Aku tau bagaimana rasanya kehilangan. Aku tau bagaimana rasanya menahan tangis saat benar-benar tak sanggup lagi membendung kepedihan. Namun aku tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan, tanpa tahu apa makna kehilangan itu sendiri.

Tanpa kau ceritakan, aku paham. Senja dua minggu lalu adalah senja paling memilukan untukmu, Nabila. Aku harus menyaksikanmu terisak dan berurai air mata di sudut kelas. Aku mengantarkanmu menuju sekolah bersama kakakmu, Susi. Kau tersedu, tak bisa membendung kesedihan yang dalam. Aku sangat tahu persis posisimu. Akhirnya, kutinggalkan kau, Nab. Aku dan Susi beranjak pamit menuju rumah Lik Ti.

Dari Rumah Lik Ti, Setelah berpamitan, kami menuju sekolah lagi. Dan mendapatimu masih terisak diliputi kesedihan. Aku mencoba menenangkannmu, memelukmu dan memberikan pengertian, tangismu semakin pecah. Nabila, adikku yang manis dan penurut, bertahanlah. Aku yakin kau anak yang kuat dan pemberani. Aku percaya.

Setelah aku berpamitan pada beberapa guru termasuk Ibu Salamah, aku mendapatimu sudah kembali bersenandung, sudah tak tampak air matamu Nabila. Kau berlari-lari kecil pada bangsal sekolah. Syukurlah, aku bisa meninggalkanmu dengan lega. Membawa Susi ke pondok pesantren tempat ia menuntut ilmu selanjutnya.

Nabila, adikku yang manis dan baik hati. Tas baru dengan parasut pesananmu akan segera dibawakan. Maaf jika terlalu lama. Maafkan kakangmu yang sering membuatmu kecewa, namun percayalah aku sangat mencintaimu. Suatu saat, kan kupersembahkan sejuta senja indah untukmu. Lupakan senja terburuk kemarin. Hapuslah kesedihanmu. Sampai bertemu lagi, Nabila.

Advertisements