Mungkin, bagi beberapa orang berjalan adalah sesuatu yang menyebalkan, melelahkan, dan tidak menarik. Tapi, cobalah untuk menukar-balik stigma tersebut. Aku membuktikannya.

Entah sejak kapan aku terbiasa merasa bahagia saat berjalan. Bukan berjalan dalam rumah, tapi berjalan-jalan menyusuri trotoar dari sekedar menuju sekolah, mencari sarapan atau makan malam, hingga pergi ke tempat bekerja.

Berjalanlah, bahagialah.

Hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil dan remeh. Hal-hal menakjubkan pun begitu, dimulai dari hal sederhana. Sama seperti berjalan. Jika selama ini tak menyadarinya, belum terlambat. Resapi, rasakan, dan nikmati.

‘Salah satu hal yang membuatku sangat bahagia adalah saat kutelusuri jalan menuju sekolah…’

Kata-kata tersebut adalah salah satu status facebook-ku saat SLTA. Dan kini, aku selalu ingat status itu dengan baik terutama saat sedang -berjalan.

Aku jadi teringat sebuah kejadian beberapa tahun silam, perihal berjalan. Entah awalnya membahas apa, namun tetiba percakapan ini menyeruap di udara. Menjadi topik perbincangan kami berdua yang tengah berjalan syahdu, sore itu. Kami berdua, aku dan -Mawar- salah satu teman perempuanku (read-pacar^).
___________________________

Jl. P. Tubagus Angke, 2010

“Maaf ya, kita harus capek-capek jalan kaki. Andai aja, kalau aku diizinin untuk bawa motor sama Bapak, pasti nggak akan bikin kamu kecape’an gini…”

“Hmm… Nggak apa-apa kok” Mawar menarik napas dan menatapku dengan tersenyum.

“Yakin nggak apa-apa? Kamu emang nggak capek apa? Aku aja capek..”

Mendengar pertanyaanku tersebut, Mawar kemudian diam sejenak. Melipat bibirnya kedalam, kemudian mengusap keningnya perlahan.

“Kalau ditanya capek, ya capeklah. Tapi jangan dirasa. Disyukuri aja. Kamu tau nggak? Banyak orang di rumah sakit yang harus pake kursi roda karena nggak bisa jalan. Malah ada yang lebih parah lagi, nggak bisa ngapa-ngapain. Cuma bisa tiduran di ranjang”

Aku tersentak.
Dalam hati, aku merasa kurang bersyukur.

Langkahku terhenti. Mawar yang berjarak beberapa langkah didepanku, seketika menoleh dan bertanya.

“Kenapa?”

Aku melanjutkan langkah. Mengimbangi langkah Mawar.

“Nggak apa-apa…” Jawabku terbata. Diam sejenak, kemudian melanjutkan.

“Hmm, makasih ya. Udah diingetin. Aku kayak merasa ditampar. Rasanya kurang bersyukur akhir-akhir ini. Oh iya, jadi inget sebuah cerita dari buku Chicken Soup yang pernah aku baca. Cerita penuh hikmah tentang hubungan ‘berjalan’ and ‘bersyukur’ juga.

“Gimana-gimana? Coba ceritain. Jelasin…” Mawar penasaran.

“Ada sepasang kekasih, dalam sebuah mobil. Dua-duanya saling diam. Melemparkan pandangan ke luar kaca jendela mobil. Melihat orang-orang lalu-lalang di trotoar. Berjalan, bercengkrama, gembira”

“Terus?” Mawar mendengar ceritaku dengan seksama.

“Di saat yang sama, ada seorang bapak-bapak naik motor. Tepat di belakang mobil sepasang kekasih tadi. Dalam pikiran bapak-bapak itu, betapa senangnya kalau ia naik mobil, tidak kepanasan, tidak kehujanan, nyaman, dan tenteram.

Di salah satu sudut gang depan pertokoan, seorang ibu penjual kue melihat motor-motor yang berlalu-lalang di jalan raya. Berharap ia bisa punya motor, karena sudah sangat lelah menjajakan kue dengan sepeda…”

“Aku ngerti!”, Mawar tiba-tiba saja menyelak ceritaku.

“Ngerti apaan? Ceritanya belum selesai …”

“Iya, intinya manusia emang nggak pernah puas. Yang naik sepeda pengen naik motor, yang naik motor pengen naik mobil, dan yang naik mobil…”, Mawar menggantung kata-katanya.

“Pengen jalan kaki. Karena macet!” Seruku mantap.

“Oh… Jadi dua orang yang di dalem mobil tadi lagi liat keluar, ke orang-orang yang lagi jalan karena kejebak macet yaa?”

“Nah..iya!”

Intinya, coba saja kalau rantai iri hati tersebut diputus dengan satu kata yakni ‘bersyukur’ tentu semuanya akan membuat hati masing-masing menjadi nyaman karena sudah merasa cukup atas apa yang dipunya.

“Oh iya, tadi yang di mobil jangan-jangan lagi liatin kita berdua jalan ya…?”, Mawar berkelakar.

“Wkk..bisa jadi! Hihi”

Sore itu, kami berjalan dengan riang gembira dari biasanya. Sebuah hikmah sederhana di jalanan sepulang sekolah.

 

Berjalanlah, bahagialah…
Manisa, 13 Juli 2017

images (1)
Ilustrasi

Sumber ilustrasi: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?

Advertisements