Ternyata surat dalam botol kutek bekas itu benar-benar terlempar ke selat Bosphorus. Tenggelam bersama air birunya yang cantik diliputi camar-camar pencari ikan.

Terimakasih Nandang, seorang hafidz Qur’an yang pada tahun 2014 lebih dulu terbang ke Turki. Masih ingat kala itu, sebelum İa berangkat, aku menitipkan sebotol surat untuk Bosphorus, lengkap bersama kertas bertuliskan undangan untuk diriku agar dapat berkunjung ke Istanbul, ke Selat Bosphorus, ke Masjid Biru, ya intinya ke Turki.

Semuanya terjawab pada 2017. Alhamdulillah, aku kini dapat menginjakan kaki di Istanbul. Sebelum menempati tempat belajar di Manisa, İzmir aku bersama rombongan berkesempatan berkunjung ke sebuah asrama di Belikesir. Ada sekitar 12 pelajar Indonesia disini, dan.. termasuk Nandang. Pertama bertemu dengan Nandang, dalam benakku sama sekali tak terlintas tentang botol kecil berisi surat tiga tahun lalu.

Kami dijamu makan malam yang enak, lengkap dengan çorbası sebagai appatizer. Setelah makan, beberapa gelas çay tersaji beserta kudapan khas Turki yang rasanya sangat manis, yaps Baklava!

Saat sedang asyik menyantap kudapan yang mirip martabak telur Indonesia versi manis tak terkira itu, Nandang tiba-tiba teringat dengan surat dalam botol yang kutitipkan tiga tahun yang lalu. Ya, suratku untuk Selat Bosphorus, surat yang kugulung-gulung dan kemasukan dalam botol kaca kecil, kalau tidak salah bekas kutek (pacar pewarna kuku). 

Ia telah melemparkan surat dalam botol dariku untuk Bosphorus. Terlempar ke selat menakjubkan itu, selat ditengah kota Istanbul, selat yang memisahkan dua benua, Asia dan Eropa.

Noviyan, seorang hafidz dari İndonesia rekan Nandang pun membenarkan aksi terlemparnya suratku kalau itu. İa menjadi saksi bahwa Nandang telah benar-benar menyampaikan suratku untuk Bosphorus.

Ah.. sayang sekali aku tak ingat dengan detail apa tulisan didalamnya. Yang jelas, samar-samar aku berusaha mengingat, kurang lebih tertemukan kata-kata ini dalam memori:

“Hai Bosphorus, aku pengagummu dari Indonesia, negeri jauh di Timur. Percayalah aku akan segera mengunjungimu. Jika kau inginkan aku datang, InshaAllah kita akan bertemu. Tunggu aku ya, tunggu aku!”

Dan kini, mimpi itu menjadi nyata. Bosphorus ternyata membaca suratku, dan Ia mengundangku untuk datang. Ah Bosphorus, aku merindukanmu :). Sampai bertemu lagi.

Advertisements