwa pacaran bukan jalan yang baik untuk menemukan seseorang yang cocok dalam hidup kita. Ya meskipun banyak juga yang sukses mendapatkan pasangan ideal melalui pacaran, tapi banyak pula kan yang malah terjerumus? Malah presentasinya lebih besar. Angka kehamilan diluar nikah dan kekerasan dalam pacaran di Indonesia sendiri kian meningkat.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty mengungkapkan, angka kehamilan di kalangan  remaja Indonesia cukup tinggi, yakni 48 dari 1000 remaja.

Sumber: m.suara.com

Tidak setiap pacaran akan berujung pada zinah, namun setiap zinah pasti berawal dari pacaran. Sebuah nasihat untuk aku, kamu, dan kita. Mari saling mengingatkan.

Kalau kata ustadz Felix Siauw “udah, putusin aja”. Percayalah, pacaran setelah menikah akan jauh lebih indah ketimbang sebaliknya. Mungkin aku kini tak akan pernah dibayang-bayangi wajah-wajah itu dan dapat menjalani hidup dengan damai. Namun apa daya, Tuhan secara berkala memberikan hikmah melalui kejadian-kejadian yang kita temui.

Jika semua orang mencari? Lantas siapa yang sedang memantaskan diri?

Jodoh, maut, dan rejeki itu perkara Allah. Percayalah waktu yang akan menjawab segala gundah lewat skenario-Nya yang begitu indah.

Salam single! Salam bahagia.


Kudikasikan tulisan ini untuk Komunitas Blogger UNJ (KOMBUN) sesuai dengan tema bulanan #KombunJan2017

Sumber Image Future: https://abstract.desktopnexus.com/wallpaper/1572933/

Advertisements