Berkelanalah, merantaulah. Tersesat akan membantumu menemukan diri sendiri.

Ini bukan pertama kalinya aku menjalani ramadan di luar negeri. Dua tahun lalu, pada Juni 2015 aku menghabiskan setengah bulan di Bangkok dan beberapa hari di Kuala Lumpur. Kala itu, Summer Camp NIDA memang dilaksanakan bertepatan pada bulan puasa. Tentunya, cerita dan pengalamannya pun berbeda.
Ketika di Bangkok, suasana ramadan sama sekali tidak terasa. Di jalanan, di pusat belanja, bahkan di area kampus, semuanya tidak ada ciri khusus yang menandakan adanya bulan ramadan. Cafe dan restoran tetap buka di siang hari, buah-buah, minuman segar, makanan ringan tetap tersebar di pinggiran jalan. Dan parahnya, rekan-rekan camper yang puasa terpaksa banyak yang batal saat melakukan tour ke Grand Palace karena cuaca yang begitu terik menyengat, ditambah kerongkongan terasa kering mencekik.

Oke, pada kesempatan lain aku akan menceritakan pengalaman ramadan ku di Bangkok dan Kuala Lumpur dengan detail. Namun kini, izinkan aku cerita tentang ramadan di Turki 🙂
Aku bersyukur kini disini, di Turki. Negeri dengan bendera warna merah bergambar bulan dan bintang putih yang ikonik. Pengalaman baru banyak kutemukan disini, terlebih saat menjalani ramadan.

Sebagai negara dengan penduduk hampir seratus persen beragama Islam, Turki memang punya kesan yang luar biasa pada saat ramadan. Ramadan disini terasa begitu kentara dan pekat akan kegiatan-kegiatan keagamaan. Berikut adalah hal-hal menurutku menjadikan ramadan di Turki begitu berkesan.
1. Waktu puasa yang panjang

23617d64a1bf0b13f3a02e3ebcea74d2

Secara geografis dan memang bertepatan dengan musim semi menjelang musim panas, menjadikan siang hari di Turki lebih panjang dari waktu malamnya. Kami mulai menyantap sahur pada pukul 03.00 dan berbuka pukul 20.30. Ya, kira-kira 17 jam! Biasanya di Indonesia hanya 12 sampai 13 jam. Awalnya memang terasa begitu menyiksa, namun perlahan aku mulai mengikuti ritmenya.

2. Santap sahur yang aneh

PhotoGrid_1493241031183

Aku tinggal di asrama Mimar Sinan, setiap sahur aku selalu kecewa. Ya, kebiasaan disini sahur hanya pakai roti, selai, tomat, timun, dan teh (makanan remeh-temeh yang biasanya dipakai untuk kahvaltı/sarapan. Syukur-syukur jika ada buah, seperti yeni dünya, kirash, portakal, ataupun karpus. Tapi bagi perut Indonesia, hehe, ini belum dikatakan sahur. Orang-orang Turki tidak terbiasa makan berat setelah bangun tidur, itu sebabnya mereka tidak makan nasi ketika sahur. Oke, untuk mensiasati hal ini, aku dan beberapa teman Indonesia meminta menu tambahan yaitu nasi putih atau setidaknya çorba (bubur). Alhamdulillah dikabulkan, meski awalnya orang-orang lokal disini melihat begitu aneh, namun setelah terbiasa mereka memaklumi.

3. Wajib tidur pagi atau siang

64tidur-siang

Karena siang yang begitu panjang dan malam yang begitu singkat, akhirnya jalan keluarnya yakni mengadakan program wajib tidur pagi/siang. Biasanya kelas dimulai pagi-pagi jam 7 atau 8, namun sepanjang ramadan kelas dimulai pukul 10 pagi. Syukurlah, ini begitu membuatku merasa tidak berat-berat banget untuk menjalani ramadan disini. Paling tidak, dalam sehari setidaknya ada waktu istirahat dengan total 6 jam tidur.

4. Tarawih dan segala formasinya

Resim_1342683545

Jujur, aku rindu suasana shalat tarawih di Indonesia. Rindu suara anak-anak bermain petasan, berlarian, sabet-sabet sarung, bisik-bisik berisik dari barisan ibu-ibu, serta jeritan anak-anak kecil. Belum lagi, aku bisa beli batagor atau somay selepas tarawih untuk dinikmati sepanjang jalan dari masjid menuju rumah sambil bercengkrama dengan teman-teman dan sanak saudara.

Tapi disini, tarawih seperti shalat biasa pada umumnya. Kupikir, tidak berbeda jauh seperti shalat Jumat. Dan hal istimewanya adalah ada tiga golongan dalam shalat tarawih dan ketiganya terpisah tempat lumayan jauh. Pertama, tarawih khusus khatam 1 Qur’an, jadi setiap malam sang imam membaca 1 juz dalam shalat hingga hari ke 30 selesai 30 juz. Kedua, tarawih khusus untuk laki-laki, dan yang ketiga untuk perempuan dan anak-anak. Semuanya terpisah dan begitu tertata.

Meski begitu, tarawih di Indonesia tetap menjadi kesan paling bahagia sepanjang ramadan. Momen yang tak tergantikan.

5. Menu buka puasa

images (9)

Ini adalah hal paling krusial. Aku tak menemukan kolak pisang, gorengan, lontong isi, es buah, ataupun timun suri disiram sirup marjan. Berbuka puasa meskipun menu yang dihidangkan cukup banyak, namun entah semuanya terasa hambar dan aneh di lidah ini. Ada salad berlumur yougurt, buah zaitun hitam, ıspanak tumbuk, dan semua-semua yang masih terasa asing. Namun aku sedikit tertolong dengan menu utama. Biasanya menu utama tidak jauh-jauh dari daging (sapi/kambing) dan ayam. Tatlı (dissert) disini juga tak mengecewakan, dan satu hal lagi yang menjadi favorit adalah Osmanlı serbest, minuman segar dan dingin peninggalan nenek moyang Turki dengan cita rasa yang khas terbuat dari bumbu-bumbu khusus.

6. Libur panjang

summer_2128664b

Anak-anak sekolah dari ana okul, ilk okul, hingga lise (TK sampai SMA) memiliki waktu libur yang panjang saat ramadan. Mungkin salah satu sebabnya libur tersebut dirapel dengan libur tahunan yakni Summer holiday. Bayangkan, setidaknya tiga bulan mereka tidak berangkat ke sekolah. Namun tetap saja, kegiatan-kegiatan yang lakukan saat liburan juga beragam. Ada yang memilih untuk pesantren kilat, mengikuti kelas olahraga, kelas musik, atau untuk lise (anak-anak SMA) mereka memilih untuk bekerja mengumpulkan uang selama liburan. Di Indonesia libur ramadan setidaknya dua minggu cukup kan hehe.

Mungkin itulah beberapa hal yang bisa kubagikan perihal suka-duka menjalani ramadan di Turki.

Semoga İdul Fitri di Turki beberapa hari lagi penuh kesan yang luar biasa. Salam rindu untuk Tanah Air.

 

Manisa, H-5 Lebaran-2017.

Advertisements