Mungkin langit timur tengah sudah amat hafal dengan tatapanku tiap sore. Langit mana lagi yang belum kulemparkan beban rindu yang terus menerus berhembus?

Musim semi sebentar lagi berganti.

Namun rindu tetaplah rindu. Kurasa, ia akan terus bersemayam dalam kalbu sehebat apapun kucoba tuk lunasi.

Aku tak heran. Kenapa rindu amat sangat mudah ditemui. Di mana-mana.

Pada dahan pohon-pohon anggur. Bersama kabut tipis pagi-pagi. Di antara biji-biji pinus yang jatuh. Di setiap tetes lembut hujan pada jalanan Kota Manisa. Bahkan di piring-piring setiap aku akan makan.

Rindu tidak pernah mau tahu. Dimana dan mengapa. Ia hadir dan terus menari tanpa peduli.

Oh Rinduku.

Istirahatlah. Tenang sedikit saja. Sebentar saja. Jangan kau terus menerus datang tanpa belas kasih. Biarkan sejenak saja ku lewati sore dengan hela napas yang dalam, panjang, dan damai.

Jangan hadir jika kau temui ketidaksiapanku. Hadirlah ketika aku sudah siap. Sudah menyelesaikan apa-apa yang telah kumulai. Apa-apa yang sedang kupersiapkan disini. Apa-apa yang kukerjakan tanpa kehadiranmu. Seharusnya. Beri sedikit saja untukku jeda.

 

Istirahatlah.

 

Manisa, 14 Juni 2017 (Ramadhan Hari ke 19 di Turki).

Advertisements