Sebuah cerita dibalik sebuah nama.
Bukan hal baru memang jika guru-guru di Turki senang memberikan nama-nama baru untuk muridnya. Bukan tanpa alasan, nama-nama murid yang masih tidak memiliki arti, susah pengucapan, ataupun bukan nama islami membuat guru-guru di Turki memberikan nama yang pas. Selain sebagai doa, nama juga mencirikan seseorang agar mudah diingat, mudah dipanggil, dan mudah dikenali.
.
Hari ini namaku menjadi dua suku kata. Ya, Orhan Sevinç. Akan kuceritakan bagaimana nama-nama itu kini kusandang. Selalu ada sejarah dibalik sebuah nama. Selalu ada cerita di setiap peristiwa.
Begini…
Sevinç, kala pertama aku dengar nama itu ketika salah satu guruku, Abi Sefaat (yang juga seorang Ikhwan setia dan juga hafidz Qur’an) masuk ke ruang kelas tiba-tiba, menanyakan kabar kemudian menanyakan nama satu persatu.
Tiba saat giliran ku, kusebut namaku Surur. Tapi Abi Sefaat menanyakan lagi, ‘Türür?’,
kubilang ‘hayır, benim adım Surur‘ (bukan, namaku Surur),
kemudian beliau bertanya lagi ‘Turur?’,
kubilang ‘hayır‘ (bukan) dan ku eja menggunakan alfabeth Turki ‘se-u-re-u-re
Sontak beliau begumam ‘ha! Surur. Arapça. Ama Türkçe manası Sevinç‘ (Ha! Surur. Bahasa Arab. Tapi dalam bahasa Turki bisa disebut Sevinç’.
Mataku terbelalak mendengar kata sevinç, nama yang bagus pikirku. Aku mencari di kamus saku Turki-İndonesia karangan Cumhur Çil, Astri K, dkk. Dan arti kata sevinç ternyata sangat cocok dengan arti namaku, Surur.
Sevinç, -ci  is  kegembiraan, kebahagiaan.
Dalam hati aku bergumam, ‘nama yang bagus’. Teşekkürler Abi. Oh iya, Abi Sefaat ini juga telah beberapa hari sebelumnya memberikan hadiah padaku, yakni sebuah celana bahan warna hitam. Awalnya celana tersebut begitu kebesaran, namun dengan berbaik hati ia mengantarkanku ke tukang jahit dekat Celal Bayar Üniversitesi.
Sevinç, semoga menjadi doa bagiku di tanah perantauan, tanah menuntut ilmu, tanah para syuhada, untuk senantiasa memberikan diriku juga sekitarku kebahagiaan dan kegembiraan seperti Surur. Amiin.
Satu lagi cerita mengenai nama baruku ‘Orhan‘. Cerita unik bermula dua hari setelah ‘Sevinç’ menjadi nama baruku. Pada saat minum çay (kebiasaan unik orang Turki) suatu sore di ruang tamu, Ali (anak pimpinan Manisa Kulliesi Yurtta) menanyakan satu persatu nama-nama kami murid-murid Indonesia. Beberapa ia berikan nama baru, ada Sevban, Recep, Osman, dan Fatih. Tiba saat giliran ku, kutulis pada sebuah kertas nama baruku Sevinç, tetiba Mehmet Amca yang sedari duduk dengan seorang tukang cat menyeletuk bahwa Sevinç kurang cocok untuk diriku. İa kemudian memberiku nama baru, ‘bagaimana kalau Orhan saja, lebih bagus’. Tetiba paman tukang cat (kalau tidak salah namanya Panak Bey) menyeringai bahwa sevinç nama yang bagus. Panak Bey bilang, ia punya anak lelaki dan keponakan lelaki yang bernama sevinç.
Namun Mehmet Bey tidak mau kalah, ia bersikukuh memberikan nama ‘Orhan’ padaku, begitupun Panak Bey lebih tidak mau kalah lagi untuk menamaiku ‘Sevinç’ saja.Melihat keadaan yang begitu ribut, aku lantas berinisiatif angkat bicara. ‘Oke, bagaimana kalau namaku Orhan Sevinç, dua-duanya nama yang bagus, ya digabungkan saja, bagaimana?’
Keadaan beberapa saat hening.
Dan, akhirnya mereka setuju. Ah ternyata, aku baru ingat bahwa Orhan adalah nama seorang penulis mahsyur asal Istanbul yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan Nobel dalam bidang sastra. Orhan Pamuk, bukunya berjudul ‘Istanbul: Kenangan sebuah kota’ yang kubeli dari Toko Buku Gunung Agung Arion Mall beberapa tahun lalu. Semoga saja nama baruku menjadi sebuah doa yang mustajab. Ya, ‘Orhan Sevinç; Penulis mahsyur penebar kebahagian’. Amiin.
Manisa, 15 Maret 2016
Advertisements