Sepuluh hari berturut-turut asramaku mengadakan bazar amal. Lahan kosong yang luas di sulap dalam beberapa pekan menjadi ‘pasar kaget’ yang meriah. Beragam makanan, minuman, barang-barang, baju, tas, sepatu, sayuran, bahkan arena permainan anak berupa trampoline ada di bazar yang diberinama Büyük Kermese 2017, Mimar Sinan Kulliesi.

Kami (red:Muhajir) kedapatan diberi tugas untuk hizmet beberapa hari. Ada yang ditugaskan di tempat makan keluarga (Aile Bölüm), di tempat makan utama (Orta Bölüm), tempat piring-piring (bulaşık), serta tempat panggang döner, kebab, Iskandar, tantuni, tavuk izhara dan sebagainya (ızgara).

Aku pribadi bersama beberapa rekan lainnya ditugaskan di Orta bölüm. Suatu hal yang hingga saat ini masih terngiang bahwa jobdesk yang kulakukan tak jauh beda ketika beberapa tahun lalu (masa SMK) bekerja paruh waktu sebagai FNB baik di X.O Resto Suki and Dimsum, KFC, Resto Angke, dan Waterbom Jakarta. Ah masa-masa itu, terkadang rindu dan sedih lebur jadi satu. Hanya hati yang dapat merasakan betapa terkadang masa lalu membuat perasaan sulit ditebak, sulit dikendalikan, sulit dimengerti. Entahlah, yang jelas, masa lalu akan terus tersirat dalam ingatan meski terkadang kita tak terlalu menginginkannya untuk hadir kembali dalam memori.

Büyük Kermese ini juga diikuti oleh beberapa asrama se-Manisa. Salah satunya yakni Asrama Muradhiye yang di dalamnya terdapat sekitar lima puluhan mahasiswa dari Universitas Celal Bayar (CBÜ).

Pada beberapa kesempatan, kami saling berkenalan. Mereka ramah dan terbuka. Mahasiswa-mahasiswa S1 yang sebagian berasal dari kota lain seperti Konya, Avion, Istanbul, dan Izmir. Ada salah seorang yang berbeda, namanya Bahtiyar. Ia berkewarganegaraan Kirgistan, fasih berbahasa Inggris. Ketika berbicara dengannya, rasanya sungguh suatu hal yang tabu berbicara menggunakan bahasa Inggris di tanah Turki. Bahkan seringkali kata-kata bahasa Turki yang terucap. Ternyata Faris BQ dalam bukunya yang berjudul The Letters from Turkey yang kubaca beberapa waktu lalu ketika masih di Indonesia membuatku setuju kali ini. Ya, Ust Faris mengeluhkan orang-orang Turki yang minoritas tahu bahasa Inggris. Alhasil, bahasa Inggris yang selama ini menjadi gacokan mulai tercampur aduk dengan bahasa Turki yang sedang dipelajari.

Di Muradhiye, sayang sekali tidak ada mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Melihat kehidupan mahasiswa S1 yang begitu berbeda, terutama ketika mengenal Emra (Si penjaga Ayran mengalir di sudut bazar) aku jadi rindu masa-masa S1 di Indonesia. Bukan tanpa sebab, masa-masa inilah dimana kebebasan dijunjung setinggi-tingginya, semua kemauan menjadi tolak ukur sebuah perilaku dan tindakan. Ah lagi-lagi, rindu.

Beberapa hari terakhir, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri, tentang pertanyaan yang selama ini menggantung di pikiranku, ya masa sama sekali tidak ada orang Indonesia di Kota Manisa ini? Ku putuskan untuk menghubungi Hida, salah satu mahasiswi Ege Üniversitesi, di Kota İzmir. Melalui akun Instagramnya aku menghubunginya dengan harapan PPİ (Persatuan Pelajar Indonesia) Izmir dan Manisa masih satu naungan. Ternyata memang benar, ada dua orang mahasiswa Indonesia di Celal Bayar yang masuk PPI.

Singkat cerita, aku mengenal Adhari. Mahasiswa S1 semester akhir di CBU fakultas Fen ve Edebiyat, jurusan Sastra Inggris. Kami berkontak melalui WhatsApp. Hari lelaki yang ramah. Umur kami sepantaran dan sama-sama menggilai dunia sastra. Namun sayang sekalinya aku menemukan orang Indonesia di Manisa, dia sudah mau lulus beberapa Minggu lagi. İngin rasanya membawakan karangan bunga di hari bahagianya. Mengingat orang tua Hari juga dia bilang tak akan datang untuk prosesi wisudanya. Namun entahlah, aku bisa atau tidak nanti. Karena hari wisudanya jatuh di saat weekdays.

Mengenal Hari seperti mengenal petualang yang tangguh. Membaca postingan demi postingannya di blog pribadi Hari http://www.adharibroader.blogspot.com rasanya seperti menjelajahi Turki dan beberapa negara-negara Eropa lainnya. Empat tahun penuh di Turki selain sudah mengunjungi beberapa kota besar seperti Ankara, Adana, Gazieantep, Denizli, İstanbul, dan banyak lagi Hari juga pernah mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke Romania serta mengikuti tour keliling Eropa seorang diri. Ah. Aku makin larut dengan gaya tulisan nya yang khas. Pria asal Aceh ini telah begitu matang dalam hal literasi dan sastra. Aku iri. Ya… İtu yang positif pastinya. Sesekali aku membandingkan blognya dengan blog pribadiku. Ah betapa minder. Namun tetiba Hari mengatakan bahwa ia juga telah blog walking ke Londfesh.com dan menyukai postingan-postingan ku.

Masuknya aku ke grup Celoteh İzmir-Manisa membuat aku memiliki banyak kenalan dari Izmir. Ternyata ada sekitar 50 orang lebih di PPI İzmir-Manisa ini. Aku jadi semakin baper.

Malam ini. Rasanya sungguh harus diceritakan pengalaman rasa yang begitu sulit diungkapkan. Jadi, besok hari Sabtu, PPI Izmir mengadakan acara sekedar piknik dan membicarakan sedikit rencana Musyawarah Tahunan. Hari mengajakku, namun entahlah besok aku sangat sibuk untuk acara Kermes dua hari terakhir. Sejujurnya aku ingin sekali datang. Mengenal, dan menjalin silaturahmi dengan saudara-saudara setanah Air di Izmir.
Kalau bukan sekarang, InshaAllah dipertemukan di suatu hari yang Allah telah tentukan. Salam rindu dari Manisa. Hayırlı geceler arkadaşlar.

Advertisements