Air putih itu sehat. Jika kebutuhan air dalam tubuh terpenuhi dengan baik, maka metabolisme tubuh akan berjalan teratur sesuai ritmenya. Banyak orang mengalami masalah klasik tentang cakupan air dalam tubuh. Bukan tanpa sebab, rutinitas yang berlebih, kurangnya perhatian cukup untuk minum, serta hal-hal lain seperti sumber persediaan air yang cukup pun menjadi faktornya.

Sepertinya masalah tersebut juga menimpa diriku baru-baru ini. Di asrama Mimar Sinan Manisa Kulliesi, ada hal unik kutemui (mungkin kebiasaan ini juga berlaku bagi orang Turki pada umumnya). Bahwa, jika kau makan dengan orang Turki, entah sarapan, makan siang, ataupun makan malam-amat sangat jarang ditemukan air putih tersaji di meja makan.

Lain halnya di Tanah Air yang mewajibkan air minum menjadi hal pokok dan mendasar dalam setiap santapan di setiap waktu. Orang Indonesia kebanyakan akan merasa tersiksa apabila menyantap hidangan tanpa adanya air, khususnya air putih. Orang-orang di Turki lebih memilih çay (sebutan untuk teh) dalam menemani hari-harinya. Tak tanggung-tanggung, seseorang dapat menghabiskan setidaknya tujuh cangkir çay dalam sekali obrolan. Ah Turki, panjang sekali pembahasannya apabila sudah menyinggung masalah çay, semuanya sudah terstruktur dengan kompleks hubungan antara masyarakat Turki dan secangkir çay di sore hari. Akan kubahas kapan-kapan, dan kini biarkan kulanjutkan pembahasan mengenai hikmah di dalam segelas air putih.

Dengan tidak adanya air putih pada setiap jam makan, ini membuatku tidak nyaman. Aku putar otak bagaimana caranya agar asupan air putih harianku terpenuhi dengan baik. Oke, akhirnya kutemukan ide untuk memanfaatkan tempat minum botol kaca pemberian Rose. Ia menghadiahkannya untukku saat detik-detik terakhir kali kita bertemu. Ya, di bandara Soekarno Hatta terminal 3 pada saat keberangkatanku ke Turki.

Ada ratusan wastafel di asrama. Selain untuk mencuci tangan, juga sebagai tempat berwudhu. Di Turki, jarang sekali ditemui tempat wudhu seperti di Indonesia. Bagi masyarakat disini, berwudhu di wastafel menjadi hal yang lazim.

___________________________________________

Pada suatu sore di bulan Maret 2017.

Aku berlarian mencari air minum karena terlalu banyak makan dengan sambal terasi. Sambal bawaan dari Indonesia. Maklum, awal-awal disini aku harus beradaptasi dengan makanan yang notabene masih sangat asing di lidah. Karena kebanyakan sambal, rasanya pedas sekali. Lidah panas dan menyengat.

Aku menelusuri tempat air minum dari lantai-ke lantai. Namun dari ke-lima lantai asrama-ku semua tempat air minum ‘uygur’ sedang diperbaiki. Alhasil aku tak menemukan segelas air pun untuk menghilangkan haus dan pedas yang sedemikian rupa.

Dalam kepedasan, aku mencoba berkumur-kumur pada wastafel tempat wudhu. Walau sedikit tertolong, namun rasanya tenggorokan tetap saja butuh minum. Dalam kegamanganku tiba-tiba seorang teman asrama, orang lokal (read-Turki) masuk dan juga berkumur. Aku memperhatikannya. Kemudian ia bertanya karena aku kelihatan kepedasan sekali.

Sen neden, Abi?” (Kamu kenapa, Bang)

Ne işe, sadece su arıyorum ama hiç yok” (Nggak apa-apa, cuma lagi nyari air tapi gak ada)”

Su? Ne için?” (Air? Buat apa?)

Su içiyorum için” (Air untuk saya minum)

Bak, Bu su olur ya.. iç! iç..!” (Lihat, air ini boleh ya, minum..! minumlah!)

Ha? Ciddi misin?” (Ha? Kamu serius?)

Kemudian OT (Orang Turki) tersebut mengalirkan air dari keran wastafel ke telapak tangannya, dan meminumnya langsung dari tangannya.

Aku terbelalak. Kemudian langsung melakukan hal yang sama. Berkali-kali. Ahh.. segar sekali. Aku juga menampungnya kemudian ke sebuah gelas yang kubawa-bawa.

Aku baru tahu kalau air disini bisa langsung diminum sekalipun dari wastafel atau tempat mandi. Subhanallah, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dusta kan? (QS. Ar-Rahman 13).

Ah terimakasih sebesar-besarnya untuk OT tersebut yang telah ku ketahui kemudian bahwa namanya adalah Ibrahim Doğru. Karena kepeduliannya terhadapku yang memang sedang terlihat kesusahan nyatanya mampu membawa perubahan besar. Karena setelah itu, aku tidak lagi kesusahan mencari air putih kesana-kemari.

Aku berandai-andai. Apabila dia tidak sedikitpun saja menegurku dan menanyakan ‘kenapa?’ pasti sampai detik ini pun kami orang-orang Indonesia yang tinggal disini tidak pernah tahu bahwa air dapat diminum langsung sesuka hati. Tempat air minum hanya penampung dan pendingin saja agar praktis. Lagipula, asramaku dekat sekali dengan area pegunungan yakni ‘Spil Dağ’ dan pastinya mata air jelas dari sana langsung.

Hikmah dari segelas air inilah yang menyadarkanku bahwa nyatanya, kepedulian kita terhadap seseorang entah sekecil apapun, akan berdampak besar. Kita tak pernah tahu masalah orang lain tanpa kita menanyakan apakah ia baik-baik saja. Justru mungkin kunci dari masalahnya ada di bantuan kecil kita.

Memahami sekitar sangat amat penting, setelah kita memahami diri sendiri dengan baik. Jika disekitarnya ada yang ganjil dan tidak beres, tentunya pertanyaan ‘kenapa’ harus segara ditemukan jawabannya.

Semangat menebar manfaat :).

Manisa, 22 Juli 2017

(Yatakhane 3.1)

Advertisements