Satu-satunya hal yang tak pernah lekang oleh waktu pasca ditinggalkan, adalah kenangan. Ia akan terus hadir, namun seharusnya ia memiliki kadar yang memudar seiring berjalannya waktu. Ya, entah manis ataupun pahit sejatinya hidup harus tetap berjalan.

Perempuan setengah baya itu tampak gusar. Sudah setengah jam lebih di hari yang masih amat pagi itu, ia duduk pada tangga sebuah pelataran hallroom. Ekor matanya bergerak tak henti ingin menangkap sesuatu yang ingin ia temukan. Di halaman gedung hijau muda itu, perempuan dengan rambut hitam pudar terduduk gelisah menanti seseorang. Riasan wajah yang natural, serta tatanan rambut tergelung cukup rapi menandakan bahwa sebelum subuh ia sudah menyiapkan diri sebaik mungkin.

Di sisi kanannya, tengah duduk pula seorang perempuan agak tua-berdandan senada- berusaha menenangkan saudara perempuannya itu.Sesekali mereka membelai seikat mawar-mawar putih dalam genggaman yang nantinya akan diberikan pada putra Rasiyah usai wisuda.

Sinang endi toh yu, kok urung tekan. Opo jangan-jangan kelayah turu kae bocah. Duh Gusti” (Anakku mana ya Mbak, kok belum datang. Apa jangan-jangan kesiangan bangun tidurnya. Ya Allah)

Sabar toh Ras. Koyone koe sih sing kegasik’an. Kie be esih sepi kok gedunge” (Sabar saja Ras. Kayaknya kamu yang terlalu kepagian. Ini aja masih sepi banget gedungnya)

Terdengar sayup-sayup mereka berbicara dengan bahasa Jawa Pantura. Biasanya aksen ini digunakan di daerah Jawa Tengah bagian utara tepatnya di pesisir pantai Laut Jawa.

Perempuan agak tua itu menenangkan adik perempuannya. Sesekali telapak tangannya yang agak kasar menepuk-nepuk bahu adiknya.

Aku ra sabar nyawang anak lanangku sing pinter dewe nganggo klambi kebesaran. Klambi khusus wong pinter. Opo sih kae arane… klambi koyo jubah kui lho sing ireng-ireng?“(Aku gak sabar mau lihat anak lelakiku yang paling pinter pakai baju kebesaran. Baju khusus buat orang-orang pinter. Apa sih itu namanya, yang warna hitam-hitam itu?)

Toga. Klambi toga” (Toga. Baju Toga)

Iyo kuiloh klambi Toga. Mimpi opo ora kie aku ape nyaksiake anakku wisuda. Ya Allah Gusti” (Iya itu, baju toga. Mimpi apa nggak ini aku, mau lihat anakku wisuda.Ya Allah)

“Ora Ras, koe ora mimpi. Akhire cita-citamu di kabulkan maring Gusti Allah. Ra sio-sio koe ndungo awan-bengi nggo sinang” (Enggak Ras, kamu gak mimpi. Akhirnya cita-citamu dikabulkan oleh Allah. Gak sia-sia kamu doa siang malam buat anakmu)

Keduanya nampak serasi menggunakan kebaya putih gading, dengan bawahan kain jarik batik yang halus terasa jatuh seolah melayang.

Rasiyah memiliki seorang putra.

Tersebutlah kedua kakak beradik itu bernama Cas dan Rasiyah. Rasiyah berumur sekitar 51 dan Cas berumur 59 tahun.

Semilir angin pagi pada pelataran JI-expo terasa hangat. Mentari perlahan-lahan muncul dan memantul pada kaca-kaca gedung kelabu. Pagi nampak cerah. Secerah wajah Rasiyah yang tak sabar melihat putranya datang.

Calon wisudawan dan wisudawati mulai datang berbondong-bondong. Ada yang datang dengan Ibunya, bapaknya, kakak, keluarga besar, dan sanak saudara. Nampak diluar pelataran gedung jalanan terlihat padat merayap, mobil-mobil menjejal masuk berharap masih kedapatan parkir. Suasana pelataran ballroom berubah agak semrawut. Rasiyah masih menunggu dan mencari sosok putranya.

06.47 WIB

Tiga menit lagi pintu hallroom akan ditutup, namun putra Rasiyah belum nampak batang hidungnya. Akankah ia melewatkan kedatangan putranya itu? Apakah putranya sebetulnya sudah ada didalam. Ia cemas.
Wis, ora usah khawatir yo. Koe Karo aku Nang kene wae, Ras. Sedelo neh acarane mulai. Njo mlebu. Jangan-jangan anakkmu wis nang njero. (Udah, gak usah khawatir ya. Kamu sama aku disini aja, Ras. Sebentar lagi acaranya mulai. Jangan-jangan anakmu udah di dalam)

Ora Yu, aku ape nunggu anakku sedelo nehh… pasti anakku urung teko… (Gak Mbak, aku mau nunggu anakku sebentar lagi… pasti anakku belum datang..)

