Pernahkan kamu merasa waktu mendadak lenyap, tapi bumi tetap berputar?

Pernahkah kamu merasa tidak dimana-mana, sekaligus berada dimana-mana?

 Dan pernahkah kamu tidak berkata-kata, tetapi kamu berbicara?

(Supernova: The Knight, the Princess, and the Falling Star)

Aku pernah bermimpi untuk kuliah di Belanda. Menyusuri museum-museum exotic baik di Leiden atau Amsterdam. Memetik beberapa tulip oranye yang kemudian kukeringkan hingga membawanya sebagai souvernir ke Indonesia. Bukan tanpa sebab, negeri kincir angin itu telah berhasil membuatku jatuh hati. Entahlah apa sebabnya, namun yang jelas Belanda memiliki tempat tersendiri di hati ini. Aku yakin suatu hari nanti, impianku yang satu ini bukan sekedar harapan kosong. Aku harus benar-benar mewujudkannya.

Ketika semester tujuh di penghujung perkuliahan bachelor-ku di UNJ, program fall winter student exchange ke Korea Selatan satu langkah lagi berhasil kudapatkan. Aku tak pernah menyangka akan ke negeri ginseng itu dalam waktu dekat. Namun semuanya gagal, ketika beasiswa-ku di kampus mengharuskanku lulus tepat waktu -empat tahun. Korea Selatan, Seoul, hanya mimpi. Berkas-berkas keberangkatan yang telah kuurus dan hanya tinggal meminta persetujuan pihak rektorat, akhirnya terlupakan dan tertimbun dengan kertas-kertas penelitian skripsiku.

Dan kini, ketika aku flashback ke belakang untuk menatap mimpi-mimpi terdahulu yang sempat terlintas. Tuhan memberikanku jawaban yang terbaik. Dia pilihkanku Turki untuk menjawab keinginananku untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Negeri yang mungkin tak kalah exotic dari Belanda, dan jauh lebih anggun dari Korea. Ya, negeri yang punya sejarah panjang tentang kejayaannya di masa lalu. Tentang kemenangan, perjuangan, darah, dan air mata. Negeri seribu menara, dengan ribuan masjid yang tersebar berdiri kokoh di tiap sudut kota. Negeri dengan kepak sayap albatros yang indah.

Berbicara jarak, Turki dan Indonesia setidaknya terpisah 9.000+KM, 5000 miles. Dengan airplane, menghabiskan waktu dua belas jam jarak tempuh. Mungkin dengan balon udara butuh waktu tiga ratus jam lebih untuk sampai.

Berbeda waktu dengan WIB yakni empat jam setengah. İtu artinya, jika di Indonesia pukul 06.00 pagi, di Turki baru pukul 01.30 dini hari. Musim dan temperatur udara pun berbeda.

Jujur, aku rindu hujan.

Sepanjang bulan Juni, hujan hanya turun sesekali. İtupun tidak lebat, hanya bulir-bulir ringan dan halus yang turun dari langit Kota Manisa. Sesekali pelangi muncul dari balik bukit, dan memberikan sebuah senyum bagi hati-hati yang didera rindu~

Tentang jarak dan waktu, adakah yang lebih terwakili perasaannya selain ingin bertemu? Selain ingin berbagi cerita, selain ingin menikmati rasa, dan selain ingin mencurahkan cinta?

Ah hidup. Kau terlalu humoris.

_20170626_003319

 

(Manisa di penghujung bulan Juni, pukul 00.23 dinihari. Di ruang teh asrama bersama sepotong baklava dan gelas sisa kopi beserta ampasnya).

 

Advertisements