Tiba-tiba di sisi barat, tengah berlari seorang anak laki-laki. Memakai baju toga lengkap dengan topi dan pantofel hitam. Terbirit-birit menuju pintu masuk wisudawan yang mulai lenggang dan akan segera ditutup. Tangannya memegangi topi toga yang ia kenakan agar tidak jatuh sementara tangan yang satunya membawa tas kecil mungkin berisi handphone, dompet, dll.

Ahh.. kae anakku! Ayoo yu mlebu Ayoo. (Ahh.. itu anakku! Ayo Mbak masuk ayoo)

Rasiyah berteriak kegirangan. Menyeret kakak perempuannya menuju pintu masuk undangan orang tua.

Ayo-ayo. Anakku ape diwisuda! (Ayo-ayo. Anakku mau diwisuda!)

Teriaknya lagi sambil berlari-lari kecil. Cas mengimbangi langkahnya. Kelopak demi kelopak mawar yang mereka bawa terjatuh di lantai mengiringi langkah cepat mereka.

Sesampainya di dalam, Ras dan Cas duduk pada kursi-kursi undangan yang masih kosong. Tidak terlalu belakang namun cukup jauh dari panggung dan kursi-kursi para wisudawan.

Acara berlangsung khidmat, diiringi dengan paduan suara yang merdu, janji wisudawan, amanat dan pesan dari rektor, serta penggeseran tali toga secara simbolis.

***

11.17 WIB

Rasyah akhirnya menemukan sosok putranya. Usai wisuda, ditengah suasana yang cukup semrawut. Putranya sedang asyik berfoto-foto ria dengan teman-temannya dan orang tua mereka.

Rasiyah dan Cas mendekat dalam bisu, berharap niat mereka untuk memberikan doa, peluk, dan ucapan selamat serta bunga segera terwujud. Namun langkah keduanya terhenti. Kala putranya hanya bisa menangis dalam ramai. Tetes-tetes air mata itu datang begitu saja pada bola mata putra Rasiyah.

Hey, kenapa sedih? Kan ada kita-kita.

Tutur teman-teman putra Rasiyah.

Iya.. gak apa-apa kok. Gue cuma nyesel aja, kenapa Ibu gak bisa hadir disini sekarang. Menyaksikan gue lulus kuliah. Gue lulus jadi sarjana. Gue gak bisa bikin Ibu gue bangga gitu, kayak kalian dan wisudawan lain. Harusnya gelar ini bikin Ibu bangga sekarang.

Tangis putra Rasiyah tak terbendung. Iya menutupi wajah dengan topi toganya. Menangis tanpa suara. Hanya Isak yang terdengar samar. Teman-temannya segera memeluknya erat.

Jangan gitu ah… kamu masih punya kita-kita. Gue yakin seyakin-yakinnya Ibu lo pasti sekarang dateng, cuma kita aja emang gak bisa lihat. Udah beda alam, beda dunia. Jangan rusak hari bahagia Lo dengan sedih-sedihan ya, Allah punya seribu rencana indah buat Lo. Oke 🙂

Teman-temannya menguatkan. Namun putra Rasiyah seolah sangat rapuh dan sedih. Rasiyah tau bagaimana kesedihan putranya itu.

Putra Rasiyah dan teman-temannya kemudian pergi dan masuk ke sebuah mobil. Kesedihan itu sepertinya kembali reda. Putra Rasiyah terlihat berusaha tersenyum sekuat tenaga karena teman-temannya berusaha menghibur.

***

Pada sebuah sore.

Rasiyah terduduk lesu. Air matanya tak terbendung untuk jatuh dan membasahi wajahnya. Cas berusaha menenangkan. Rasa rindu yang membuncah nyatanya harus segera dipendam dalam-dalam. Ingin sekali ia memeluk putranya. Membisikan kata bahwa “Ibu bangga padamu, Nak. Ibu tau semua perjuanganmu, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Ibu akan selalu ada untuk kamu, Nak”.

Pelataran JI-Expo mulai sepi. Awan mulai gelap pertanda hujan akan turun. Wisudawan dan wisudawati serta orang-orang berhamburan perlahan membubarkan diri. Rasiyah dan Cas terbang melayang meninggalkan kelopak-kelopak mawar putih. Berjatuhan.

Jatuh satu-satu, bersama titik-titik gerimis yang perlahan membasahi bumi.


Kupersembahkan tulisan sederhana ini untuk mendiang Ibuku, Rasiyah. Ibu telah menghadap Sang Maha Kuasa sejak September 2010. Siapa saja yang telah membaca postingan ini sampai habis, saya meminta keikhlasannya untuk dapat memanjatkan doa serta sebuah surat Al-Fatihah untuk Ibu saya, Rasiyah Binti Darso.

A’udzubillahiminasyaitonnirrojiim. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin…………………

Advertisements